Senin, 06 Februari 2012

DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

BAHAN BELAJAR MANDIRI 4
DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENDAHULUAN
Seperti anda pelajari pada bagian sebelumnya, pada hakikatnya Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) diawali dari keinginan kuat dari guru sebagai peneliti untuk
memperbaiki, memperbaharui dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang
disinyalir selalu membosankan dan menjenuhkan siswa. Metode pembelajaran
bersifat konvensional, materi pembelajaran jauh dari kebutuhan siswa, dan
kegiatan belajar berpusat pada guru, sehingga kian membingungkan apa yang
siswa inginkan. Penelitian Tindakan Kelas berupaya bagaimana memperbaiki
kinerja guru dan aktivitas siswa berusaha untuk meningkatkan keberhasilan belajar
siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berangkat dari kondisi seperti ini guru merancang kegiatan yang dimulai
dari merencanakan, mengimplementasikan, mengamati dan akhirnya
mengevaluasi serta merefleksi upaya yang paling tepat dilakukan untuk
memecahkan masalah tersebut. Tentunya masalah yang berhubungan dengan
pembelajaran yang berkaitan erat dengan keberhasilan belajar siswa.
Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini merupakan petunjuk penting bagi anda
untuk merencanakan sebuah PTK, sebab salah satu tolok ukur kualitas PTK
bergantung ketepatan dalam membuat desain PTK itu sendiri. Karena itu
bagaimana menyiapkan masalah, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah,
menyusun pertanyaan penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data, serta
menarik sebuah kesimpulan pada hakikatnya bergantung sepenuhnya ketepatan
dan fleksibelitas dari kemampuan peneliti dalam merancang penelitian.
Rencana atau desain merupakan dua hal yang seolah-olah dianggap sama
yaitu menunjukkan kerangka secara konseptual bagaimana langkah-langkah
prosedural PTK dilakukan. Rencana lebih bersifat konseptual yaitu bagaimana
peneliti merupakan melakukan kegiatan berdasarkan alur prosedur penelitian PTK
yaitu seperangkat kegiatan yang ditata secara sistematik dan runtut akan
dilaksanakan oleh peneliti semata-mata untuk mencapai tujuan penelitian/akan
tetapi desain lebih bersifat operasional yang memungkinkan peneliti melakukan
interpretasi dari hasil studi melalui analisis data berdasarkan kriteria tertentu.
PTK merupakan penelitian yang menekankan kepada perbuatan dan komit untuk
mengadakan perbaikan, keputusan, dan penentuan atas dasar pengalaman, kondisi
setempat dan lebih bersifat subjektif apa yang dialami sendiri. Sehingga PTK
sebenarnya harus menjadikan kebutuhan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Agar anda menganggap PTK menjadi kegiatan sehari-hari, upaya pertama yang
harus dilakukan adalah pahamilah konsep dasar rancangan PTK secara utuh dan
kenalilah berapa banyak penelitian tindakan kelas yang telah anda lakukan dan
laksanakan dalam pelaksanaan tugas sebagai guru. Setelah itu cobalah buat
kerangka desain PTK di sekolah anda sendiri dan yakinlah bahwa waktu dan
tenaga yang dikorbankan untuk PTK sangat berharga bagi peningkatan kualitas
hasil belajar. Coba jawab sejumlah pertanyaan ini dengan jujur: bagaimana guru
berusaha memperbaiki program pembelajarannya? bagaimana guru
memberdayakan seluruh komponen yang berhubungan dengan kebutuhan
siswanya? model pembelajaran seperti apa yang tepat digunakan untuk
mengefektifkan proses belajar? dan masih banyak lagi permasalahan dalam bidang
penelitian yang guru dapat lakukan dan tidak akan habis karena tantangan
kehidupan yang selalu berubah dan penuh tantangan.
PTK bagi guru hendaknya menjadi kegiatan sehari-hari, karena itu dalam
BBM ini anda diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep dasar membuat desain penelitian tindakan kelas
2. Menjelaskan beberapa desain model penelitian tindakan kelas
3. Menjelaskan beberapa perbedaan dan persamaan antara desain model-model
penelitian tindakan kelas yang dipilih
4. Menyusun pengembangan desain penelitian tindakan kelas
Kemampuan tersebut sangat penting bagi anda untuk mengembangkan wawasan
dan pemahaman tentang model-model desain penelitian tindakan kelas, yang dapat
menjadikan anda mampu melakukan penelitian tindakan kelas. Agar anda berhasil
dengan baik dalam mempelajari BBM ini, ikuti petunjuk belajar mempelajari
BBM ini sebagai berikut:
1. Bacalah dengan teliti bagian pendahuluan BBM ini sampai anda memahami
betul apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari BBM ini.
2. Baca sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci dan kata-kata
yang anda anggap baru. Carilah dan baca pengertian kata-kata kunci dalam
daftar kata-kata sulit pada BBM ini atau dalam kamus yang punya anda.
3. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi BBM ini melalui pemahaman
sendiri dan tukar pikiran dengan sesama rekan anda.
4. Terapkan pengertian-pengertian dari konsep dasar desain PTK secara imajiner
(dalam pikiran), lalu diskusikan dengan teman sejawat saat tutorial di kampus.
5. Mantapkan pemahaman anda melalui tutorial tatap muka langsung dan
buatkan kelompok diskusi kemudian simulasikan dalam kelompok kecil
simulasi (peer-group simulation).
KEGIATAN PEMBELAJARAN I:
MODEL-MODEL DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A. KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DESAIN PTK
Prinsip utama diterapkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dimaksudkan
untuk mengatasi dan memecahkan permasalahan yang terdapat di dalam kelas.
Karena itu pada tahap awal peneliti perlu menjajagi keadaan dan kemampuan
siswa melalui observasi. Misalkan bagaimana gambaran keadaan kelas, perilaku
siswa sehari-hari, perhatian terhadap pelajaran yang disampaikan guru, sikap
siswa terhadap mata pelajaran, kondisi media dan lain sebagainya. Jika berkenaan
dengan penguasaan materi pelajaran, peneliti perlu mengadakan tes untuk
mengetahui seberapa besar kemampuan siswa terhadap materi pelajaran tersebut.
Penjajagan kondisi awal ini sangat diperlukan untuk dijadikan landasan atau
patokan guna mengetahui adanya perubahan dan peningkatan yang terjadi sebagai
akibat dari penerapan tindakan yang dilakukan guru di dalam pembelajaran di
kelas.
Pada tahap berikutnya peneliti merancang tindakan apa yang akan
dilakukan untuk memperbaiki jika perlu meningkatkan dan mengadakan
perubahan keadaan sebagaimana yang dinyatakan di dalam hipotesis tindakan.
Coba perhatikan contoh berikut, guru berkeinginan mengubah suasana belajar
yang terkesan pasif, kaku, dan siswa diam. Hasil pengamatan guru menunjukkan
bahwa siswa akan berbicara kalau disuruh guru, akan menulis jika ditugaskan
malahan akan bergerak kalau diberi instruksi oleh guru. Kondisinya duduk rapih
sambil tangan terlipat di atas meja, pandangan mata mengarah ke papan tulis,
mencatat apa yang dikatakan guru, malahan jika guru mengajukan pertanyaan
dijawab siswa secara serentak bersama-sama (saur manuk) dan kondisi seperti ini
akan sulit menemukan ada siswa yang mau bertanya kepada guru, apalagi
membantah pembicaraan guru. Gambaran seperti ini, guru merasakan tidak
berhasil dalam proses pembelajaran dengan bukti pencapaian hasil siswa pada
ulangan harian malahan pada ujian akhir bersama prestasi mereka di bawah ratarata
pada umumnya. Ilustrasi di atas anda bisa memperkirakan, jika kondisi
pembelajaran tersebut tetap dibiarkan tidak diperbaiki, maka akan menyebabkan
masalah yang lebih besar lagi baik bagi siswa maupun guru sendiri. Disinilah
diperlukan penelitian tindakan kelas untuk melakukan perubahan ke arah yang
lebih baik, yaitu menjadikan kelasnya menjadi kelas yang hidup dan aktif seperti
siswa berani bertanya dan dapat mengemukakan pendapatnya, berani maju ke
depan kelas untuk menyampaikan materi yang disarikan dalam bahan bacaan
tanpa malu. Apa yang diharapkan dan dikehendaki guru tersebut dibuatkan
rencana tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Setelah rencana dianggap
matang, kemudian guru melaksanakan tindakan misalkan dengan memberikan
tugas kepada siswa untuk menceritakan kembali kegemarannya. Pada kesempatan
lain, siswa diminta untuk memberikan pendapat atau komentarnya tentang apa
yang dikemukakan guru di dalam kelas itu.
Peneliti mengamati perilaku dan perubahan sikap yang terjadi pada diri
siswa saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Guru membuat catatan
tentang apa yang dilakukan dan dampak dari perlakuan terhadap siswa tersebut.
Hasil pemantauan peneliti tersebut merupakan bahan untuk mengadakan
perbaikan proses pembelajaran. Guru sebagai peneliti membahas dampak yang
ditangkap dan membandingkan dengan kondisi sebelum dilakukan tindakan.
Pertanyaan penelitian dapat diajukan untuk perbaikan proses pembelajaran seperti:
benarkan perubahan yang terjadi benar-benar akibat dari tindakan atau perlakuan
yang dikenakan guru terhadap siswa bukan karena sebab lain, perubahan apalagi
yang terjadi pada diri guru sendiri, seberapa besar perubahan dan peningkatan
terjadi, apakah perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik sudah sesuai
dengan harapan, apakah masih mungkin dilakukan perbaikan lagi, bagaimana jika
dilihat dari segi efisiensi dan efektivitas tindakan apakah cukup memadai dsb.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti itu akan menimbulkan
kesadaran ketika menyusun desain penelitian tindakan kelas yang dilakukan. Jika
guru merasa belum puas terhadap hasil yang dicapainya maka guru tersebut dapat
membuat rencana baru atas dasar apa yang telah diperoleh atau masukan apa yang
telah dimilikinya. Sementara itu, peneliti dapat membuat suatu rancangan model
tindakan baru sebagai pengembangan model awal guna mendukung pencapaian
tujuan utama dari tindakan yang telah dilakukan. Perlu disadari bahwa penelitian
tindakan kelas bersifat siklus (berputar seperti arah jarum jam) dan spiral. Artinya
semakin lama kegiatan berlangsung semakin meningkat perubahan dan
pencapaian hasilnya. Proses siklus mencapai kemantapan jika guru merasakan
kepuasan terhadap apa yang diperolehnya, karena itu guru merencanakan beberapa
siklus agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Kinerja guru akan semakin
mantap ketika apa yang direncanakan dapat dilakukan yang berbentuk tindakan
yang dapat mengubah suasana pembelajaran ke arah yang lebih aktif dan
menyenangkan. Karena itu guru sebagai peneliti harus memahami berbagai model
desain Penelitian Tindakan Kelas.
B. MODEL-MODEL DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Ada beberapa macam model desain PTK yang anda harus kuasai dalam
melakukan PTK ini. Hal ini dimaksudkan agar guru kelas di SD wawasannya
menjadi lebih luas, karena dengan diketahui beberapa desain model PTK, maka
desain yang akan dikembangkan oleh peneliti akan menjadi lebih jelas dan terarah.
Sebenarnya model PTK sendiri secara orisinil belum pernah ditulis, karena modelmodel
itu untuk penelitian tindakan. Namun demikian untuk PTK model-model
tersebut dapat dipilih sebagai kerangka acuan. Apalagi PTK permasalahannya
bersifat individual, setiap guru ada kemungkinan menghadapi permasalahan yang
berbeda, maka model PTKpun tidak mesti terikat mengikuti satu model tertentu.
Model suatu penelitian pada kenyataannya dapat diikuti oleh peneliti
dengan tanpa mengadakan perubahan sedikitpun apalagi memodifikasi dengan
catatan bahwa model tersebut cocok untuk permasalahan yang anda miliki. Oleh
karena itu sebaiknya bila anda menambah pengetahuan dan pemahaman tentang
berbagai model yang ada. Dengan memahami model tersebut, maka wawasan
anda akan terbuka lebar sehingga bisa memilih salah satu model yang sesuai untuk
diikuti. Namun sebagai pengetahuan awal, seorang peneliti dapat memodifikasi
suatu desain model yang sudah ada, berdasarkan pertimbangan yang cukup
rasional. Misalkan modifikasi dilakukan karena kebutuhan situasi dan kondisi
setempat dimana penelitian dilakukan, apalagi dalam kenyataannya sekolah yang
satu berbeda dengan sekolah yang lain.
Pada BBM ini akan menyajikan beberapa desain model Penelitian
Tindakan Kelas yang akan dikembangkan oleh guru kelas. Desain-desain tersebut
diantaranya: 1) Model Kurt Lewin, 2) Model Kemmis & McTaggart, 3) Model
Jhon Elliot, dan 4) Model Hopkins.
1. Desain Model Kurt Lewin
Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau menjadi kerangka dasar dari
adanya berbagai model penelitian tindakan kelas yang lain, khususnya PTK.
Dikatakan demikian karena dialah sebagai pencetus awal memperkenalkan satusatunya
orang yang berani menampilkan gagasanya tentang action research atau
penelitian tindakan. Kurt Lewin memperkenalkan konsep pokok penelitian
tindakan yang meliputi empat komponen penting, yaitu: 1) perencanaan
(planning), 2) tindakan (acting), c) pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting).
Rencana tindakan seperti apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki,
merubah, dan meningkatkan perilaku dan sikap belajar siswa untuk dicarikan
solusi yang terbaik. Tindakan apa yang mesti dilakukan oleh guru sehubungan
dengan adanya upaya perbaikan, peningkatan dan perubahan yang diinginkan.
Mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan atau perlakuan yang dilaksanakan
atau dikenakan terhadap siswa. Refleksi atas dasar analisis kajian peneliti untuk
melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari sebuah tindakan atau
perlakuan dari pelbagai kriteria. Berdasarkan kegiatan merefleksi ini, peneliti
bersama-sama guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal.
Hubungan keempat komponen tersebut merupakan satu siklus, hal ini dapat
digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1: Desain Model Kurt Lewin
2. Model Kemmis & McTaggart
Model Kemmis & McTaggart merupakan pengembangan dari konsep
dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin seperti dijelaskan di atas. Model ini
ACTING
REFLECTING
PLANNING OBSERVING
hampir sama dengan model Kurt Lewin hanya saja komponen acting (tindakan)
dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya
kedua komponen tersebut disebabkan adanya kenyataan yang tidak dapat
dipungkiri ketika antara implementasi acting dan observing sebenarnya dua
kegiatan tapi tidak dapat dipisahkan secara tegas. Artinya ketika seorang peneliti
melakukan tindakan otomatis ia melakukan pengamatan pula karena kegiatan itu
dilakukan dalam satu kesatuan waktu secara bersamaan. Begitu berlangsungnya
suatu tindakan begitu pula observasi juga dilaksanakan. Desain Kemmis ini
menggunakan model yang dikenal sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan
rencana, tindakan, pengamatan, refleksi dan perencanaan kembali merupakan
dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan permasalahan. Permasalahan
penelitian difokuskan kepada strategi bertanya kepada siswa dan mendorongnya
untuk menjawab sendiri pertanyaannya. Semua ini dirancang saat kegiatan
difokuskan pada tahap perencanaan (plan). Pada kegiatan tindakan (act), mulai
diajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendorong mereka mengatakan apa yang
mereka pahami dan apa pula yang mereka minati. Dalam kegiatan pengamatan
(observe), pertanyaan-pertanyaan berikut jawaban siswa dicatat dan direkam untuk
melihat apa yang sedang terjadi. Pengamat juga membuat catatan lapangan
perilaku apa yang muncul dapat terekam oleh indera peneliti. Sedangkan dalam
hal kegiatan refleksi (reflect) ternyata kontrol kelas yang terlalu ketat
menyebabkan tanya jawab kurang lancar dilaksanakan sehingga tidak mencapai
hasil yang baik oleh karena itu perlu diperbaiki. Pada siklus berikutnya,
perencanaan direvisi dengan cara memodifikasi dalam bentuk apakah mengurangi
pertanyaan-pertanyaan guru yang bersifat mengontrol siswa agar strategi bertanya
bisa berjalan dengan mulus. Kemudian saat tindakan siklus berikutnya hal itu
dilakukan, dicatat dan direkam untuk melihat pengaruhnya terhadap adanya
dampak terhadap perilaku siswa. Pada tahap refleksi, ternyata siswa saat di kelas
selalu gaduh, mengingat kontrol dikurangi. Bagaimana cara memperbaikinya,
apakah dengan cara saling mendengarkan atau dengan mengajukan pertanyaan
lanjutan, pelajaran apa yang bisa menolongnya pada pembelajaran di kelas. Untuk
lebih jelasnya berikut ini dikemukakan bentuk desainnya sebagai berikut:
REFLECTIF PLAN(PERENCANAAN)
(REFLEKSI)
OBSERVE(PENGAMATAN)
ACTION
(TINDAKAN)
REFLECTIF PLAN(PERENCANAAN)
(REFLEKSI)
OBSERVE(PANGAMATAN)
ACTION(TINDAKAN)
Gambar 2: Model Desain Kemmis & McTaggart
Apabila dicermati pada bagan di atas, desain model Kemmis &McTaggart ini pada
hakikatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu
perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai
satu siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus pada kesempatan ini ialah suatu
putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Bila anda cermati bagan di atas nampak jelas, bahwa di dalamnya terdiri dua
perangkat komponen yang dakatakan sebagai dua siklus. Untuk pelaksanaannya
sesungguhnya jumlah siklus sangat tergantung pada permasalahan yang dihadapi
dan perlu dipecahkan. Andaikan permasalahan itu terkait dengan materi dan tujuan
pembelajaran dengan sendirinya jumlah siklus untuk setiap mata pelajaran tidak
hanya cukup dua siklus, akan tetapi lebih banyak dari itu, mungkin lima atau enam
siklus.
3.Desain PTK Model John Elliott
Seperti halnya desain model PTKnya Kemmis & McTaggart, desain PTK
model John Elliott juga dikembangkan berdasarkan konsep dasar Kurt Lewin.
Model ini diawali dari mengidentifikasi masalah, yang pada hakikatnya
bagaimana pernyataan yang menghubungkan antara gagasan atau ide dengan
pengambilan tindakan. Coba anda perhatikan contoh identifikasi masalah sebagai
berikut: 1) Para siswa merasa tidak puas dengan metode penilaian yang digunakan
guru kelasnya. Bagaimana kalau guru berkolaborasi untuk meningkatkan
pengukuran terhadap kemampuan siswa? 2) Para siswa hanya membuang-buang
waktu percuma di kelas. Bagaimana cara guru membawa siswa lebih banyak lagi
menggunakan waktu mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka? 3) Orang
tua siswa bersedia membantu sekolah dengan melakukan supervisi “pekerjaan
rumah”. Bagaimana caranya agar bantuan orang tua siswa bekerja lebih
produktif?.
Apa pun masalah yang akan diangkat dalam penelitian, hendaknya tetap
berada dalam lingkup permasalahan yang dihadapi guru dalam praktek
pembelajaran sehari-hari di ruang kelas dan merupakan sesuatu yang ingin di
capai serta berusaha mengubahnya atau memperbaikinya. Apabila guru dalam
melakukan pembelajaran sehari-hari merasakan ada sesuatu yang janggal atau
adanya ketimpangan dan kurang memuaskan, yang oleh peneliti juga dicermati
pada waktu orientasi atau tahapan penelitian awal penelitian sebagai peningkatan,
maka diperlukan penjelasan lebih lanjut. Misalkan, kejanggalan itu ialah para
siswa banyak membuang waktu percuma di kelas perlu deskripsi yang mendetail,
seperti: siswa yang mana yang membuang waktu percuma di kelas itu? Tugas apa
yang sebenarnya yang mereka lakukan? Pada saat-saat mana dalam pelajaran
mereka melakukannya? Dan manifestasi bentuk kegiatan apa yang mereka
tampilkan waktu”membuang waktu dengan percuma” di kelas?
Informasi yang didapat dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan menolong untuk
membedakan berbagai aspek permasalahan penelitian dan membantu ke arah
mana perbaikan pembelajaran harus dilakukan. Refleksi atau pertimbangan baik
atau buruknya atau berhasil belum berhasilnya tindakan, merupakan bagian dari
tahapan diskusi dan analisis penelitian sesudah tindakan dilakukan sehingga
memberikan arah bagi perbaikan selanjutnya. Bentuk dari model ini digambarkan
dalam alur-alur tahap penelitian yang dikenal model siklus yang bergerak dalam
spiral
Identifiksi
Masalah
Perencanaan
Tindakan I
Tindakan II
Tindakan III
Pelaksanaan Tindakan I
Memeriksa dilapangan
(Reconnaissance)
Observasi/Pengaruh
Reconnaissance
Diskusi Kegagalan dan
Pengaruhnya/Refleksi
Revisi Perencanaan
Rencana Baru
Tindakan I
Tindakan II
Tindakan III
Observasi/Pengaruh
Pelaksanaan
Langkah/Tindakan
Selanjutnya
Reconnaissance
Diskusi Kegagalan dan
Pengaruhnya/Refleksi
Revisi Perencanaan
Rencana Baru
Tindakan I
Tindakan II
Tindakan III
Pelaksanaan
Gambar 3: .Desain PTK Model John Elliott
4. Desain PTK Model Hopkins
Berpatokan pada desain-desain model PTK para ahli pendahulunya,
selanjutnya Hopkins (1993) menyusun desain yang dikenal Model Ebbutt
(Hopkins, 1993). Model ini menunjukkan bentuk alur kegiatan penelitian dimulai
dari pemikiran awal penelitian yang selanjutnya dikenal dengan reconnaissance.
Bagian ini, Ebbutt berpendapat yang berbeda dengan penafsiran Elliott mengenai
reconnaissancenya Kemmis, yang seakan-akan hanya berkaitan dengan penemuan
fakta saja. Padahal menurutnya reconnaisance mencakup kegiatan-kegiatan
diskusi, negoisasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan dan kendala
atau dengan singkat mencakup keseluruhan analisis.
Menurut Ebbutt, cara yang tepat untuk memahami proses penelitian
tindakan adalah dengan memikirkannya sebagai suatu seri dari siklus yang
berturut-turut, dengan setiap siklus mencakup kemungkinan masukan balik
informasi di dalam dan diantara siklus. Ebbutt mengakui bahwa deskripsi
penelitian tindakan ini tidak begitu rapih dibandingkan dengan para pendahulunya
dimana proses penelitian tindakan pendidikan yang ideal seperti digambarkan oleh
Hopkins (l993) sebagai berikut
Gambar 4: Desain PTK Model Hopkins
Berdasarkan beberapa desain model PTK seperti diuraikan di atas, selanjutnya
dapat diketahui bahwa desain yang paling sesuai dan cocok setrta mudah
dilaksanakan untuk PTK, yaitu desain model Kemmis & McTaggart. Oleh karena
itu, tidak ada jeleknyalah apabila dengan ini disarankan agar digunakan model
Kemmis & McTaggart untuk PTK yang akan dirancang dan dilaksanakan untuk
memperbaiki atau mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas.
Perencanaan Tindakan :
Target,Tugas, Kriteria
Keberhasilan
Implementasi Evaluasi
Menopang Komitmen
Mengatasi Problem
Cek Kemajuan
Cek Hasil
Pengambilan Stok
Perencanaan
Konstruk
Pelaporan
Audit
Ambil Start
LATIHAN
Sebagai bahan latihan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
Lakukanlah melalui diskusi bersama teman Anda agar menjadi lebih mantap
dalam memahami materi Kegiatan Pembelajaran I tentang Desain Model
Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
1. Sebutkan minimal tiga model penelitian tindakan dan jelaskan masing-masing
desain model tersebut.
2. Apakah ada persamaan antara model Kemmis dan model Elliot? Bila ada,
jelaskan hal-hal yang sama.
3. Dari keempat model, yang mana yang paling mudah: Apakah ada perbedaan
dengan ketiga model yang lain.
4. Dalam Penelitian Tindakan Kelas peneliti dapat mengikuti bentuk penelitian
tindakan yang ada atau memadukan bentuk tertentu. Bentuk penelitian yang
mana bila guru kelas melakukan penelitian sendiri untuk perbaikan kelasnya?
5. Dari beberapa bentuk penelitian tindakan yang sudah Anda pelajari bentuk
yang mana yang paling sesuai untuk penelitian Tindakan Kelas di sekolah
dasar di daerah Anda? Berikan alasan Anda?
6. Buatkan desain penelitian tindakan kelas sesuai dengan tema masalah di
sekolah dasar?
PETUNJUK JAWABAN LATIHAN
1. Model Lewin (l985), Model Kemmis & McTaggart (l988), model Elliot (l991)
dan model Hopkin (l993). Model Lewin memperhatikan alur logika penelitian
tindakan, model Kemmis & McTagart berorientasi pada spiral refleksi diri
yang dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi, serta
perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang
pemecahan permasalahan. Model Elliot mengutamakan langkah-langkah
tindakan refleksi yang terus bergulir dan menjadi sebuah siklus samahalnya
dengan model Kemmis. Model Hopkin lebih tertuju kepada waktu, hendaknya
pemecahan masalah dilakukan secara rasional dan demokratis.
2. Terdapat kesamaan antara model Kemmis dan Elliot dalam hal refleksi
tindakan antara spiral refleksi dan sistim siklus dimulai dengan rencana,
tindakan, pengamatan, refleksi sebagai satu siklus perencanaan kembali begitu
seterusnya bergantung pada permasalahan yang perlu dipecahkan.
3. Desain model PTK yang paling mudah dilaksanakan adalah model Kemmis
dan McTaggart, karena itu rancangan dan pelaksanaan PTK menggunakan
desain model Kemmis & McTaggart yang dirancang dan dilaksanakan untuk
memperbaiki atau mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas. Model
inipula dilakukan secara sistematis yaitu perangkat meliputi empat komponen
yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Keempat komponen
tersebut dinamakan satu siklus. Perbedaan dengan model lain dalam hal
tahapan atau siklus, masih ada model PTK yang lain menggunakan tahapan
ada langkah satu, dua, tiga dst.
4. Sebenarnya model mana yang digunakan bergantung pada permasalahan yang
dihadapi guru di lapangan. Namun jika untuk perbaikan pembelajaran maka
menggunakan desain model Kemmis & McTaggart yang dikenal sistim spiral
atau siklus dimana satu siklus terdiri dari: perencanaan, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut sebagai suatu
putaran kegiatan atau satu siklus.
5. Berdasarkan beberapa desain model PTK yang dapat diketahui, model PTK
yang cocok di SD yaitu desain model Kemmis & McTaggart yang dirancang
dan dilaksanakan untuk memperbaiki atau mengatasi permasalahan yang
terjadi di kelas/lapangan.
6. Tema masalah misalkan model pembelajaran inkuiri pada pembelajaran IPA,
maka desain PTK meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi
sesuai dengan keperluan desain model Kemis dan Taggar.
RANGKUMAN
Dalam upaya menambah pemahaman dan wawasan tentang Penelitian
Tindakan Kelas perlu diketahui beberapa model dan bentuk Penelitian Tindakan.
Model yang dikembangkan oleh Lewin tahun l985, Kemmis dan McTagart tahun
l988, model Elliot tahun l991, dan Hopkin tahun l993 menunjukkan banyak
persamaan terutama bila diperhatikan tahap-tahap yang ada di dalamnya. Dengan
visualisasi bagan dari model-model ini anda dapat mengkaji langkah-langkah
kegiatan penelitian tindakan dalam berbagai variasi. Namun pada dasarnya
bentuk-bentuk pengembangan model penelitian tindakan kelas meliputi
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Masing-masing model PTK
memiliki kelebihan dan kekurangan, mengingat model tersebut bergantung tepat
tidaknya menggunakan sesuai dengan masalah yang diteliti. Masing-masing model
PTK dapat dilihat perbedaan dan persamaannya. Lebih banyak persamaan dari
pada perbedaannya, terutama dalam konsep-konsep siklus dan spiral penelitian,
walaupun ditampilkan adalah alur penelitian.
Untuk memeriksa kembali apakah Anda telah memahami bahan yang
dibahas pada Kegiatan Pembelajaran ini, cobalah Anda selesaikan soal-soal
berikut di bawah ini:
TES FORMATIF
Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat!
1. Apa yang harus anda perhatikan terlebih dahulu sebelum Anda melakukan
Dalam upaya menambah wawasan tentang Penelitia perencanaan awal
penelitian tindakan kelas:
A. Tugas utama guru mengajar, penelitian tidak boleh mengganggu
mengajar
B. Langsung pengumpulan data
C. Segera menyusun hipotesis
D. Tidak perlu memperhatikan prosedur etis penelitian
2. Pada tahap awal peneliti perlu menjajagi kemampuan siswa, alat yang tepat
untuk tujuan tersebut:
A. Melakukan tes objektif
B. Melakukan tes uraian terstruktur
C. Melakukan pengamatan
D. Membuat rencana tindakan
3. Salah satu langkah kegiatan awal penelitian tindakan kelas adalah:
A. Melakukan refleksi terhadap kegiatan siklus
B. Melakukan analisis data
C. Mengidentifikasi masalah
D. Merevisi hasil kegiatan pembelajaran siklus du
4. Guru memulai mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendorong apa
yang mereka pahami, hal ini merupakan contoh dari langkah kegiatan:
A. Menggambarkan kegiatan perencanaan
B. Kegiatan pengamatan
C. Kegiatan tindakan
D. Kegiatan reflektif dan evaluasi
5. Apabila fokus penelitian adalah di bidang strategi bertanya, maka untuk
memilih siswa yang mana yang akan menjawab, guru perlu. . . .
A. Menyebut nama siswanya sebelum pertanyaan diajukan
B. Pertanyaan diajukan secara faktual
C. Pertanyaan diajukan kepada kelas
D. Pertanyaan diajukan secara spesifik
6. Spiral siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas berada dalam rentangan . . . .
A. Satu sampai tiga siklus
B. Satu sampai tujuh siklus
C. Tidak ditentukan
D. Peneliti dan mitra bersama-sama mengambil keputusan
7. Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas dihentikan apabila:
A. Peneliti memutuskan untuk berhenti
B. Keputusan diskusi bersama mitra untuk berhenti
C. Data sudah jenuh dan kondisi pembelajaran stabil
D. Para siswa sudah tidak merespon lagi
8. Para siswa merasa tidak puas dengan metode penilaian yang digunakan guru.
Pernyataan tersebut merupakan contoh dari:
A. Mengidentifikasi masalah
B. Penyusunan rencana penelitian
C. Implementasi tindakan
D. Melakukan pengamatan
9. Persamaan antara model Kemmis dan Mc.Taggart dengan John Elliot dalam
komponen.
A. Sama-sama penelitian tindakan yang mengutaman perubahan
B. Siklus kegiatan dilakukan secara berjenjang
C. Model rancangan dimulai dari kegiatan mengidentifikasi masalah.
D. Monitoring dilakukan setelah perbaikan rencana
10. Kegiatan reflecting hanya bisa dilakukan setelah melakukan kegiatan
A. Implementasi tindakan
B. Kegiatan diagnoses
C. Pengamatan
D. Perencanaan
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
PENGEMBANGAN DESAIN MODEL PTK
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tidak lagi diragukan manfaatnya bagi
guru sebagai salah satu upaya meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran
di kelas. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan pengembangan PTK, guru dapat
menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, dengan
menerapkan berbagai teori dan teknik pembelajaran yang relevan dan kreatif. PTK
merupakan penelitian terapan, guru dapat melaksanakan tugas utamanya mengajar
di kelas, tanpa harus meninggalkan siswanya di kelas. PTK juga dapat
mengangkat maslah-masalah actual yang dihadapi guru di lapangan.
Sasaran Penelitian Tindakan Kelas adalah hal-hal yang berkenaan dengan
kegiatan pembelajaran di dalam kelas, baik yang langsung maupun tidak langsung.
Tujuan kegiatan pembelajaran di kelas, guru sebagai peneliti berupaya agar siswa
memahami dan menguasai bahan yang telah diajarkan. Hasil belajar dapat secara
langsung dilihat dari segi prestasi belajar siswa. Agar diperoleh hasil yang baik,
guru sebagai peneliti tadi melakukan intervensi terhadap faktor apa saja yang
mempengaruhi terhadap hasil belajar. Intervensi inilah diwujudkan dalam bentuk
Penelitian Tindakan kelas (PTK). Permasalahan Penelitian Tindakan Kelas harus
menggambarkan kondisi yang diharapkan seperti apa dan kondisi yang terjadi saat
ini, kesenjangan itulah yang harus diperbaiki atau ditingkatkan.
Dalam perencanaan model PTK mengacu pada model Kemmis dan
McTaggart yang dikenal dengan menggunakan system spiral refleksi diri yang
dimulai dengan: rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan
kembali yang merupakan dasar untuk satu ancang-ancang pemecahan
permasalahan.
a. Rencana: Rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki,
meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap sebagai solusi
b. Tindakan: Apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya
perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
c. Observasi: Mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang
dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa
d. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil dan
dampak dari tindakan pelbagai kriteria.
Berdasarkan hasil refleksi Peneliti bersama-sama guru dapat melakukan
revisi perbaikan terhadap rencana awal sebagai titik tolak mengembangkan model
Penelitian Tindakan Kelas. Sebelum peneliti melaksanakan tindakan, perlu
menyusun langkah-langkah yang akan ditempuh, sbb.:
1. Melatih guru untuk melaksanakan penelitian sesuai dengan rancangan yang
dibuatnya.
2. Mempersiapakan fasilitas dan saran pendukung yang diperlukan di kelas
3. Mempersiapkan contoh-contoh perintah atau tugas melakukannya secara jelas
4. Mempersiapkan cara mengobservasi hasil beserta alatnya
5. Membuat skenario apa yang dilakukan guru dan apa yang dilakukan siswa
dalam melakukan penelitian tindakan yang telah direncanakan. Apabila
seluruhnya telah dipersiapkan, maka skenario tindakan tersebut dapat
dilaksanakan. Pelaksanaan ini merupakan tindakan awal atau “initial act” pada
siklus pertama dan akan diikuti dengan langkah observasi dan refleksi.
Penerapan desain atau model-model PTK seperti yang dikemukakan di atas
dapat dilakukan untuk semua mata pelajaran, terutama mata pelajaran yang
didalamnya terdapat praktek baik di kelas maupun luar kelas. Untuk itu, mata
pelajaran pendidikan jasmani, Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa dan Sastra
Indonesia, serta Bahasa Inggris juga dapat menerapkan salah satu desain ini.
Apakah yang akan diterapkan nanti model John Elliott, model Kemmis &
McTaggart, model Hopkins, model Ebbutt ataupun model yang lainnya? Hal ini
tergantung dari segi permasalahan yang dihadapi praktisi di lapangan ataupun
bergantung pada pemahaman dan kemampuan para praktisi di lapangan terhadap
suatu model PTK atau dalam menerapkan salah satu model PTK.
Yang perlu mendapatkan perhatian dalam kaitannya dengan diterapkannya
suatu model pengembangan PTK ialah bahwa terdapat langkah-langkah yang
seharusnya diikuti oleh peneliti atau guru, yaitu 1) ide awal, 2) prasurvei/temuan
awal, 3) diagnosis, 4) perencanaan, 5) implementasi tindakan, 6) observasi, 7)
refleksi, 8) laporan.
1. Ide awal
Seseorang yang berkehendak melakukan suatu penelitian, baik berupa
penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif termasuk PTK pasti diawali
dengan gagasan atau ide-ide dan gagasan itu dimungkinkan yang dapat dikerjakan
atau dilaksanakan. Pada umumnya ide awal yang melekat di dalam PTK adalah
terdapatnya suatu permasalahan yang berlangsung di dalam suatu kelas. Ide awal
tersebut di antaranya berupa suatu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Dengan penerapan PTK itu peneliti mau berbuat apa demi
suatu perubahan dan perbaikan? Tentunya perbaikan dalam proses pembelajaran
suatu mata pelajaran yang diampuhnya. Ini terjadi ketika guru di kelas memiliki
pengalaman seperti apa perbaikan yang akan diusungnya.
2. Prasurvei
Prasurvei dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang
terdapat di suatu kelas yang akan diteliti. Bagi pengajar yang bermaksud
melakukan penelitian di kelas sesuai dengan mata pelajaran yang menjadi
tanggungjawabnya tidak perlu melaksanakan prasurvei karena berdasarkan
pengalamannya selama dia di depan kelas sudah secara otomatis pasti memahami
berbagai permasalahan yang sering dihadapinya, baik yang berkaitan dengan
kemajuan siswa belajar, sarana pengajaran maupun sikap dan prilaku siswanya.
Dengan demikian, para guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya sudah
akan mengetahui kondisi kelas yang sebenarnya.Namun demikian ketelitian dan
kepekaan guru dituntut manakala berhadapan dengan bagian-bagian mana saja
dari proses pembelajaran yang sering menjadi kendala dalam rangka mencapai
keberhasilan belajar siswa. Disitulah letak permasalahan penelitian yang akan
dibahas melalui PTK tersebut.
3. Diagnosis
Diagnosis dilakukan oleh peneliti yang tidak terbiasa melakukan proses
pembelajaran di suatu kelas yang dijadikan sasaran penelitian. Peneliti dari “luar”
lingkungan kelas di sekolah perlu melakukan diagnosis atau dugaan-dugaan
sementara mengenai timbulnya suatu permasalahan yang muncul di dalam kelas.
Dengan diperolehnya hasil diagnosis, peneliti PTK akan dapat menentukan
berbagai hal misalnya strategi pengajaran, media pengajaran, dan materi
pengajaran yang tepat dalam kaitannya dengan implementasi PTK. Simpulan
semacam ini perlu dikemukakan mengingat awal tindakan sampai sejauhmana
guru memahami treatmen yang dikehendakinya bisa dilaksanakan sebagai bahan
kaji ulang pemunculan permasalahan yang akan segera dipaparkan dalam rencana
tindakan yang akan dilakukan di lapangan.
4. Perencanaan
Bagian awal dari rancangan penelitian tindakan berisi rencana tindakan
yang akan dilaksanakan untuk memecahkan masalah yang akan ditetapkan.
Kasihani Kasbolah (l999) menyarankan bahwa rencana tindakan ini hendaknya
dilakukan hal-hal sbb.: 1) Penentuan bukti yang akan dijadikan indikator untuk
mengukur pencapaian pemecahan masalah sebagai akibat dilakukan tindakan, 2)
Penetapan tindakan-tindakan yang akan diharapkan akan menghasilkan dampak ke
arah perbaikan program, 3) Pemilihan metode dan alat yang akan digunakan untuk
mengamati dan merekam atau mendokomentasikan semua informasi tentang
pelaksanaan tindakan, 4) Perencanaan metode dan teknik pengelolaan data sesuai
dengan sifat dan tujuan penelitian.
Di dalam penentuan perencanaan dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu
perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum dimaksudkan
untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait dengan
PTK. Sementara itu, perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun
rancangan dari siklus per siklus. Oleh karenanya, dalam perencanaan khusus ini
tiap kali terdapat perencanaan ulang (replanning).
Hal-hal yang direncanakan diantaranya terkait dengan pendekatan pembelajaran,
metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan peralatan
belajar, materi pembelajaran dan penilaian belajar. Perencanaan dalam hal ini
kurang lebih sama dengan apabila kita menyiapkan suatu kegiatan belajar
mengajar. Perencanaan secara operasional dalam pembelajaran biasa disebut
Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP).
5. Implementasi Tindakan
Implementasi tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu
tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya. Menyangkut strategi apa yang
digunakan, materi apa yang diajarkan atau dibahas dan media apa yang digunakan
dan sebagainya. Pada tahap ini peneliti melakukan tindakan-tindakan yang berupa
intervensi terhadap pelaksanaan kegiatan yang menjadi tugas mereka sehari-hari.
Disinilah tindakan dipahami sebagai aktivitas yang dirancang dengan sistematis
untuk menghasilkan adanya peningkatan atau perbaikan proses pembelajaran
seperti kegiatan pembelajaran lebih menarik, siswa menjadi aktif berpartisipasi,
sumber belajar termanfaatkan, materi disajikan lebih mudah dipahami dan hasil
belajar lebih meningkat. Bersamaan dengan dilakukannya tindakan, peneliti
melaksanakan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dan hasil tindakan
sebagai konsekuensi dari dari prinsip partisipatif dan kolaboratif. Setelah tindakan
dilakukan apakah akan terjadi perubahan atau peningkatan, peneliti perlu
memperoleh gambaran kondisi awal. Dari gambaran awal ini dapat ditentukan apa
yang harus diubah, diperbaiki dan ditingkatkan. Dengan diketahui keadaan awal,
maka perubahan atau peningkatan dapat diikuti dari waktu ke waktu selama
tindakan dilaksanakan. Pada akhir tindakan dilakukan pengamatan atau
pengukuran hasil tindakan.
Untuk mengetahui apakah setelah tindakan dilakukan memang terjadi
perubahan atau peningkatan, peneliti perlu memperoleh gambaran keadaan awal.
Dari gambaran awal tersebut dapat ditentukan apa yang harus diubah, diperbaiki
atau ditingkatkan kondisi pembelajaran saat ini. Dengan diketahuinya gambaran
keadaan awal sehingga perubahan dapat diikuti dari waktu kewaktu selama
tindakan dilaksanakan atau diterapkan. Kemudian selesai pelaksanaan tindakan
maka dilakukan pengamatan atau pengukuran hasil tindakan. Dari hasil
pengukuran tersebut, dibandingkan dengan hasil pengukuran awal. Jika terjadi
peningkatan berarti tindakan yang diambil tepat sesuai dengan cara pemecahan
masalah, namun jika belum sesuai dengan harapan maka diperlukan perbaikan
pada tahapan siklus berikutnya. Perbaikan akan terus dilakukan sampai diperoleh
hasil yang diinginkan. Dengan demikian tahapan siklus akan ditentukan oleh
tercapainya tujuan penelitian tindakan kelas secara optimal yang memuaskan
peneliti, guru dan kepala sekolah.
6. Pengamatan
Pengamatan atau observasi dilakukan pada semua kegiatan yang
ditunjukan untuk mengenali, merekam, dan mendokumentasikan setiap indikator
dari proses dan hasil yang dicapai baik yang ditimbulkan oleh tindakan terencana
maupun akibat sampingan. Kegiatan pengamatan, observasi atau monitoring dapat
dilakukan sendiri oleh peneliti atau kolaborator, yang memang diberi tugas untuk
hal itu. Pada saat monitoring pengamatlah haruslah mencatat semua peristiwa atau
hal yang terjadi di kelas yang dilakukan PTK. Misalnya masalah kompetensi guru,
situasi kelas, sikap dan perilaku siswa, penyajian atau pembahasan materi, daya
serap siswa terhadap materi yang diajarkan dan sebagainya.
Fungsi diadakannya pengamatan pada penelitian tindakan dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu: 1) untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan
rencana tindakan yang telah disusun sebelumnya; dan 2) untuk mengetahui
seberapa jauh pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung dapat diharapkan
akan menghasilkan perubahan ke arah yang diinginkan. Yang terpenting dari
kegiatan pengamatan adalah dapat mengenali sejak dini apakah tindakan yang
dilakukan mengarah kepada terjadinya perubahan proses pembelajaran sesuai
yang diharapkan. Dapat terjadi pelaksanaan tindakan tidak menghasilkan
perubahan apapun atau kearah yang tidak diinginkan misalkan menurunnya
kualitas pembelajaran. Hal ini bagi peneliti harus segera mencari dan menemukan
faktor penyebabnya, dan menentukan langkah perbaikan berikutnya.
Pelaksanaan pengamatan yang terpenting adalah mencari data tentang
pelaksanaan dari rancangan tindakan, karena itu peneliti harus cermat menentukan
metode, teknik dan mempersiapkan alat yang tepat agar data yang diperoleh
benar-benar sahih (valid) dan dapat diandalkan (reliabel). Hal ini berarti perlu
diusahakan agar kegiatan observasi tidak terlalu mengganggu malahan membebani
guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai pengelola proses pembelajaran
di kelasnya.
7. Refleksi
Pada prinsipnya yang dimaksud dengan istilah refleksi adalah upaya
evaluasi yang dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait dengan
suatu PTK yang dilakukan. Karena itu refleksi dalam PTK dilakukan pada: 1)
pada saat memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan, 2) ketika tindakan
sedang dilakukan, dan 3) setelah tindakan itu dilakukan. Kegiatan refleksi tidak
hanya pada terfokus pada diri guru sendiri, akan tetapi mencakup seluruh konteks
pembelajaran yang dilakukannya bahkan termasuk siswa dan lingkungannya.
Kegiatan refleksi mencakup kegiatan analisis, interpretasi dan evaluasi
yang diperoleh saat melakukan kegiatan observasi. Data yang terkumpul saat
observasi secepatnya dianalisis dan diinterpretasi sehingga akan segera diketahui
apakah tindakan yang dilakukan telah mencapai tujuan. Interpretasi atau
pemaknaan hasil observasi ini menjadi dasar untuk melakukan evaluasi sehingga
dapat disusun langkah berikutnya dalam pelaksanaan tindakan.
Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah melakukan evaluasi
terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan tindakan. Aspek penting lainnya dari
kegiatan refleksi adalah terjadinya peningkatan dalam profesionalisasi jabatan
guru. Karena salah satu indikasi guru yang profesional adalah adanya keinginan
untuk perubahan demi perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan dan
pelayanan yang diberikan pun secara berkelanjutan. Untuk keperluan ini guru
dituntut untuk berani melakukan evaluasi diri secara terus menerus dan terancana,
sehingga upaya perbaikan pembelajaran dapat terus berlanjut. Untuk keperluan itu,
guru dituntut untuk berani melakukan evaluasi diri secara terus menerus dan
terencana agar upaya memperbaiki proses pembelajaran dapat berkelanjutan pula.
Berdasarkan hasil observasin dan evaluasi tersebut, dosen atau guru
melakukan refleksi, yakni refleksi terhadap proses dan hasil tersebut akan menjadi
dasar bagi perencanaan berikutnya, tindakan tambahan yang perlu dilakukan, dan
sebagainya melalui siklus kegiatan pengajaran berikutnya. Dalam kegiatan refleksi
ini biasanya dosen atau guru melibatkan peserta didik dalam bentuk diskusi.
Berdasarkan berbagai balikan tersebut yang diperoleh saat diskusi, maka dosen
atau guru menimbang-nimbang pengalaman yang diperoleh, mana yang termasuk
dipakai dan mana yang masih perlu ditambahkan pada pengajaran berikutnya.
8. Penyusunan Laporan
Laporan penelitian PTK sepertihalnya jenis penelitian yang lain, yaitu
disusun sesudah kerja penelitian di lapangan berakhir dengan sistematika
samahalnya dengan penelitian konvensioanl lainnya.
Secara praktis, tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dapat
diterapkan oleh guru di Sekolah Dasar sehubungan dengan banyaknya
permasalahan yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
Tahapan pertama, tahap pra PTK yang meliputi: identifikasi masalah,
analisis masalah, rumusan masalah, dan rumusan hipotesis tindakan.Tahapan pra
PTK ini sesungguhnya refleksi guru terhadap permasalahan yang ada di kelasnya,
yang merupakan masalah umum yang bersifat klasikal, misalnya kurangnya
motivasi belajar di kelas, rendahnya kualitas daya serap klasikal dan yang lainnya.
Kedua, perencanaan tindakan disusun untuk menguji secara empiris
hipotesis tindakan yang ditentukan dengan mempersiapkan bahan ajar, rencana
pengajaran yang mencakup metode/teknik mengajar, serta teknik atau instrument
observasi dan evaluasi yang akan digunakan.
Ketiga, tahap pelaksanaan tindakan yang merupakan implementasi dari
semua rencana yang dibuat. Tahap yang berlangsung di kelas ini merupakan
realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah dipersiapkan
sebelumnya, dengan mengacu kepada kurikulum yang berlaku. Hasilnya
diharapkan berbentuk peningkatan efektivitas dan produktivitas keterlibatan
kolaborator untuk membantu mempertajam refleksi dan evaluasi yang dilakukan
melalui pengamatan, dan teori pembelajaran yang telah dikuasai dan relevan.
Keempat, tahapan pengamatan tindakan yang dilakukan dengan observasi
melalui alat Bantu instrument pengamatan yang dikembangkan peneliti. Hal itu
diperlukan untuk mengumpulkan data tentang pelaksanaan tindakan dan rencana
yang sudah dibuat.
Kelima, tahapan refleksi terhadap tindakan untuk memproses data yang
didapat saat melakukan pengamatan. Data yang telah didapat kemudian
ditafsirkan, dianalisis dan desintesis.
Tahapan tersebut nantinya akan membentuk sebuah siklus tersebut bias
diulang-ulang dengan adanya perbaikan-perbaikan sesuai dengan keperluan
sampai peneliti merasa puas terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kegiatan
PTK yang diselenggarakannya.
Contoh penelitian tindakan kelas dalam rangka memperjelas tahapan
jalinan kegiatan tahapan satu dengan kegiatan lainnya seperti pra PTK,
perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan dan refleksi
terhadap tindakan. Contoh ini dalam upaya perbaikan pembelajaran di kelas
dengan bentuk mengajar reflektif dalam interaksi dinamis , namun jangan
beranggapan bahwa contoh ini satu-satunya model penelitian tindakan kelas akan
tetapi hanyalah salah satu diantaranya dalam pengalaman penulis mengajar mata
pelajaran Science di Sekolah Dasar. Pembelajaran disusun dalam rancangan
kegiatan belajar mengajar yang menggunakan metode ceramah, tanya jawab,
diskusi, dan praktikum. Anda dapat mencontoh desain pengembangan PTK seperti
kasus berikut ini.
Seorang guru kelas Sekolah Dasar merasakan bahwa interaksi yang terjadi
di dalam kelas lebih dominan oleh guru. Ia ingin mengubah kondisi ini dengan
cara mencermati rancangan kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Tujuannya
adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa dengan menambah alat peraga dan
dimunculkan dialog. Dari hasil pengkajian terhadap tindakan yang telah
dilakukan, ternyata partisipasi yang lemah belum nampak. Guru tersebut
merancang lagi kegiatan pembelajaran berikutnya dengan memasukan kegiatan
memberikan motivasi dan pujian kepada siswa yang lemah. Hasilnya cukup
mengejutkan ternyata siswa yang lemah menjadi semakin aktif dalam proses
pembelajaran.
Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian motivasi dan pujian
kepada siswa yang lemah menimbulkan masalah yang baru. Anak yang cerdas
menjadi bosan karena guru banyak meladeni anak yang lemah sehingga proses
pembelajaran berjalan menjadi lambat. Hal ini mendorong bagi guru untuk
melakukan kegiatan refleksi untuk menganalisis dan mengevaluasi tindakan yang
telah diambilnya. Akhirnya guru sampai pada sebuah kesimpulan bahwa proses
pembelajaran berikutnya harus diupayakan melibatkan siswa yang cerdas.
Tindakan berikutnya siswa yang cerdas membantu siswa yang lemah melalui
kegiatan kerja kelompok.
Dalam berlansungnya proses pembelajaran tiga anak yang cerdas cukup
antusias membantu temannya yang lemah, tetapi kondisinya cukup variatif. Anak
yang cerdas yang antusias ternyata ada yang sabar, ada yang otoriter, dan ada yang
egois. Ia kerjakan tugas-tugas kelompoknya seorang diri tanpa mengikutsertakan
teman-temannya, sementara yang lain, satu anak yang cerdas berperangi malas,
sedangkan yang lainnya lagi tidak mau membantu teman-teman kelompoknya.
Pada kesempatan pembelajaran berikutnya, guru menyisipkan penjelasan
tentang pentingnya solidaritas dan sikap tolong menolong antar warga masyarakat
yang diwujudkan dalam bentuk kerja sama dan saling membantu. Yang pandai
dimisalkan sebagai mata air yang diambil terus menerus airnya, ternyata airnya
bukan habis malahan mata air tersebut menjadi semakin berkembang dan semakin
jernih. Anak yang pandai jika mau membantu temannya yang lemah
menyebabkan ia semakin cermat dan mantap pemahamannya terhadap materi yang
dipelajarinya sehingga ia justru akan semakin pandai. Ketika kerja kelompok
diadakan lagi, maka anak yang cerdas tadi telah betul-betul berubah sehingga
kerja kelompok menjadi hidup dan berubah menjadi kompetitif yang kondusif.
Dari contoh tindakan di atas, kegiatan refleksi yang berisikan penelaahan
dan perenungan dilakukan berkelanjutan sehingga kegiatan pembelajaran yang
diselenggarakan selalu dapat ditingkatkan efektivitas dan efesiensinya. Berfikir
reflektif berarti berfikir yang dilakukan secara berulang-ulang melalui kegiatan
mencermati kenyatan dan mencernanya dengan pemikiran abstrak merupakan
potensi penting bagi seseorang guru untuk memampukan dirinya berkembang
sebagai petugas yang profesional.
LATIHAN
Setelah Anda mempelajari materi dalam modul ini, Anda harus
melakukjan tugas latihan yang dirancang dari modul ini, supaya anda lebih
memperdalam pemahaman materi yang diuraikan dalam modul ini. Tugas latihan
yang harus Anda lkakukan dengan cara mendiskusikan dengan teman sejawat
Anda yaitu:
1. Jelaskan model Kemmis system spiral refleksi diri itu?
2. Jelaskan langkah-langkah pengembangan PTK yang Anda ketahui?
3. Mengapa keadaan awal pembelajaran dianggap sebagai titik tolak dimulainya
Penelitian Tindakan?
4. Mengapa tahapan kegiatan Refleksi dianggap sebagai titik akhir dari satu
siklus kegiatan?
5. Buatkan contoh salah satu desain model PTK yang dilakukan di SD?
Petunjuk Jawaban Latihan
1. Sistem spiral refleksi diri meliputi rencana, tindakan, observasi, dan refleksi
2. Langkah-langkah pengembangan desain PTK: ide awal, temuan awal,
diagnosis, perencanaan, tindakan, observasi, refleksi dan laporan
3. Kondisi awal penting diketahui karena dari kondisi awal itulah peneliti
menentukan apa yang harus diubah, diperbaiki atau ditingkatkan, sehingga
memperoleh hasil yang diinginkan peneliti.
4. Berdasarkan refleksi ini peneliti dapat mengulas secara kritis tentang
perubahan yang terjadi baik pada siswa, guru maupun suasana kelas, sehingga
dapat menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana dan sejauhmana perubahan
itu signifikan. Refleksi juga merupakan suatu perbaikan tindakan ditetapkan
untuk selanjutnya merencanakan berapa siklus yang direncanakan.
5. Model Kemmis dan Mc.Taggart yang meliputi: rencana, tindakan, observasi
dan refleksi. Kegiatan merencanakan terfokus pada rencana tindakan apa
untuk memperbaiki situasi pembelajaran yang pasif dan kaku, tindakan untuk
perbaikan diberikan banyak pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan hasil
observasi siswa mulai tertarik untuk belajar IPA, dalam refleksi ternyata baru
pada senang belajar belum nampak keberhasilannya, maka diperlukan putaran
berikutnya dengan mengubah pendekatan lain.
RANGKUMAN
Pada Bahan Belajar Mandiri ini ditampilkan pengembangan desain PTK
sebagai realisasi penerapan dari berbagai model desain PTK seperti model Elliot,
Kemmis dan McTaggart, Hopkins dan Ebbut serta model desain lainnya. Dengan
pengembangan desain ini terdapat langkah-langkah yang mestinya digunakan oleh
peneliti yang meliputi: ide awal yang dimiliki peneliti, pra survey atau temuan
awal tentang kondisi yang ada,diagnosis yang terfokus pada dugaan sementara
peneliti, perencanaan kegiatan belajar mengajar yang akan dilakukan,
implementasi tindakan sebagai jawaban dari rencana, pengamatan yang
menitikberatkan pada mencatat semua peristiwa di kelas, refleksi sebagai bentuk
evaluasi yang dilaksanakan guru, dan laporan pasca penelitian berakhir. Tentang
pemilihan model desain itu semua bergantung dari permasalahan yang dihadapi
peneliti di lapangan dalam menerapkan salah satu model PTK.
Untuk memeriksa kembali apakah Anda telah memahami bahan yang
dibahas pada Kegiatan Pembelajaran ini, cobalah Anda selesaikan soal-soal
berikut di bawah ini:
TES FORMATIF
Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat!
1. Untuk merumuskan permasalahan penelitian diperlukan…
A. Instruksi dari Kepala Sekolah
B. Mendapatkan izin dari pengawas rumpun
C. Diskusi dengan teman sejawat peneliti
D. Keputusan seminar para pakar
2. Kajian penelitian terdahulu yang telah dilakukan untuk menelaah permasalahan
yang akan diteliti, kecuali:
A. Sebagai bahan rujukan saja
B. Memperluas tataran wawasan
C. Menghindari pengulangan
D. Bahan contekan
3. Apa yang harus anda perhatikan terlebih dahulu sebelum Anda melakukan
perencanaan awal PTK:
A. Segera menyusun hipotesis
B. Mendata jumlah subjek penelitian
C. Langsung melakukan pengumpulan data
D. Tidak perlu memperhatikan prosedur etis penelitian
4. Salah satu langkah kegiatan penelitian awal adalah meliputi:
A. Mengidentifikasi masalah
B.Melakukan analisis data
C. Membuat perencanaan
D. Melakukan refleksi terhadap kegiatan siklus
5. Yang dimaksud siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah:
A. Urutan kegiatan yang dimulai perencanaan awal
B. Urutan kegiatan diskusi dengan para mitra penelitian
C. Urutan kegiatan di kelas yang direncanakan setiap tahapannya
D. Urutan kegiatan mulai perencanaan awal sampai perencanaan siklus
berikutnya
6. Spiral siklus dalam Penelitian Tindakan kelas berada dalam rentangan:
A. Satu sampai tiga siklus
B. Satu sampai tujuh siklus
C. Tidak ada ketentuan
D. Peneliti bersama guru bersama-sama mengambil keputusan
7. Yang dimaksud dengan diagnosis dalam pengembangan desain PTK:
A. Menggambarkan kondisi kelas seadanya
B. Melakukan dugaan-dugan sementara
C. Mengetahui secara mendatail suatu kelas yang akan diteliti
D. Menentukan strategi pembelajaran yang tepat
8. Apabila fokus penelitian adalah di bidang strategi bertanya, maka untuk
menentukan siswa yang mana yang akan menjawab, guru perlu:
A. Menyebut nama siswanya sebelum bertanya
B. Pertanyaan diajukan secara factual
C. Diajukan pertanyaan kepada kelas umum
D. Pertanyaan diajukan secara spesifik
9. Refleksi dilakukan dengan cara kolaboratif, maksudnya adalah:
A. Melakukan penelitian sendiri-sendiri
B. Melakukan penelitian bersama-sama
C. Melakukan penelitian dalam kemitraan yang setara
D. Melakukan penelitian melibatkan siswa di kelas
10. Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas dihentikan apabila:
A. Peneliti merasa puas terhadap hasil yang dicapai
B. Hasil diskusi antara peneliti dengan mitra untuk berhenti
C. Data sudah jenuh dan kondisi pembelajaran stabil
D. Para siswa sudah tidak ada respons lagi.
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KUNCI JAWABAN TES FORMATIF BBM 4
Tes Formatif 1:
1. C
2. C
3. C
4. C
5. C
6. D
7. B
8. A
9. C
10. A
Tes Formatif 2:
1. C
2. D
3. A
4. A
5. D
6. D
7. D
8. C
9. C
10. B
GLOSARIUM
Penelitian Tindakan (Action Research): penelitian yang diarahkan untuk
mengumpulkan, dan menganalisis data untuk kemudian mengadakan
perbaikan atau penyempurnaan tentang kegiatan, program dan kondisi
yang dilakukan oleh para pelaksana kegiatan itu sendiri. Penelitian
termasuk penelitian memperbaiki atau improftif.
Penelitian Tindakan Kelas adalah salah satu strategi pemecahan masalah dalam
pembelajaran yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses
pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan
masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam
pembelajaran seperti guru, siswa dan media lainnya saling
mendukung satu sama lainnya dan dilengkapi dengan fakta-fakta serta
mengembangkan kemampuan analisis
Penelitian tindakan dialektis spiral: langkah-langkah penelitian tindakan yang
pada setiap langkah kegiatannya selalu dilihat keterkaitannya dengan
langkah-langkah yang lainnya.
Desain Penelitian adalah merupakan prosedur atau langkah-langkah yang
ditempuh dalam pengumpulan data dan analisis data penelitian yang
mencakup metode penelitian, sumber dan teknik pengumpulan data
yang digunakan, analisis dan interpretasi data.
Berfikir reflektif adalah proses pemecahan masalah melalui langkah-langkah
mengidentifikasi, merumuskan dan membatasi masalah, merumuskan
hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis data serta menguji
hipotesis.
Identifikasi masalah: mendaftar, mencatat masalah-masalah penting dan
mendesar yang dihadapi dalam suatu bidang atau sub bidang
keahlian/profesi tertentu untuk kemudian dipilih satu kejadian focus
atau masalah penelitian. Pada hakikatnya identifikasi adalah
pernyataan yang menghubungkan gagasan atau ide dengan tindakan.
Fokus masalah adalah isu-isu masalah atau hal-hal yang esensial, penting dalam
suatu bidang atau sub bidang keahlian atau kegiatan tertentu yang
mendesak atau urgen untuk dikaji atau diteliti untuk memperoleh
kejelasan atau untuk pemecahan masalah.
Masalah penelitian adalah suatu situasi, kegiatan, program yang mengandung
kesenjangan dan menimbulkan ancaman, hambatan, kesulitan,
gangguan yang membutuhkan pemecahan
Pemecahan masalah adalah cara, metode, teknik atau prosedur yang dilakukan
oleh pelaksana atau penentu kebijakan untuk mengatasi kesulitan
yang dihadapi di dalam pelaksanaan tugas, kegiatan ataupun dalam
kehidupannya.
Pernyataan masalah: merumuskan redaksi kalimat berkenaan dengan suatu focus
masalah, dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan.
Pertanyaan penelitian: pertanyaan-pertanyaan pokok berkenaan dengan focus
masalah atau masalah penelitian yang akan dijawab setelah
pengumpulan dan analisis data.
Perumusan masalah adalah merinci atau memetakan variabel atau aspek yang
terkait dengan focus masalah dengan menggunakan kerangka berfikir
atau teori tertentu.
Model siklus dasar kegiatan penelitian tindakan kelas merupakan alur kegiatan
yang terdiri dari mengidentifikasi gagasan, melakukan
reconnaissance, menyusun rencana, mengembangkan langkah
tindakan pertama, mengimplementasikan langkah tindakan pertama,
mengevaluasi dan memperbaiki rancangan umum.
Model spiral siklus adalah semua kegiatan yang dilakukan peneliti mulai tahap
perencanaan (plan), tindakan (act), pengamatan (observe),
refleksi (reflect) untuk perbaikan
KEPUSTAKAAN
Bogdan, R. C. & Biklen S.K. (l992). Qualitative Research for Education.
Boston: Allyn and Bacon.
Depdiknas (l999). Penelitian Tindakan Kelas (Classrom Action Research).
Jakarta Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Elliot, Jhon. (l991). Action Research for Educational Change. Milton Keynes,
Philadelphia
Nana Syaodih Sukmadinata (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Program
Pascasarjana UPI dengan Remaja Rosdakarya
Natawidjaya, Rochman (l997). Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Bandung:
IKIP Bandung
Tim Pelatih Proyek PGSM (l999). Penelitian Tindakan Kelas (Classrom Action
Research). Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah
Menengah.
Rochiati, Wiriaatmadja (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas: Untuk
Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Program
Pascasarjana UPI bekerjasama dengan PT. Remaja
Rosdakarya
Sumarno (l997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jogyakarta:
Dirjend Pendidikan Tinggi
BAHAN BELAJAR MANDIRI 5
METODA PENGUMPULAN DATA
PENDAHULUAN
Penerapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam pembelajaran memiliki
tujuan utama yakni guru berkeinginan memperbaiki dan meningkatkan kualitas
praktik pembelajaran secara berkesinambungan sehingga dapat meningkatkan
mutu hasil pembelajaran, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan
relevansi, meningkatkan efesiensi pengelolaan pembelajaran serta menumbuhkan
budaya meneliti pada komunitas guru khususnya di Sekolah Dasar. Sehingga
ketika ada perubahan kurikulum, maka guru yang biasa melakukan penelitian
cepat memahami, menguasai dan menerapkan kurikulum tersebut sesuai dengan
potensi yang dimilikinya.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan
Kelas bersifat multi teknik dan multi instrument. Artinya tidak hanya satu, akan
tetapi ada tiga kelompok teknik pengumpulan data dalam PTK. Wolcott dalam
Syaodih (2005) disebutnya sebagai strategi pekerjaan lapangan primer, meliputi:
Pengalaman, pengungkapan dan pengujian.
Pengalaman dilakukan dalam bentuk observasi, sehingga guru melakukan
observasi sekalian melakukan tugas mengajar sehari-hari. Pengungkapan
dilakukan melalui wawancara. Peneliti melakukannya terhadap pihak terkait untuk
mendapatkan data yang diperlukan. Pembuktian dilakukan dengan mencari buktibukti
dokumen seperti arsif, video tape, jurnal, peta dan catatan lapangan.
Anda sudah mengetahui bahwa dalam tahapan PTK ada suatu tahap
pengamatan tindakan dimana instrument pengamatan memegang peran penting
dalam mengungkap pengembangan penelitian. Katakan saja pengamatan tindakan
akan tepat apabila instrument yang dimiliki peneliti tepat pula, karena memang
dalam PTK peneliti itu bertindak sebagai instrument penelitian. Jadi sejauhmana
tingkat keakuratan data itu bergantung sepenuhnya pada instrument yang
dikembangkannya.
Penelitian Tindakan Kelas sebagai penelitian yang berbasis kualitatif
dengan setting yang alami untuk diteliti, memberikan peranan penting kepada
peneliti yakni satu-satunya instrument karena sebenarnya manusia itu dapat
menghadapi situasi yang berubah-rubah dan tidak menentu seperti halnya di kelas
atau di lapangan. Karena itu Anda sebagai peneliti dalam PTK ini harus
konsekuen memahami betul tugas sebagai peneliti, karena itu harus
mempersiapkan diri.
Ada baiknya sebelum pelaksanaan berlangsung mereka yang terlibat dalam
kegiatan penelitian ini mengetahui dan memahami peran masing-masing. Pertamatama,
guru sebagai peneliti harus memilih siapa yang akan menjadi mitra dalam
penelitian ini. Apabila yang dipilih adalah seorang teman sejawat guru, yang
sama-sama bertugas di sekolah tempat penelitian berlangsung, hal itu akan
memungkinkan lancarnya penelitian. Peran apa yang akan dilakukan masingmasing
perlu didiskusikan terlebih dahulu. Apakah peran guru menjadi pengelola
penelitian dan guru mitra peneliti yang akan melaksanakan pembelajaran, atau
sebaliknya apakah guru yang akan menampilkan sendiri pembelajaran, sedang
guru mitra peneliti akan berperan sebagai pengamat perlu dipikirkan efisiensinya.
Apabila guru mitra peneliti yang akan berperan tampil sebagai penyaji
bahan pelajaran, maka perencanaan harus dengan seksama mempersiapkan
bentuk-bentuk inovasi apa yang akan diinginkan untuk pembelajaran. Pada saat
penelitian mulai berlangsung, maka guru mitra peneliti bersama siswa dalam kelas
akan menjadi subjek peneliti dan menjadi fokus pengamatan peneliti dalam segala
gerak-gerik langkahnya. Sebaliknya apabila mitra peneliti yang bertindak sebagai
observer, maka peran sebagai subjek beralih kepada penyaji pembelajaran
bersama kelas yang dihadapinya, dan guru mitra peneliti dan pengamat lain yang
akan melakukan observasi serta pencatatan lapangan dengan cermat.
Dalam Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini, Anda akan mempelajari
mengenai metode pengumpulan data penelitian tindakan kelas. Anda diharapkan
memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Dapat menjelaskan metode pengumpulan data melalui observasi
2. Dapat menjelaskan metode pengumpulan data melalui wawancara
3. Dapat menjelaskan metode pengumpulan data melalui angket
4. Dapat menjelaskan metode pengumpulan data melalui dokumentasi
5. Dapat menentukan cara menyusun instrument yang lainnya
6. Dapat menentukan sumber data dalam penelitian tindakan kelas.
Kompetensi tersebut harus dimiliki oleh Anda sebagai seorang peneliti
dalam PTK, karena berhasil atau tidaknya penelitian tindakan kelas ini
sepenuhnya bergantung pada guru sebagai peneliti sekaligus sebagai instrument
penelitian yang siap dengan memperoleh data yang akurat. Untuk memahami hal
tersebut dalam BBM ini disajikan dalam uraian dan latihan yang mencakup
beberapa kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
Kegiatan Belajar I: Metode Pengumpulan Data melalui Observasi
Kegiatan Belajar 2: Metode Pengumpulan Data Wawancara dan Kuesioner
Kegiatan Belajar 3: Metode Pengumpulan Data Dokumentasi dan Lainnya
Untuk membantu Anda dalam mempelajari BBM ini, ada baiknya
diperhatikan beberapa petunjuk belajar berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan ini sampai anda memahami secara
tuntas tentang apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari bahan belajar ini.
2. Baca sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata yang dianggap baru.
Carilah dan baca pengertian kata-kata kunci tersebut dalam kamus yang anda
miliki.
3. Tangkaplah pengertian demi pengertian melalui pemahaman sendiri dan tukar
pikiran dengan mahasiswa lain atau dengn tutor anda.
4. Untuk memperluas wawasan, baca dan pelajari sumber-sumber lain yang
relevan. Anda dapat menemukan bacaan dari berbagai sumber, termasuk dari
internet.
5. Mantapkan pemahaman anda dengan mengerjakan latihan dengan
mengerjakan latihan dan melalui kegiatan diskusi dalam kegiatan tutorial
dengan mahasiswa lainnya atau teman sejawat.
6. Jangan dilewatkan untuk menjawab soal-soal yang dituliskan pada setiap akhir
kegiatan belajar. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah anda sudah
memahami dengan benar kandungan bahan belajar ini.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
METODE PENGUMPULAN DATA MELALUI OBSERVASI
Secara umum, observasi atau pengamatan berarti setiap kegiatan untuk
melakukan pengukuran. Observasi secara sederhana boleh diartikan sebagai
pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan dan tidak mengajukan
pertanyaan-pertanyaan. Dengan demikian boleh dikata bahwa observasi
merupakan upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama
tindakan perbaikan itu berlangsung, dengan atau tanpa alat bantu. Artinya data
yang diperoleh melalui observasi berasal dari subjek pada saat terjadinya tingkah
laku. Kemungkinan bisa terjadi tingkah laku yang diharapkan akan muncul atau
mungkin tidak muncul, karena tingkah laku dsapat dilihat maka kita dapat segera
mengatakan bahwa yang diukur memang sesuatu yang dimaksudkan untuk diukur.
Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka peneliti harus sabar
menunggu dan mengamati sampai perilaku yang dimaksudkan itu muncul dari
subjek yang diteliti. Dalam hal ini, peneliti dapat menggunakan alat perekam
(videotape) untuk merekan sejumlah tingkah laku lain dalam proses pembelajaran
sampai muncul tingkah laku yang relevan. Karena memang bisa terjadi, tingkah
laku yang bersifat pribadi sukar atau sulit dipisahkan untuk tidak teramati
walaupun bukan tujuan untuk diamati.
Berdasarkan keterlibatan pengamatan dalam kegiatan yang diamati,
observasi dapat dibedakan menjadi: 1) Observasi partisipan dan 2) Observasi
nonpartisipan. Observasi partisipan, pengamat ikut serta dalam kegiatan-kegiatan
yang dilakukan subjek yang diamati, seolah-olah merupakan bagian dari mereka.
Sementara pengamat terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan subjek
penelitian, pengamat harus berperan ganda ia sebagai pengamat yang merangkap
sebagai peneliti, sehingga diperlukan kehati-hatian dan bertindak waspada untuk
mengamati kemunculan tingkah laku tertentu. Sebaliknya, dalam observasi
nonpartisipan, pengamat berada di luar subjek yang diteliti dan tidak ikut dalam
kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Dengan demikian peneliti sebagai
pengamat akan mudah berperan untuk mengamati kemunculan tingkah laku yang
diharapkan.
Sesuai dengan hakekat data yang dikehendaki, observasi dapat dibedakan
menjadi dua bagian yaitu observasi berstruktur dan observasi tak berstruktur.
Dalam kegiatan observasi berstruktur, peneliti memusatkan perhatiannya pada
tingkah laku tertentu sehingga dibuatkan semacam rambu-rambu atau pedoman
tentang tingkah laku apa saja yang harus diamati dan tingkah laku lain yang
muncul akan diabaikan. Penggunaan pedoman pengamatan menunjukkan
pendekatan yang digunakan peneliti dalam mengamati tingkah laku subjek yang
diteliti. Dalam observasi berstruktur, dapat dilakukan penghitungan freuensi
terjadinya tingkah laku tertentu, tabulasi atas daftar tingkah laku, menghitung
waktu terjadinya suatu kegiatan atau tingkah laku tertentu, serta mengamati
sejumlah tingkah laku dan menggolongkannya dalam konsep-konsep yang sudah
disediakan atau menggunakan skala peringkat (ordinal). Sebaliknya, dalam
observasi tak berstruktur, pengamat tidak membawa catatan lapangan (field notes)
untuk mengamati tingkah laku apa saja yang secara khusus kemunculannya.
Pengamat sebagai peneliti berkonsentrasi untuk mengamati untaian peristiwa dan
sejumlah tingkah laku kemudian mencatatnya dan dianalisis. Sehingga boleh
dikata bahwa observasi tak berstruktur dilakukan dengan observasi partisipan.
Pencatatan dilakukan sesegera mungkin setelah pengamat tidak terlibat dengan
kegiatan-kegiatan subjek penelitian, sebab pencatatan bisa dilakukan saat
pengamat masih terlibat dalam kegiatan-kegiatan bersama subjek penelitian akan
dapat mempengaruhi tingkah laku mereka.
Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kadang-kadang
kegiatan observasi justru harus dilakukan secara bersamaan dengan interpretasi.
Sebagai contoh, interpretasi itu perlu dilakukan pada saat yang bersamaan dengan
pelaksanaan observasi seperti yang lazim diperlukan dalam mengamati dan
mengakses keputusan dan tindakan professional guru dalam interaksi
pembelajaran. Dinamakan high-inference observation, pendekatan interpretatif
dalam observasi yang dikemukakan belakangan ini antara lain digunakan dalam
rangka penerapan Alat Penilai Kemampuan Guru (APKG) sebagai piranti
pengumpulan data mengenai kinerja calon guru dalam pelaksanaan PPL.
Oleh karena itu, perlu dirancang mekanisme perekaman hasil observasi
yang tidak mencampuradukan antara fakta dengan interpretasi, akan tetapi juga
tidak terseret oleh kaidah umum yang secara tanpa kecuali menafikan interpretasi
dalam pelaksanaan observasi. Apabila yang terakhir dilakukan, sehingga yang
direkam hanya fakta tanpa interpretasi, maka akan dapat timbul resiko bahwa
makna dari perangkat fakta yang telah diamati itu tidak lagi dapat dibangkitkan
kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan, terlebih-lebih
apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. Dalam hubungan ini agaknya
prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian
kualitatif, dapat dimanfaatkan secara produktif dalam penelitian tindakan kelas.
Dengan demikian, observasi tidak lain dari upaya untuk mengamati
pelaksanaan tindakan. Secara lebih operasional dapat dinyatakan bahwa observasi
adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk mengenali, merekam, dan
mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai
(perubahan yang terjadi) baik yang ditimbulkan oleh tindakan terencana maupun
akibat sampingannya. Sedangkan fungsi dari diadakannya observasi dapat
dibedakan menjadi dua :
1. Untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan
yang telah disusun sebelumnya;
2. Untuk mengetahui seberapa jauh pelaksanaan tindakan yang sedang
berlangsung dapat diharapkan akan menghasilkan perubahan yang diinginkan.
Fungsi kedua dari pelaksanaan observasi mempunyai arti yang lebih
penting dari yang pertama. Alasannya ialah karena dengan adanya observasi
diharapkan dapat dikenali sendini mungkin apakah tindakan yang dilakukan
mengarah kepada terjadinya perubahan positif dalam proses pembelajaran sesuai
dengan yang diharapkan. Dapat saja terjadi pelaksanaan tindakan tidak
menghasilkan perubahan apapun atau perubahan yang terjadi justru bersifat
negative seperti menurunnya kualitas proses pembelajaran. Siswa nampak menjadi
lebih sibuk dan ramai dari hari-hari sebelumnya, tetapi tidak menunjukkan hasil
yang lebih baik. Banyak waktu yang dihabiskan oleh guru untuk mempersiapkan
pembelajaran, namun hasil yang dicapai belum menunjukkan kemajuan.
Apabila terjadi hal-hal negatif semacam yang disebutkan di atas, tentu
peneliti harus segera mencari dan menemukan faktor penyebabnya, dan kemudian
menentukan langkah perbaikannya. Akan jauh lebih baik mencegah secara dini
akibat negative itu setelah semua tindakan selesai dilakukan.
Ada beberapa faktor yang dapat dipandang sebagai sumber terjadinya
kegagalan dari tindakan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Adapun
faktor-faktor yang dimaksud antara lain:
1. Pelaksanaan tindakan yang menyimpang dari rencana tindakan yang telah
ditetapkan
2. Rencana tindakan yang mengandung kesalahan, misalnya kesalahan asumsi
atau konsep dasar, kekeliruan menerjemahkan konsep menjadi rencana
tindakan operasional
3. Keterbatasan kemampuan pelaksanaan tindakan (guru) seperti
kekurangmampuan mengelola kelas, mendayagunakan sumber dan sarana
belajar yang ada, dan keterbatasan dalam penguasaan materi yang disajikan
4. Faktor yng berasal dari luar yang tidak dapat dikendalikan dalam rencana
tindakan, seperti kendala dari jajaran birokrasi (Sumarno,1996).
Berdasarkan fungsi pokok pelaksanaan observasi seperti yang telah
dikemukakan di depan, maka sasaran dilakukannya observasi adalah untuk
menemukan hal-hal berikut:
1. Seberapa jauh pelaksanaan tindakan telah sesuai dengan rencana tindakan
yang ditetapkan sebelumnya.
2. Seberapa banyak pelaksanaan tindakan telah menunjukkan tanda-tanda akan
tercap[ainya tujuan tindakan.kalau sudah ada bukti bahwa pelaksanaan
tindakan menunjukkan tanda-tanda berhasil, tentu pelaksanaan tindakan
diteruskan sesuai dengan rencana. Konsep dasar penelitian tindakan kelas
memberikanbimbingan bahwa hal-hal yang sudah baik perlu dicarikan cara
untuk membuatnya lebih baik lagi. Sebaliknya, kalau tidak ada tanda-tanda
keberhasilan berarti dibutuhkan peninjauan kembali, perbaikan,atau
penyempurnaan tindakan.
3. Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan yang positif meskipun tidak
direncanakan. Hal ini perlu diikuti dengan upaya untuk lebih
mengintensifkannya.
4. Apakah terjadi dampak sampingan yang negative sehingga merugikan atau
cenderung mengganggu kegiatan lainnya. Temuan dampak negatif dan
merugikan perlu ditindaklanjuti dengan upaya mengurangi atau
meniadakannya sama sekali.
Untuk menilai apakah tindakan yang dilakukan berdampak positif atau
negative terhadap usaha memperbaiki atau meningkatkan praktek pembelajaran
yang terjadi di dalam kelas, maka kriteria yang digunakan adalah yang bersumber
dari misi tindakan kelas. Oleh karena itu, kriteria yang dijadikan tolak ukurnya
adalah: (1) peningkatan praktek pembelajaran, seperti peningkatan efesiensi
pembelajaran, peningkatan efektivitas pembelajaran dan peningkatan hasil belajar;
(2) peningkatan keterlibatan siswa, frekuensi keterlibatan guru, peran serta
administrator, dan partisipasi anggota masyarakat dalam mendukung setiap
tercapainya penyempurnaan proses belajar dan peningkatan hasil belajar, dan (3)
peningkatan kinerja guru dan masyarakat sekolah dalam upaya meningkatkan
kualitas keberhasilan belajar siswa.
A. JENIS-JENIS OBSERVASI SEBAGAI ALAT PENGUMPUL DATA
Agar pelaksanaan observasi dapat menunaikan fungsi dan mencapai
tujuannya, maka diperlukan adanya penguasaan terhadap jenis-jenis observasi,
teknik dan alat-alat yang dapat digunakan ketika melakukan observasi. Ditinjau
dari kejelasan sasarannya, secara garis besar ada empat jenis observasi yang
masing-masing dapat digunakan dalam situasi atau maksud yang berbeda.
Keempat jenis observasi yang dimaksud adalahsebagai berikut:
a. Observasi Terbuka
Observasi terbuka, sebagaimana tercermin dari namanya, pada dasarnya
tidak mempunyai sasaran atau struktur tertentu sebelum dilaksanakannya
observasi. Dalam hubungan ini, tidak ada alat Bantu observasi yang dapat
dipersiapkan secara khusus. Peneliti cukup menyediakan lembar kertas kosong
untuk mencatat hal-hal yang dinilai menarik atau penting selama observasi.
Pencatatan biasanya diwujudkan dalam bentuk butir-butir kunci yang
pengembangannya akan dilakukan kemudian. Perlu dicermati bahwa pencatatan
harus dilakukan sefaktual mungkin, sedangkan interpretasi ditunda sampai
observasi selesai dan datanya divalidasi.
b. Observasi Terfokus
Pada jenis observasi terfokus, maksud dan sasaran observasi telah
ditentukan sebelumnya. Dengan demikian alat-alat bantu pelaksanaan observasi
pun telah juga dapat dipersiapkan. Jika akan ada banyak orang ang akan
melakukan observasi, format dan isi alat bantu observasi ini perlu disepakati agar
faktor subjektivitas dapat ditekan sekecil mungkin. Biasanya digunakan lembar
panduan pengamatan yang sudah terinci sehingga pengamat (observer) tinggal
merekam sasaran observasinya dengan memberi tanda(cek) pada kode-kode yang
sudah disepakati.
c. Observasi Terstruktur
Penerapan observasi terstruktur dimaksudkan untuk lebih mengobjektifkan
pelaksanaan observasi dengan cara menggunakan tabulasi (tallys) atau diagram.
Pengamat hanya perlu memberi tanda setiap kali suatu gejala muncul dalam
pengamatan. Tidak ada penilaian atau penafsiran subjektif dari pengamat terhadap
sasaran pengamatan. Format diagram juga membantu pengamat dalam merekam
gejala-gejala interaksi secara lebih cermat, misalnya tanya jawab antara guru dan
siswa. Dengan cara ini, selain dapat disajikan deskripsi dari peristiwa yang
diobservasi dengan objektivitas yang cukup tinggi, juga dapat ditemukan pola atau
kecenderungan interaktif. Hal ini agak sulit dipeoleh jika digunakan jenis
observasi terbuka ataupun yang terstruktur.
d. Observasi Sistematis
Untuk beberapa kasus penelitian yang banyak diminati, telah tersedia
pedoman observasi baku yang dapat digunakan dimana saja untuk waktu yang
relatif panjang. Karena sifatnya yang sudah baku, maka penggunaannya
memelukan latihan intensif. Cara ini mampu menghasilkan data kuantitatif yang
jumlah dan kualitasnya (validitas dan reliabilitasnya) cukup memadai.
Kebanyakan pedoman observasi baku ini dikembangkan dalam kaitan dengan
upaya untuk memperoleh basis ilmiah proses pembelajaran. Contohnya adalah
Flanders Interaction Analysis Categories (FIAC). Karena penekanannya yang kuat
pada perolehan data kuantitatif, biasanya laporan atau penafsirannya sangat
kering, tidak seperti dalam jenis observasi terbuka yang bersifat kualitatif.
Selain pembagian observasi ditinjau dari sasarannya, macam-macam
observasi juga dapat dilihat dari metode pelaksanaannya yang dapat diterapkan
pada penelitian tindakan kelas. Dalam kaitan ini, secara garis besar observasi
dibedakan menjadi observasi non-partisipatif dan observasi partisipatif. Dua jenis
observasi ini dapat dipandang sebagai ujung-ujung kontinum dari berbagai jenis
pelaksanaan observasi. Artinya, diantara dua spektrum ini masih ada jenis
pelaksanaan observasi yang menggabungkan kedua sifat observasi non-pertisipatif
dan observasi partisipatif dalam kadar yang berbeda-beda.
Observasi non-partisipatif artinya kegiatan pengamatan di mana orang
yang melakukannya tidak ikut terlibat dalam kegiatan yang diamati. Misalnya,
pada waktu mengamati proses berlangsungnya pembelajaran, pengamat tidak
berperan sebagai guru atau murid.melainkan bertindak murni hanya sebagai
pengamat saja. Sebaliknya, observasi partisipatif adalah jenis observasi yang
pengamatnya terlibat pada sebagian kegiatan atau seluruh kegiatan yang diamati.
Misalnya, dalam pengamatan proses pembelajaran tersebut di atas, pengamat
selain mengamati kegiatan belajar-mengajar juga membantu guru dalam
melakukan pembelajaran.
Seperti halnya jenis observasi ditinjau dari sasarannya, observasi nonpartisipatif
dan observasi partisipatif digunakan pada situasi dan untuk maksud
yang berbeda. Karena itu, ketepatan penggunaannya akan sangat ditentukan oleh
tujuan penelitian, ruang lingkup masalah yang dikaji, rancangan penelitian yang
digunakan, dan karakteristik objek atau kegiatan yang diamati.
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, jenis observasi yang banyak
digunakan adalah observasi terfokus, observasi terstruktur, observasi terbuka, dan
observasi partisipatif. Jenis observasi yang disebutkan terakhir ini dipakai karena
mereka yang terlibat dan tergabung dalam proses pelaksanaan tindakan. Guru
dalam menunaikan tugas mengajarnya juga melakukan pengamatan terhadap kelas
dan murid-muridnya.
Observasi sebagai langkah ketiga dalam pelaksanaan tindakan mempunyai
kedudukan yang sejajar dengan proses pengumpulan data dalam penelitian formal.
Karena itu, dalam langkah observasi ini juga dapat digunakan metode lain untuk
menggali dan mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.
Metode pengumpulan informasi yang cocok dan karena itu sering digunakan
adalah wawancara serta pemanfaatan data dokumenter. Wawancara digunakan
untuk menggali dan mengumpulkan data yang hanya dapat diungkapkan secara
tepat dengan kata-kata seperti ide, pendapat, pemikiran, wawasan dari orang yang
diamati. Sedangkan analisis data dokumenter, karya guru, dan yang sejenisnya,
dipakai untuk melengkapi dan/atau memvalidasi data hasil pengamatan.
Dalam penerapan observasi sebagai alat pengumpul data penelitian, maka
pelaksanaan observasi berorientasi pada pelaksanaan rancangan atau rencana
tindakan pembelajaran. Dalam hubungan ini, peneliti harus dengan cermat
mempertimbangkan dan menentukan metode, memilih teknik, dan mempersiapkan
alat yang tepat agar data yang diperoleh benar-benar sahih (valid) dan dapat
diandalkan (reliabel). Hal ini tidak boleh diartikan bahwa observasi yang baik
adalah sama dengan observasi yang rumit. Justru perlu diusahakan agar kegiatan
observasi tidak terlalu mengganggu atau membebani guru dalam melaksanakan
tugas pokoknya sebagai pengelola proses pembelajaran di kelas.
B. PENDEKATAN OBSERVASI DALAM PENELITIAN TINDAKAN
KELAS
Secara teknis, jenis observasi yang dapat diterapkan dalam penelitian
tindakan kelas tidak jauh berbeda dengan jenis-jenis observasi yang biasa
digunakan dalam penilaian, namun observasi dalam penelitian tindakan kelas
secara spesifik diterapkan dalam pengamatan proses pembelajaran baik di dalam
kelas maupun di luar kelas. Keempat pendekatan observasi yang dapat digunakan
sebagai pengumpul data yang andal disini adalah observasi peer (sejawat),
supervisi klinis, observasi terstruktur, dan jadwal interaksi.
1. Observasi peer (Pengamatan Sejawat)
Observasi peer adalah observasi terhadap pengajaran seseorang oleh orang
lain (biasanya teman guru atau sejawat), observasi seperti ini seringkali disebut
juga observasi partisipan. Metode penelitian tindakan kelas dengan sumber data
yang jauh lebih fleksibel dan juga sangat mudah menentukan data pendukung,
idealnya ialah apabila dalam kelompok peer setiap guru dapat bertindak sebagai
pengamat untuk guru yang lain.
Pengamat partisipan dapat pula memainkan berbagai macam peran yang
berbeda. Mereka dapat pula memainkan berbagai macam peran yang berbeda.
Mereka dapat mengamati suatu pelajaran secara umum, memfokuskan pada aspek
tertentu dari mengajar dan berbicara dengan para siswa selama dalam periode
observasi. Hal ini akan meringankan guru dalam analisis dan cenderung
meningkatkan objektivitas data yang dikumpulkan. Tambahan lagi, pengamat
dapat pula mencatat kejadian-kejadian yang biasanya luput dari pengamatan guru.
Kekuatan utama dari observasi peer adalah bahwa peer ini meringankan
beban dalam masalah analisis dan meyakinkan guru, melalui penggunaan
pengamat, data yang terkumpul lebih tidak bias dan objektif.
2. Supervisi Klinis
Supervisi klinis merupakan teknik ini observasi ini paling cocok digunakan
dalam masalah penelitian kelas. Teknik ini merupakan bentuk yang lebih
terstruktur daripada observasi peer. Teknik ini menggunakan pendekatan tiga
phase guna pengamatan kejadian mengajar.
Ketiga phase esensial dari supervisi klinis adalah perencanaan, observasi
kelas, dan rapat umpan balik.
Ada sejumlah prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam supervisi
klinis.
a. Tidak kaku, tidak menakutkan dan saling percaya satu sama lain
b. Fokus harus atas perbaikan instruksional dan menguatkan pola keberhasilan,
serta bukan pada kritik dan pola yang gagal
c. Proses pada hasil pengumpulan data yang objektif
d. Kesimpulan tentang mengajarnya berdasarkan data dan menggunakan data
untuk menyusun hipotesis yang dapat diuji di kemudian
e. Setiap perputaran supervisi merupakan bagian dari proses yang sedang
berjalan yang membangun proses lainnya
f. Guru dan pengamat bersepakat dalam interaksi bersama yang akan membawa
peningkatan dalam mengajar dan keterampilan mengamat bagi keduanya
3. Observasi Terstruktur
Observasi terstruktur diawali dari: (a) teknik bertanya, (b) bentuk perilaku
objek, dan (c) interaksi ceklis dan pengkodean.
Sebelum melakukan dan menentukan alat observasi, ada baiknya
mengajukan pertanyaan agar meyakini tujuan observasi. Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan adalah sebagai berikut.
a. Apa tujuan observasi?
b. Perbuatan guru mana yang patut diobservasi?
c. Apakah fokus pengamatan?
d. Metode pengumpulan data apa paling baik memenuhi tujuan?
e. Bagaimana data itu akan digunakan?
Langkah berikutnya adalah menyusun jadwal observasi, memfasilitasi
objek yang menjadi sasaran observasi dan menyiapkan sejumlah alat observasi
yang siap digunakan.
LATIHAN
Setelah Anda mempelajari materi dalam kegiatan pembelajaran ini, Anda
harus melakukan tugas latihan yang dirancang dari pembelajaran ini, supaya anda
lebih memperdalam pemahaman materi yang diuraikan dalam kegiatan
pembelajaran ini. Tugas latihan yang harus Anda kakukan dengan cara
mendiskusikan dengan teman sejawat Anda yaitu:
1. Jelaskan jenis-jenis observasi yang dapat digunakan dalam penelitian tindakan
kelas?
2. Jelaskan pula berbagai pendekatan observasi yang biasa digunakan peneliti
dalam melakukan penelitian tindakan kelas?
3. Mengapa alat pengumpul data observasi dianggap sebagai alat pengumpul data
yang paling tepat digunakan pada penelitian tindakan kelas?
4. Bagaimana menerapkan observasi partisipatif dan non-partisipatif dalam
penelitian tindakan kelas?
5. Mengapa observasi sebagai penilaian berbeda dengan observasi sebagai alat
pengumpul data dalam PTK?
Petunjuk Jawaban Latihan
1. Jenis-jenis observasi yaitu observasi terbuka, observasi terfokuas dan
observasi tersruktur, serta observasi sistimatis. Jenis-jenis observasi ini dapat
digunakan pada penelitian tindakan kelas. Ada pula observasi partispan dan
nonpartisipann yang terkait dengan observasi berstruktur dan tidak berstruktur.
2. Observasi peer atau pengamatan sejawat, observasi super klinis yang meliputi
perencanaan, observasi kelas, dan umpan balik, dan observasi tersruktur
3. Observasi merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mengenali, merekam dan
mendokumentasikan setiap proses dan hasil yang dicapai, sehingga observasi
dalam PTK bukan sebagai alat evaluasi akan tetapi dapat digunakan sebagai
alat pengumpul data apakah tindakan yang dilakukan terjadi perubahan
pembelajaran kearah positif dalam pembelajaran.
4. Observasi non-partisipatif artinya kegiatan pengamatan di mana orang yang
melakukannya tidak ikut terlibat dalam kegiatan yang diamati. Misalnya, pada
waktu mengamati proses berlangsungnya pembelajaran, pengamat tidak
berperan sebagai guru atau murid melainkan bertindak murni hanya sebagai
pengamat saja. Sebaliknya, observasi partisipatif adalah jenis observasi yang
pengamatnya terlibat pada sebagian kegiatan atau seluruh kegiatan yang
diamati. Misalnya, dalam pengamatan proses pembelajaran tersebut di atas,
pengamat selain mengamati kegiatan belajar-mengajar juga membantu guru
dalam melakukan pembelajaran.
5. Secara teknis, jenis observasi yang dapat diterapkan dalam penelitian tindakan
kelas tidak jauh berbeda dengan jenis-jenis observasi yang biasa digunakan
dalam penilaian, namun observasi dalam penelitian tindakan kelas secara
spesifik diterapkan dalam pengamatan proses pembelajaran baik di dalam
kelas maupun di luar kelas.
RANGKUMAN
Kegiatan observasi tidak hanya digunakan dalam penilaian saja akan tetapi
sebagai alat pengumpul data dalam penelitian tindakan kelas. Malahan dalam
PTK, peran dan fungsi observasi selain sebagai tahapan kegiatan penelitian
tindakan kelas juga kegiatan observasi merupakan upaya merekam segala
peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung
sebagai tindakan perbaikan atau peningkatan upaya pembelajaran kea rah lebih
sempurna.
Pembagian observasi menurut tujuannya meliputi observasi terbuka,
tersruktur, terfokus dan sistematis. Berdasarkan caranya, observasi juga dibedakan
menjadi observasi berstruktur dan tidak bersruktur yang erat kaitanya dengan
keterlibatan peneliti sebagai onserver partisipan dan observer tak berpartisipan.
Sedangkan ditinjau dari pendekatannya yang digunakan dalam penelitian tindakan
kelas observasi meliputi: observasi peer atau pengamatan teman sejawat, supervisi
klinis, dan observasi tersruktur. Sebagai alat pengumpul data dalam PTK,
observasi jauh lebih penting dari hanya sekedar alat penilaian, dimana posisi
peneliti kadang-kadang sebagai partisipan atau non-partisipan.
TES FORMATIF
Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat!
1. Yang dimaksud observasi terbuka adalah yang bukan …..
A. Menggambarkan situasi kelas yang seadanya
B. Sesuai dengan selera pengamat
C. Pengamatan tidak terbuka
D. Sefaktual mungkin
2. Observasi tersruktur dipersiapkan terlebih dahulu bersama para mitra penelitian
tentang apa saja yang akan diamati, dalam pelaksanaannya anda akan . . . .
A. Memperhatikan apa respons sikap siswa
B. Mendisiplinkan siswa yang mengganggu pembelajaran
C. Mengamati tindakan siswa sehari hari di sekolah
D. Menghitung tindakan siswa yang sedang diteliti
3. Tindakan peneliti sebagai pengamat penyerta, disebut juga……
A. Participant observer
B. Participant non observer
C. Mitra peneliti
D. Pengamat terbuka
4. Peneliti merangkap sebagai pengamat dalam melaksanakan observasi
partisipan, hal ini memiliki kelemahan terutama dalam hal …
A. Pengamat menunggu kemunculan tingkah laku yang diharapkan
B. Tingkah laku individu menjadi kurang wajar karena dibuat-buat
C. Dana yang digunakan cukup besar sebab harus menggunakan alat perekam
D. Pengamat terlibat dalam kegiatan yang dilakukan subjek penelitian
5. Pengamatan sistematik, jarang digunakan oleh peneliti kelas, dengan alasan:
A. Terlalu menekankan aspek kuantitas
B. Terlalu menyulitkan dikerjakan oleh guru kelas
C. Tekanan diarahkan kepada kinerja guru
D. Tidak menghilangkan aspek refleksi
6. Ada sejumlah prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam supervisi klinis.
A. Tidak kaku, tidak menakutkan dan saling percaya satu sama lain
B. Fokus tidak selalu pada perbaikan pembelajaran dan menguatkan pola
keberhasilan
C. Proses pada hasil pengumpulan data yang bersifat subjektif
D. Kesimpulan tentang mengajarnya berdasarkan hasil yang dicapai
7. Teknik Supervisi klinis dianggap paling cocok dalam pengamatan proses
pembelajaran karena:
A. Pendekatan pengamatan paling praktis dsari teknik yang lain
B. Adanya phase perencanaan, observasi ke kelas dan kegiatan umpan balik
C. Observasi yang beroreantasi pada peristiwa pembelajaran
D. Supervisi klinis memperbaiki proses belajar ketimbang meningkatkan hasil
8. Menafsirkan data penelitian mencakup kegiatan….
A. Menyusun resume data factual
B. Membuat narasi dari data factual
C. Membuka diri untuk pemikiran dan sifnifikansi baru
D. Menginterpretasikan hasil ke dalam laporan penelitian
9. Pada tahap penafsiran data penelitian, peneliti merasakan kejenuhan, karena….
A. Terlalu lama ia melakukan penelitian
B. Terlalu sukar tantangan berfikirnya
C. Tidak ada petunjuk dan pedomannya
D. Tidak ada alat-alatnya
10. Seringkali guru cenderung menggunakan daftar pertanyaan sebagai alat
pengumpul data, karena…
A. Meringankan tugas guru
B. Membuat pertanyaan paling efektif mencapai tujuan
C. Mengganggu komunikasi sosial antar guru di sekolah
D. Observasi dan wawancara diperlukan keterampilan yang memadai
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
METODE PENGUMPULAN DATA WAWANCARA DAN KUESIONER
A. Pengumpulan Data melalui Wawancara
Selain melakukan pengamatan atau observasi dalam pengumpulan data
penelitian tindakan kelas dapat juga dengan menggunakan wawancara. Malahan
wawancara ini dianggap sebagai metode pengumpulan data yang paling mendekati
pada objektivitas dan akurasi data sebab peneliti langsung berhadapan dengan
sumber data.
Menurut Goetz dan LeCompte (1984) dalam Soehartono (l999) wawancara
merupakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orangorang
yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang
dipandang perlu. Dari pandangan lain, wawancara adalah pengumpulan data
dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada
responden dan jawaban responden dicatat atau direkam (tape recorder). Teknik
wawancara dapat digunakan dengan media komunikasi lain seperti telepon.
Menurut Soehartono (l999) ada tiga macam wawancara, yakni wawancara baku
dan terjadwal, wawancara baku dan tidak terjadwal, serta wawancara tidak baku.
Wawancara baku memposisikan pertanyaan-pertanyaan yang sama diajukan dalam
urutan yang sama, apabila pertanyaan lanjutan atau probing diperlukan, maka hal
itu juga harus baku. Wawancara yang tidak terjadwal adalah bentuk lain dari yang
terjadwal, hanya saja urutannya yang berubah tergantung jawaban yang diberikan
oleh informan. Namun demikian, fleksibilitas dari pewawancara dianjurkan agar
wawancara berlangsung wajar dan responsive. Wawancara yang tidak baku biasa
disebut juga sebagai wawancara pedoman interview guide, yang berbentuk
pertanyaan-pertanyaan umum dan khusus yang diantisipasi pewawancara secara
informal dalam urutan dan kesempatan yang tersedia (Goetz dan LeCompte:
1984:119).
Sedang menurut Hopkins (1993:125) wawancara adalah suatu cara untuk
mengetahui situasi tertentu didalam kelas dilihat dari sudut pandang yang lain.
Orang-orang yang diwawancarai dapat termasuk beberapa orang siswa, kepala
sekolah, beberapa teman sejawat, pegawai tata usaha sekolah, orangtua siswa, dll.
Mereka disebut informan atau key informants, yaitu mereka yang mempunyai
pengetahuan khusus, status, atau keterampilan berkomunikasi mengingat
pemahaman terhadap masalah tertentu lebih unggul. Karena guru atau dosen
dalam posisinya mengajar di kelas dan di sekolah atau di ruang kuliah, lebih baik
yang melakukan wawancara adalah mitra peneliti. Dalam diskusi, guru
mendengarkan atau membaca laporan wawancara dengan sikap terbuka dan sikap
tidak berpihak. Apabila sikap objektif ini secara transparan terlihat, guru mungkin
saja melakukan wawancaranya sendiri.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar wawancara berlangsung efektif
adalah:
· Bersikaplah sebagai pewawancara yang simpatik, yang berperhatian dan
pendengar yang baik, tidak berperan terlalu aktif, untuk menunjukkan bahwa
anda menghargai pendapat anak
· Bersikaplah netral dalam relevansinya dengan pelajaran. Janganlah anda
menyatakan pendapat anda sendiri tentang hal itu, atau mengomentari
pendapat anak. Upayakan jangan menunjukkan sikap terheran-heran atau tidak
menyetujui terhadap apa yang dinyatakan atau yang ditunjukkan anak.
· Bersikaplah tenang, tidak terburu-buru atau ragu-ragu, dan anak menunjukkan
sikap yang sama.
· Mungkin anak yang diwawancarai akan merasa takut kalau-kalau mereka
menunjukkan sikap atau gagasan yang salah menurut anda. Yakinlah anak,
bahwa pendapatnya penting bagi anda. Bahwa apa yang mereka pikirkan
penting bagi anda, dan bahwa wawancara ini bukan tes atau ujian.
· Secara khusus perhatikan bahasa yang anda gunakan untuk wawancara, ajukan
frasa yang sama pada setiap pertanyaan; selalu ingat akan garis besar tujuan
wawancara, ulangi pertanyaan apabila anak menjawab terlalu umum atau
kabur sifatnya.
Ada beberapa bentuk wawancara, antara lain wawancara terstruktur,
wawancara setengah terstruktur, dan wawancara tidak terstruktur. Yang disebut
wawancara terstruktur, ialah apabila anda sebagai pewawancara sudah
mempersiapkan bahan wawancara terlebih dahulu. Sedangkan dalam wawancara
yang tidak terstruktur, prakarsa untuk memilih topic bahasa diambil oleh anak/atau
orang yang anda wawancarai. Apabila wawancara sudah berlangsung, anda dapat
mengarahkan agar yang diinterview menerangkan, mengelaborasi, atau
mengklarifikasi jawaban yang kurang jelas. Wawancara yang semi terstruktur
adalah bentuk wawancara yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu, akan tetapi
memberikan keleluasaan untuk menerangkan agak panjang mungkin tidak
langsung ke fokus pertanyaan/bahasan, atau mungkin mengajukan topic bahasan
sendiri selama wawancara berlangsung (Elliott, 1991: 80).
Ada baiknya anda menggunakan alat rekaman untuk membantu catatan
lapangan anda, juga sebagai alat untuk mengingatkan topik bahasan, atau pun
untuk memulai wawancara dengan memutar rekaman terdahulu agar anda dan
yang diwawancarai tetap berada di jalur pembicaraan, dengan seizin pihak yang
diwawancarai. Berikut ini beberapa teknik dan alat yang diperlukan.
Persyaratan pewawancara, antara lain
a. bersikap simpatik, menarik, dan perhatian terhadap pendengar, tanpa
mengambil bagian aktif dalam wawancara
b. bersikap netral terhadap suatu masalah
c. harus rileks
d. gunakan kata-kata “pendapatmu sangat penting bagiku-yang saya ingin
ketahui adalah apa yang kamu pikirkan- ini bukan ujian dan bukan jawaban
tunggal”
e. khususnya disarankan bahwa:
1. susunlah kalimat yang sama setiap kali bertanya
2. sediakan garis besar pertanyaan di depan anda
3. susun kembali pertanyaan jika tidak dipahami oleh responden atau jika
jawabannya masih kabur dan terlalu umum.
Dalam melakukan wawancara, perlu diingat bahwa pewawancara ingin
mengetahui sikap dan pendapat responden. Ini berarti bahwa pewawancara harus
bersikap netral dan tidak mengarahkan jawaban atau tanggapan responden.
Apabila jawaban atau tanggapan responden tidak jelas untuk dimasukan dalam
kategori yang mana dari sejumlah kategori yang sudah disediakan, maka
pewawancara jangan mencoba menggolongkannya sendiri tanpa klarifikasi dengan
nara sumber. Sebaiknya pewawancara mengulangi jawaban atau tanggapan yang
diberikan responden dan kemudian menanyakan kepada responden kategori mana
yang menurut responden paling sesuai untuk jawaban atau tanggapannya tersebut.
Pewawancara harus telah menguasai instrument penelitian agar perhatiannya tidak
terpusat pada instrument saja, yang dapat mengganggu hubungan yang sudah
terjalin antarapewawancara dan responden.
Berikut ini adalah contoh hasil wawancara seorang peneliti dengan dua
orang guru yang diobservasi untuk keperluan Penelitian Tindakan Kelas mengenai
“Model Teknik Non-Tes Bentuk Inkuiri dalam Pembelajaran IPS”. Pertanyaan
yang diajukan adalah apakah kedua guru tersebut sudah mengenal bentuk evaluasi
ini dan bagaimana pendapatnya. Jawaban mereka adalah sebagai berikut.
“AS dan AT (keduanya inisial nama guru) setuju dengan penerapan teknik
non-tes bisa memberikan gambaran kemampuan siswa secara lebih lengkap.
Walaupun mereka belum pernah menerapkan teknis non-tes tetapi mengakui
manfaat evaluasi non-tes sangat baik untuk mengetahui kemajuan hasil belajar
siswa, terutama pada kegiatan pengisian angket maupun wawancara, sehingga
guru dapat mengetahui dengan langsung pendapat siswa atau sikap siswa terhadap
suatu pokok bahasan yang disampaikan. Guru belum mencobakan teknik ini,
karena merasa belum memahami langkah-langkahnya dan belum pernah
diinstruksikan untuk menerapkan teknik nontes ini. Selain itu soal-soal tes yang
sudah distandardisasi sudah disediakan oleh Kandepdiknas. Jadi, soal-soal itulah
yang digunakan untuk mengevaluasi kemajuan hasil belajar siswa”.
B. Alat Pengumpulan Data Angket/Kuesioner
Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan
menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk disi oleh responden.
Responden merupakan orang yang memberikan tanggapan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti. Angket dilakukan secara tidak
langsung, artinya peneliti tidak melakukan langsung bertanya jawab dengan
responden, akan tetapi responden hanya menjawab sejumlah pertanyaan atau
pernyataan yang disediakan oleh peneliti. Sama halnya dengan wawancara, bentuk
pertanyaan bisa beragam seperti: pertanyaan terbuka, pertanyaan bersruktur dan
pertanyaan tertutup.
Pada angket dengan pertanyaan terbuka, angket berisikan pertanyaan atau
pernyataan pokok dapat dijawab oleh responden secara bebas dan tidak ada
penekanan dari peneliti. Pertanyaan di angket tidak boleh ada rincian yang
memberikan arahan dalam memberikan jawaban responden. Benar-benar
responden memiliki kebebasan untuk memberikan jawaban atau respons sesuai
dengan persepsinya. Namun kelemahanya adalah sulit mengolahnya karena harus
membaca semua jawaban yang diberikan responden kemudian
menggolongkannya.
Pada angket berstruktur, pertanyaan atau pernyataan sudah disusun secara
berstruktur di samping ada pertanyaan pokok atau utama, juga bisa anak
pertanyaan atau sub pernyataan. Sedangkan dalam angket tertutup, pertanyaan
atau pernyataan telah disediakan alternatif jawaban (option) sehingga responden
tinggal memilih sesuai dengan seleranya. Caranya sesuai dengan petunjuk
pengisian seperti melingkari huruf di depan jawaban yang dipilih. Tidak
dibenarkan, responden memberikan jawaban lain kecuali yang telah tersedia
sebagai alternatif jawaban. Kelebihan pertanyaan tertutup mudah dalam
mengolahnya dibandingkan dengan terbuka yang harus menggolongkan jawaban
responden. Namun kekurangannya tidak memberikan kebebasan kepada
responden untuk memberikan jawabannya. Untuk mengatasi hal itu, biasanya
dibuat gabungan antara pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka, yaitu setelah
diberikan semua pilihan jawaban, kemudian diberikan pula alternative secara
terbuka untuk menuliskan jawaban lainnya.
Mengingat angket dijawab sendiri oleh responden, maka peneliti tidak
selalu hadir bersama responden boleh saja peneliti memberikan kepercayaan
penuh pada responden. Karena itu harus ada petunjuk pengisian bagaimana cara
menjawab pertanyaan atau pernyataan tersebut secara jelas. Kondisi ini sangat
diperlukan untuk mengeleminir kesalahan yang kerap terjadi ketika responden
memberikan penafsiran yang keliru terhadap penjelasan dalam angket.
Angket atau kuesioner ini hampir sama berupa sejumlah pertanyaan yang
harus dijawab oleh responden, hanya berbeda dalam cara penyajiannya, ada
sejumlah pertanyaan yang bersifat tertutup dan ada pertanyaan yang bersifat
terbuka. Jika peneliti sudah membatasi pertanyaan dengan meminta jawaban
responden yang sudah ditentukan gunakanlah angket tertutup, namun yang
diinginkan peneliti sejauhmana sikap responden tentang pertanyaan yang diajukan
bersifat terbuka berarti memberikan kesempatan yang leluasa pada responden,
hanya biasanya dibuatkan rambu-rambu jawaban atau tidak sama sekali.
Petunjuk penyusunan dan pelaksanaan angket yang perlu diperhatikan,
yaitu:
Pertama, sebelum butir-butir pertanyaan atau pernyataan disusun sebaiknya
diberikan petunjuk cara pengisian. Dalam pengantar dijelaskan maksud
pengedaran angket, jaminan kerahasian jawaban responden, keterkaitan dengan
pekerjaan dan ucapan terimakasih kepada responden dari peneliti. Petunjuk
pengisian menjelaskan bagaimana cara menjawab pertanyaan atau respon
pernyataan yang tersedia.
Kedua, butir-butir pertanyaan dirumuskan secara jelas, menggunakan kata-kata
yang lazim (popular), kalimat tidak terlalu panjang dan tidak beranak segala.
Dalam butir-butir pertanyaan atau pernyataan tertutup sebaiknya hanya berisi satu
pesan sederhana, sedangkan dalam pertanyaan atau pernyataan terbuka bisa berisi
satu pesan kompleks atau lebih darisatu pesan yang tidak terlalu kompleks. Dalam
pertanyaan atau pernyataan berstruktur, untuk anak pertanyaan atau sub
pertanyaan sebaiknya hanya berisi satu pesan yang tidak mengandung penafsiran
yang kompleks.
Ketiga, setiap pertanyaan atau pernyataan terbuka dan berstruktur disediakan
kolom untuk menuliskan alternative jawaban atau respon dari responden
secukupnya. Sedangkan untuk pertanyaan atau pernyataan secara tertutup telah
disediakan alternatif jawaban dan setiap alternative hanya berisikan satu pesan
sederhana. Jawaban atau respons dari responden dapat langsung diberikan pada
alternative jawaban atau menggunakan lembar jawaban khusus bersatu atau
terpisah dari lembar pertanyaan/pernyataan. Untuk menghindari kekeliruan
sebaiknya jawaban atau respon langsung diberikan pada alternative jawaban atau
menggunakan kolom jawaban yang bersatu dengan pertanyaan atau pernyataan.
Rubin & Babbie dalam Soehartono (l999) memberikan pedoman yang
harus diperhatikan dalam menyusun pertanyaan atau pernyataan instrument
angket, sbb.:
1. Pertanyaan atau pernyataan yang dibuat harus jelas dan tidak meragukan.
Syarat ini penting mengingat angket memberikan peluang bagi peneliti untuk
tidak bertatap muka langsung dengan responden.
2. Hindari pertanyaan atau pernyataan yang mengandung penafsiran ganda,
karena itu setiap pertanyaan/pernyataan cukup mengandung satu ide saja.
Jawaban atas pertanyaan dan pernyataan yang mengandung lebih dari satu ide
akan membingungkan responden untuk menjawabnya. Caranya, jika suatu
nomor pertanyaan mengandung kata “dan” maka perlu diteliti kembali apakah
hal ini merupakan pertanyaan atau pernyataan ganda.
3. Responden harus memiliki kemampuan untuk menjawab. Syarat ini
dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban yang betul-betul bisa dipercaya
4. Pertanyaan dan pernyataan harus relevan dengan masalah penelitian. Unsur
relevansi berkenaan dengan tujuan penelitian dan kemampuan responden itu
sendiri yang merupakan unsure harus dipertimbangkan.
5. Pertanyaan atau pernyataan yang pendek adalah yang paling dianjurkan,
karena dapat menghindari dari ketidakjelasan yang sering timbul dengan
pertanyaan atau pernyataan yang lebih rumit.
6. Hindari pertanyaan, pernyataan, istilah asing dan bias, termasuk tidak
menanyaklan pertanyaan atau pernyataan yang sugestif, yaitu yang mendorong
responden untuk menjawab atau ke arah tertentu.
7. Urutan pertanyaan atau pernyataan dimulai dari yang menarik dan tidak
pertanyaan sensitive atau pribadi. .
8. Petunjuk pengisiannya harus jelas, misalkan dengan meminta membubuhkan
tanda cek (V) atau memberikan lingkaran pada alternative jawaban yang
sesuai.
9. Angket dikirimkan harus disertai dengan surat pengantar yang menjelaskan
maksud dan tujuan penelitian serta siapa penelitinya.
10. Format instrument angket perlu dibuat secara menarik dan mudah untuk diisi.
Latihan
Setelah Anda mempelajari Kegiatan Pembelajaran 2 dalam BBM ini, Anda harus
melakukan tugas latihan yang dirancang dari materi Kegiatan yang sama, supaya
Anda lebih memperdalam pemahaman materi yang diuraikan dalam BBM ini.
Latihan yang harus Anda lakukan dengan cara mendiskusikan dengan teman
sejawat Anda, yaitu:
1. Coba anda diskusikan dengan teman dekat anda, mengenai mengapa
wawancara merupakan alat pengumpul data dalam PTK yang paling objektif?
2. Jelaskan apa saja langkah-langkah wawancara yanbg efektif dilakukan oleh
pewawancara?
3. Jelaskan pula syarat-syarat pewawancara yang ideal dalam PTK?
4. Terangkan kepada teman anda mengenai alat pengumpul data lain selain
observasi dan wawancara yang dapat digunakan pada PTK?
5. Diskusikan pula dengan sesame teman anda, bagaimana menyusun alat
pengumpul data angket yang valid dan reliable itu?
Petunjuk Jawaban Latihan
1. Kegiatan wawancara ini dianggap sebagai metode pengumpulan data yang
paling mendekati pada objektivitas dan akurasi data sebab peneliti langsung
berhadapan dengan sumber data, sehingga peneliti dengan leluasa
menafsirkan data yang diperolehnya.
2. a. Bersikaplah sebagai pewawancara yang simpatik
b. Bersikaplah netral dalam relevansinya dengan pelajaran. Bersikaplah
tenang, tidak terburu-buru atau ragu-ragu, dan anak menunjukkan sikap
yang sama.
c. Mungkin anak yang diwawancarai akan merasa takut kalau-kalau mereka
menunjukkan sikap atau gagasan yang salah menurut anda.
d. Secara khusus perhatikan bahasa yang anda gunakan untuk wawancara
3. Persyaratan pewawancara, antara lain
a. bersikap simpatik, menarik, dan perhatian terhadap pendengar, tanpa
mengambil bagian aktif dalam wawancara
b. bersikap netral terhadap suatu masalah
c. harus rileks
d. gunakan kata-kata “pendapatmu sangat penting bagiku-yang saya ingin
ketahui adalah apa yang kamu pikirkan- ini bukan ujian dan bukan
jawaban tunggal”
e. susunlah kalimat yang sama setiap kali bertanya
f. sediakan garis besar pertanyaan di depan anda
g. susun kembali pertanyaan jika tidak dipahami oleh responden atau jika
jawabannya masih kabur dan terlalu umum
4. Alat pengumpul data lainya seperti tes, dokumentasi, sosiometri, kuesioner,
fortofolio, kartu cek, dan slide dan fotografi.
5. Angket disusun dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan yang berpedoman
pada variabel dan indikator masalah yang diteliti. Kemudian dicek oleh ahli
(Expert judgement) atau diuji kesahihan berdasarkan uji validitas dan
reliabilitas (koefesien korelasi).
RANGKUMAN
Alat pengumpul data wawancara merupakan pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan
informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang perlu. Ada tiga macam
wawancara, yakni wawancara baku dan terjadwal, wawancara baku dan tidak
terjadwal, serta wawancara tidak baku. Wawancara baku memposisikan
pertanyaan-pertanyaan yang sama diajukan dalam urutan yang sama, wawancara
yang tidak terjadwal adalah bentuk lain dari yang terjadwal, hanya saja urutannya
yang berubah tergantung jawaban yang diberikan oleh informan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar wawancara berlangsung efektif
adalah: Bersikaplah sebagai pewawancara yang simpatik, bersikaplah netral dalam
relevansinya dengan pelajaran. Bersikaplah tenang, tidak terburu-buru atau raguragu,
dan anak menunjukkan sikap yang sama. Ada beberapa bentuk wawancara,
antara lain wawancara terstruktur, wawancara setengah terstruktur, dan
wawancara tidak terstruktur.
Angket atau kuesioner ini hampir sama berupa sejumlah pertanyaan yang
harus dijawab oleh responden, hanya berbeda dalam cara penyajiannya, ada
sejumlah pertanyaan yang bersifat tertutup dan ada pertanyaan yang bersifat
terbuka. Jika peneliti sudah membatasi pertanyaan dengan meminta jawaban
responden yang sudah ditentukan gunakanlah angket tertutup, namun yang
diinginkan peneliti sejauhmana sikap responden tentang pertanyaan yang diajukan
bersifat terbuka berrati memberikan kesempatan yang leluasa pada responden,
hanya biasanya dibuatkan rambu-rambu jawaban atau tidak sama sekali.
Tes Formatif:
Untuk memeriksa kembali apakah Anda telah memahami bahan
pembelajaran yang dibahas pada BBM ini, cobalah Anda sebaiknya selesaikan
soal berikut di bawah ini:
l. Beberapa hal perlu diperhatikan agar wawancara berlangsung dengan efektif,
antara lain :
A. Pewawancara sebaiknya bersikap simpatik
B. Pewawancara sebaiknya bersikap low profil
C. Pewawancara bersikap apriori
D. Peawancara bersikap menguji
2. Fortofolio sebagai alat ukur memiliki karakter, kecuali:
A. Mengukur setiap prestasi belajar siswa
B. Merupakan hasil karya kemajuan belajar siswa
C. Bertujuan untuk menilai diri sendiri
D. Toleransi belajar mempertimbangkan kepentingan
3. Mengapa Anda harus mempunyai mitra dalam penelitian kelas ini:
A. Karena harus kolaboratif
B. Karena harus partisipatif
C. Karena tugas pembelajaran dilaksanakan sendiri
D. Karena peneliti bertugas sebagai pengamat saja
4. Peneliti harus bersikap netral pada saat melakukan wawancara dengan nara
sumber, maksudnya netral disini adalah:
A. Tanpa ada keberpihakan ke dalan materi wawancara
B. Tanpa ada sikap tertentu dari pewawancara
C. Menjaga image positif dalam penelitian
D. Ada kecenderungan ke salah satu kubu
5. Sebuah catatan yang menunjukkan arah kecenderungan bahasan positif maupun
negative adalah:
A. Analisis dokumen
B. Catatan Lapangan
C. Anecdotal Record
D. Psikotes
6. Peneliti melakukan wawancara pada nara sumber dengan syarat, kecuali:
A. Berusaha meyakinkan pentingnya bahasan
B. Bersikap netral
C. Memberi kesan simpati pada nara sumber
D. Bersikap hati-hati dan teliti terhadap data yang terkumpul
7. Untuk melakukan wawancara sebaiknya mitra peneliti yang melakukan sebab:
A. Merasa bebas tidak ada kepentingan
B. Saat bersamaan dengan proses pembelajaran
C. Menjamin objektivitas penelitian
D. Peneliti sibuk sebagai pengamat
8.Banyak ragam alat pengumpul data penelitian antara lain sosiometri, bertujuan:
A. Meningkatkan hubungan diantara sesama kelompok
B. Mengukur struktur emosional suatu kelompok
C. Mengukur struktur emosional suatu kelompok
D. Memberi gambaran kasar tentang sikap individu
9. Alat monitoring Slide dan Foto pada penelitian berguna untuk:
A. Melukiskan kejadian penting di kelas
B. Dokumentasi alur peristiwa yang penting
C. Merangsang anak untuk berfikir
D. Bahan kenangan peristiwa penting di kelas
10. Membuat sintesis dalam penafsiran data penelitian memerlukan pendekatan:
A. Interdisipliner dan intradisipliner
B. Interdisipliner dan multidisipliner
C. Interdisipliner dan transdisipliner
D. Multidipliner dan one man show
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3
METODE PENGUMPULAN DATA DOKUMENTASI DAN LAINNYA
A. Teknik Pengumpulan Data Dokumentasi
Ada beberapa teknik pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas
yang lazim digunakan seperti observasi, wawancara, angket dan studi
dokumentasi. Teknik dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik
pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen,
baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Studi dokumentasi ini bersifat
tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian, akan tetapi berupa berbagai
macam tidak hanya bersifat resmi.
Dokumen itu dapat dibedakan atas dokumen primer dan dokumen skunder.
Jika dokumen itu ditulis oleh seseorang yang langsung mengalami suatu peristiwa
itu, maka dikatakan dokumen primer. Sebaliknya apabila peristiwa itu dilaporkan
kepada orang lain yang selanjutnya ditulis oleh orang ybs, maka disebut dokumen
sekunder. Otobiografi merupakan contoh dokumen primer, sedanmgkan biography
seseorang adalah contoh dokumen skunder.
Dokumen dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat,
dan catatan kasus. Namun dokumen sehubungan penelitian, harus sesuai dengan
fokus masalah penelitian dan tujuan. Jika focus penelitiannya berkenaan dengan
kebijakan pembelajaran dengan tujuan mengkaji dan menganalisis kebijakan
tersebut, maka yang diteliti adalah dokumen yang berhubungan dengan Undang-
Undang Sistim Pendidikan, Kepmen, Kurikulum, Peraturan Pemerintah, Pedomanpedoman
sampai juklak dan juknis yang berkenaan dengan kebijakan
pengembangan pembelajaran.
Dokumen-dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan perjalanan sejarah
kelahirannya, kekuatan dan kesesuaian materinya dengan tujuan pengkajian.
Isinya dianalisis dan diurai sedemikian rupa kemudian dibandingkan dan
dipadukan untuk mensintesisnya membentuk satu hasil kajian yang sistimatis,
terpadu dan utuh. Dengan demikian yang harus diingat pada studi dokumentasi
tidak untuk sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam
bentuk kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumen. Akan tetapi yang dilaporkan
dalam penelitian adalah hasil analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut, bukan
dokumen-dokumen mentah yang ditulis apa adanya tanpa dianalisis. Untuk
bagian-bagian tertentu yang dipandang sensitive dan memegang peran kunci dapat
disajikan dalam bentuk kutipan utuh, tetapi yang lainnya disajikan dalam pokokpokoknya
saja dalam bentuk uraian berangkai hasil analisis kritis dari peneliti.
Alat pengumpul data dokumen dalam PTK, kemungkinan banyak
informasi yang sifatnya sudah ada tetapi tersimpan di dalam dokumen, sehingga
untuk mengenalinya membutuhkan upaya menganalisis dokumen yang sudah ada.
Misalnya, buku catatan siswa dapat dipakai untuk mengenali bagaimana daya
tangkap siswa terhadap bahan belajar; buku pegangan guru; Rencana Persiapan
Pembelajaran (RPP) atau SAP guru bidang studi; buku pekerjaan rumah untuk
mengenali intensitas pengerjaan tugas-tugas. Dokumen seperti memo, surat, surat
kedudukan, kertas ujian, kliping surat kabar, dan sebagainya tentang kurikulum
atau yang berkaitan dengan pendidikan dapat menjelaskan rasional (alasan) dan
tujuan dengan cara yang menarik. Penggunaan materi yang demikian dapat
memberikan latar belakang informasi dan pengertian dari masalah-masalah yang
tidak akan tersedia dengan cara lain. Kegunaan utama dari dokumen dalam
penelitian tindakan kelas adalah dokumen itu memberikan konteks untuk
memahami kurikulum atau metode mengajar.
Beberapa keuntungan penelitian dokumentasi adalah:
1. Untuk subjek penelitian yang sukar atau tidak dapat dijangkau seperti sekolah
terpencil, studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan
penelitian.
2. Takreaktif, karena studi dokumentasi tidak dilakukan secara langsung dengan
orang, maka data yang diperlukan tidak terpengaruh oleh kehadiran peneliti atau
pengumpul data. Hal ini berbeda dengan wawancara, observasi dan angket yang
dapat mempengaruhi tingkah laku subjek yang diteliti.
3. Analisis longitudinal, untuk studi yang bersifat longitudinal , khususnya yang
menjangkau jauh ke massa yang lalu, maka studi dokumentasi memberikan
cara yang terbaik.
4. Besar sampel, dokumen-dokumen yang tersedia memungkinkian untuk
mengambil sampel yang lebih besar karena biaya yang diperlukan relatif kecil
Bailey (l982) dalam Soehartono (l999).
Di samping kelebihan Penelitian Tindakan Kelas, juga ada beberapa kerugian
studi dokumentasi sbb.:
1. Bias, rata-rata guru memperoleh data tidak untuk keperluan penelitian, maka
data yang diperoleh kemungkinman bias, seperti ceritra yang berlebihan atau
ada fakta yang disembunyikan.
2. Tersedia secara selektif, tidak semua dokumentasi dipelihara untuk dapat
dibaca ulang oleh orang lain. Catatan oleh orang ternama kemungkinan besar
disimpan dengan baik, tetapi catatan tentang orang-orang biasa tidak selalu
bahkan tidak ada.
3. Tidak lengkap, karena tujuan penulisan dokumen berbeda dengan tujuan
penelitian, maka data yang tersedia mungkin tidak lengkap , maksudnya
bahwa data yang diperlukan oleh penelitian tidak tercatat pada saat penulisan
dokumen.
4. Format yang tidak baku, sejalan dengan maksud dan tujuan penulisan
dokumen yang berbeda dengan tujuan penelitian, maka formatnya juga dapat
bermacam-macam, sehingga bisa mempersulit pengumpulan data, akibatnya
sukar memberikan kode pada data.
B. Teknik Pengumpulan Data yang lain.
Berikut ini teknik alat pengumpul data lain yang dapat digunakan pada
Penelitian Tindakan Kelas, yaitu:
1. Tes
Alat pengumpul data tes bersifat mengukur, karena berisi pertanyaan atau
pernyataan yang alternative jawabannya memiliki standar jawaban tertentu.
Instrumen yang berisi skala jawaban benar-salah, pilihan jamak, menjodohkan,
jawaban singkat dan tes isian. Tes dipakai untuk mengukur kemampuan siswa,
baik kemampuan awal, perkembangan atau peningkatan kemampuan selama
dikenai tindakan, dan kemampuan pada akhir siklus tindakan. Tes ini sangat
beragam, dari tes sederhana yang dikenal dengan kuis, sampai dengan bentuk tes
lengkap. Tes dilakukan secara tertulis, lisan, atau tes kinerja.Menurut waktunya
dibedakan dalam rentang: satu pertemuan (teas akhir pertemuan), satu pokok
bahasan (tes akhir pokok bahasan), satu minggu (tes mingguan), setengah
semester (tes tengah semester), dan satu semester (tes akhir semester). Tes
umumnya bersifat mengukur, walaupun beberapa bentukj tes psikologis terutama
tes kepribadian banyak yang bersifat deskriptif, tetapi deskripsinya mengarah
kepada karakteristik atau kualifikasi tertentu sehingga mirip dengan interpretasi
dari hasil pengukuran. Tes yang digunakan dalam pembelajaran biasa dibedakan
antara tes hasil belajar (achievement test) dan tes psikologis (psychological test).
Menurut fungsinya tes hasil belajar ini dapat dibedakan antara tes diagnostic,
penempatan, formatif dan sumatif.
2. Skala
Skala merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat mengukur, karena
diperoleh hasil ukur yang berbentuk angka-angka. Skala berbeda dengan tes, jika
tes ada jawaban mana yang salah mana yang benar, sedangkan skala tidak ada
jawaban benar-salah, tetapi jawaban atau respon responden terletak dalam satu
rentang (skala). Titik ketika rentang dipilih itulah menunjukkan posisi responden.
Ada beberapa macam skala yaitu: skala deskriptif, garis, pilihan wajib,
perbandingan pasangan dan daftar cek.
Skala deskriptif mengikuti bentuk skala sikap dari Likert, berupa
pertanyaan atau pernyataan yang jawabannya berbentuk skala persetujuan atau
penolakan terhadap pertanyaan/pernyataan, dimulai dari sangat setuju, setuju,
ragu-ragu, tidak setuju sampai sangat tidak setuju. Skala garis hampir sama
dengan skala deskriptif yaitu reponden tidak dalam bentuk persetujuan akan tetapi
bisa bervariasi sesuai dengan rumusan pertanyaan/.pernyataan. Skala pilihan wajib
berbentuk pernyataan yang diikuti oleh sejumlah alternative jawaban yang
berkenaan dengan minat belajar. Responden wajib memilih satu jawaban atau
respon yang paling disukai dan satu jawaban yang tidak disukai. Skala
perbandingan pasangan digunakan untuk mengukur persepsi, penilaian atau minat
terhadap sesuatu objek yang berbentuk kegiatan. Pengukuran dilakukan dengan
membandingkan dua atau lebih dari dua objek yang seimbang. Daftar cek
berbentuk skala yang berisi sejumlah pertanyaan yang singkat yang harus direspon
dengan cara membubuhkan tanda cek.
3. Catatan Lapangan, Anecdotal Records dan Kartu
Kedua alat ini untuk mencatat informasi kualitatif yang terjadi terkait
dengan tindakan. Hal-hal yang dicatat sangat banyak macamnya, misalnya
perilaku spesifik yang dapat menjadi penunjuk adanya permasalahan atau
penunjuk untuk langkah berikutnya. Catatan kualitatif juga dapat dipakai untuk
menunjukkan kecenderungan perubahan yang bersifat positif atau negative.
Sistem kartu juga sangat membantu pencatatan berbagai hal. Satu kartu
untuk informasi yang satu kluster. Untuk siswa dapat dibuat kartu prestasi. Kartu
juga dapat dipakai untuk merekam perkembangan proses pembelajaran antar
waktu, misalnya kartu tentang cara membuka pelajaran, menutup pelajaran,
mengajukan pertanyaan, dan sebagainya.
4. Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu
yang diseleksi menurut panduan yang ditentukan. Biasanya fortofolio karya
terpilih siswa atau karya terpilih dari suatu kelas siswa secara keseluruhan yang
bekerja secara kooperatifmemilih, membahas, mengolah, menganalisis untuk
mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji. Tampilan portofolio
berupa tampilan visual dan audio yang disusun secara sistimatis, melukiskan
proses berfikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. Secara utuh
menggambarkan pengalaman belajar yang terpadu dan dialami siswa dalam kelas
sebagai suatu kesatuan. Portofolio pada dasarnya laporan naratif kualitatif atas
berbagai hal bergantung pada pokok persoalannya...
5. Sosiometri
Analisis sosiometrik atau sosiometri adalah teknik yang digunakan untuk
mengukur struktur emosional dari suatu kelompok. Sebagai instrumen diagnosik,
tujuan sosiometri adalah memberi gambaran kasar tentang perasaan tertarik,
bimbang, dan penolakan yang terjadi antara anggota-anggota dalam kelompok.
Pendekatan ini memiliki penerapan di kelas yang jelas apabila kita ingin
mengetahui struktur sosial dari kelas itu untuk penelitian atau lainnya. Yang
paling penting dari “tujuan lainnya” adalah untuk mengidentifikasi siswa yang
terisolasi agar dapat dilakukan tindakan remedial.
Sebelum mengadministrasikan tes sosimetri, penting sekali meyakini
bahwa para siswa saling mengenal satu sama lain dengan baik, kerahasiaan harus
dijamin, dan sebagai konsekuensi tindakan perlu diambil. Dalam arti ini
sosiometri merupakan proses yang dinamis yang dapat meningkatkan sikap dan
hubungan siswa serta mempertinggi kelas.
6. Slide, Tape Fotografi dan Perekam Suara
Slide dan fotografi, dengan atau tanpa tambahan audio tape, adalah cara
yang amat bermanfaat untuk merekam kejadian-kejadian kritis dalam kelas atau
melukiskan suatu episode pengajaran. Alat itu dapat juga membantu alat
pengumpul data yang lain misalnya interview atau field note sebagai sarana untuk
memberikan acuan pada interview atau diskusi. Pendekatan ini akan menjadi lebih
baik lagi jika ditambahkan video.Kegunaan utama slide dan foto dalam penelitian
tindakan kelas adalah sebagai alat untuk melukiskan kejadian kritis di kelas dan
merangsang diskusi
Perekam suara merupakan cara yang memerlukan alat perekam elektronik
seperti kamera atau video tape recorder dapat merekam banyak informasi dan
untuk pengolahannya perlu dilakukan telaah secara mendalam
LATIHAN
Setelah Anda mempelajari Kegiatan Pembelajaran 3 dalam BBM ini, Anda
harus melakukan tugas latihan yang dirancang dari materi Kegiatan yang sama,
supaya Anda lebih memperdalam pemahaman materi yang diuraikan dalam BBM
ini. Latihan yang harus Anda lakukan dengan cara mendiskusikan dengan teman
sejawat Anda, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan dokumen primer dan dokumen skunder?
2. Jelaskan pengertian keuntungan dan kerugian studi dokumentasi?
3. Jelaskan perbedaan instrument tes dengan skala sebagai instrument PTK?
4. Bagaimana langkah-langkah praktis menyusun skala deskriptif dari Likert?
5. Kemukakan contoh skala garis dengan rentang lima?
Petunjuk Jawaban Latihan
1. Dokumen primer ditulis oleh orang yang langsung mengalami peristiwa
(otobiografi), dokumen skunder manakala peristiwa itu dilaporkan kepada orang
lain yang ditulis oleh orang yang bersangkutan (biografi).
2. Keuntungan studi dokumentasi adalah objektivitas lebih tinggi karena saat
pengambilan data tidak langsung dengan orang, sehingga data yang diperlukan
tidak dipengaruhi kehadiran peneliti. Kerugiannya adalah sebagian besar data
bias, tidak selektif, tidak baku karena ada yang disembunyikan atau sebaliknya
ceritra yang berlebihan.
3. Instrumen tes bersifat mengukur sehingga ada jawaban salah atau benar,
sedangkan skala tidak ada jawaban yang salah-benar tapi jawaban responden
terletak pada sebuah rentang.
4. Skala deskriptif dimulai dari menyusun kisi-kisi pertanyaan atau pernyataan,
tentukan persetujuan dengan lima pilihan (sangat setuju, setuju, ragu-ragu,
kurang setuju dan sangat tidak setuju).
5. Skala garis dengan rentang lima dimulai dari: sangat lengkap, lengkap, kurang
lengkap, dan tidak lengkap.
RANGKUMAN
Metode alat pengumpul data terdiri dari observasi, wawancara, angket,
dokumentasi, catatan lapangan, anecdotal record, tes, skala dan sosiometri.
Keseluruhan alat pengumpul data tersebut dapt dilaksanakan dalam Penelitian
Tindakan Kelas. Dalam arti disesuaikan dengan keperluan, termasuk fortopolio di
samping sebagai alat penilaian bisa digunakan dalam penelitian. Dokumentasi
berkaitan dengan kebijakan pendidikan dan pembelajaran seperti kurikulum,
Peraturan Pemerintah, Kepmen, pedoman juklak dan juknis. Studi dokumen tidak
sekedar mengumpulkan dan melaporkan tetapi berisikan hasil analisis terhadap
dokumen-dokumen tersebut. Langkah praktis yang dapat dilaksanakan peneliti
dalam teknik pengumpulan data tes meliputi tes hasil belajar dan tes psikologis,
sedangkan skala bisa berbentuk skala deskriptif, skala garis, skala pilihan wajib,
skala perbandingan pasangan dan daftar cek. Kemudian instrument lain seperti
catatan lapangan, anecdotal record, kartu, fortopolio, sosiometri, slide, fotografi,
dan alat rekaman berkaitan dengan pengumpulan data-data secara kualitatif.
TES FORMATIF
Untuk memeriksa kembali apakah Anda telah memahami bahan
pembelajaran yang dibahas pada BBM ini, cobalah Anda selesaikan soal berikut di
bawah ini:
1. Otobiografi merupakan jenis dokumen yang bersifat:
A. Dokumen skunder
B. Dokumen primer
C. Dokumen statis
D. Domen dinamis
2. Salah satu kelebihan pengumpulan data melalui dokumentasi, kecuali adalah:
A. Dapat menjangkau sumber data sekalipun sukar dijangkau
B. Data yang dikumpulkan tidak terpengaruh keadaan peneliti
C. Dapat menjangkau ke masa lalu
D. Data bersifat bias
3. Berikut salah satu kelemahan pada studi dokumentasi, kecuali:
A. Data yang diperoleh sangat akurat
B. Data yang benar dapat disembunyikan
C. Data yang tersedia sering tidak lengkap
D. Sukar memberikan kode pada data
4. Tes yang biasa digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa disebut pula:
A. Achievementt test
B. Psychological test
C. Motor ability test
D. Motor educability test
5. Bentuk pertanyaan atau pernyataan yang jawabannya memerlukan persetujuan
atau penolakan atas pernyataan tersebut adalah:
A. Tes Psikologis
B. Skala deskriftif
C. Skala garis
D. Skala pilahan wajib
6. Rentangan yang dimulai: sangat lengkap, lengkap, kurang lengkap, merupakan
salah satu instrument:
A. Skala garis
B. Skala pilihan wajib
C. Skala pembinaan
D. Sekala likert
7. Skala perbandingan pasangan dimaksudkan untuk mengukur aspek:
A. Stimulus-respon berbeda tapi jarak rentangnya sama
B. Tidak untuk mengukur persepsi siswa
C. Dua objek dibandingkan dalam kondisi yang seimbang
D. Dua objek dibandingkan dengan mempertimbangkan aspek pskhis
8. Suatu instrument yang mengukur pendapat atau persepsi adalah:
A. Daftar cek
B. Skala
C. Tes
d. Non tes
9. Perbedaan yang mutlak antara instrument tes dan instrument non tes adalah:
A. Bersifat mengukur dan bersifat menghimpun
B. Tidak perlu uji intrumen
C. Standarisas cukup dengan validitas isi dan kontrak
D. Digunakan dalam penelitian kualitatip
10. Studi dokumenter tidak mengumpulkan dan melaporkan tetapi analisis
tentang:
A. Sejumlah dokumen
B. Dokumen tidak bersifat mentah
C. Hasil analisis terhadap dokumen-dokumen
D. Hasil analisis kritis terhadap dokumen-dokumen.
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KUNCI JAWABAN TES FORMATIF
Tes Formatif 1:
1. B
2. D
3. A
4. A
5. B
6. A
7. C
8. A
9. A
10. C
Tes Formatif 2:
1. A
2. D
3. C
4. A
5. B
6. D
7. B
8. A
9. B
10. A
Tes Formatif 3:
1. A
2. A
3. A
4. B
5. B
6. A
7. D
8. B
9. A
10. B
GLOSARIUM
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang ditempuh dalam menghimpun
data seperti wawancara, observasi, studi dokumentasi, angket, dan
teknik lainnya.
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, yang dilakukan oleh dua
pihak, yaitu pihak pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan
jawaban atas pertanyaan itu.
Wawancara pembicaraan formal: jenis wawancara ini pertanyaan yang
diajukan sangat bergantung pada spontanitasnya dalam mengajukan
pertanyaan kepada terwawancara. Hubungan pewawancara dengan
terwawancara dalam suasana biasa, wajar seperti pembicaraan dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga terwawancara tidak mengetahui atau
tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancara.
Wawancara baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan seperangkat
pertanyaan baku, mulai urutan pertanyaan, kata-kata pertanyaan, dan
cara menyajikannya pun sama untuk setiap responden.
Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan
sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan
dengan maksud mencari jawaban terhadap hipotesis kerja.
Wawancara tak terstruktur merupakan wawancara yang berbeda dengan
terstruktur, dimana wawancara ini digunakan untuk menemukan
informasi yang tidak baku atau informasi tunggal. Biasanya
wawancara jenis ini pertanyaan yang diajukan tidak disusun
terlebih dahulu malahan disesuaikan dengan keadaan dan cirri yang
unik dari responden
Catatan lapangan: pada waktu dilapangan peneliti membuat catatan, stelah
pulang ke tempat tinggal membuat catatan lapangan yang
berisikan kata-kata kunci, pokok-pokok pengamatan yang berguna
sebagai alat perantara apa yang dilihat, didengar, dirasakan,
dicium, dan diraba dengan catatan sebenarnya dalam bentuk
catatan lapangan.
Dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record yang tidak
dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik.
Record adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau
lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau
menyajikan akunting.
Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang
tindakan, pengalaman, dan kepercayaan untuk memperoleh
kejadian nyata tentang situasi sosial atau arti berbagai faktor di
sekitar subjek penelitian.
Dokumen internal merupakan bagian dari dokumen resmi yang berupa memo,
pengumuman, instruksi, aturan suatu lembaga masyarakat
tertentu yang digunakan dalam kalangan sendiri. Dokumen ini
dapat menyajikan informasi tentang keadaan, aturan, disiplin,
dan dapat memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan.
Dokumen eksternal meruapakan bagian dari dokumen resmi yang berisi bahanbahan
informasi yang dihasilkan oleh suatu lembaga sosial.
Dokumen ini dapat dimanfaatkan untuk menelaah konstek
sosial, kepemimpinan, dan lain-lain.
Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan
daftar pertanyaan atau pernyataan untuk diisi sendiri oleh
responden.
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang jawabannya tidak disediakan,
sehingga responden bebas menuliskan jawabannya sendiri
sesuai dengan persepsi masing-masing.
Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang jawabannya sudah disediakan
peneliti, sehingga responden hanya tinggal memilih salah
satu jawaban yang sudah disediakan dengan memberi tanda
tertentu di depan jawaban yang dipilih.
Tes adalah cara-cara pengumpulan data dengan menggunakan alat atau instrument
yang bersifat mengukur, seperti tes kecerdasan, tes bakat, tes
minat, tes kepribadian, dan tes hasiul belajar.
KEPUSTAKAAN
Bogdan, R. C. & Biklen S.K. (l992). Qualitative Research for Education.
Boston: Allyn and Bacon.
Depdiknas (l999). Penelitian Tindakan Kelas (Classrom Action Research).
Jakarta Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Gall, M.D; Gall, J. P. & Borg, W.R. (2003). Educational Research. Boston:
Pearson Education, Inc.
Elliot, Jhon. (l991). Action Research for Educational Change. Milton Keynes,
Philadelphia
Irawan Soehartono (l999). Metode Penelitian Sosial: Suatu Teknik Penelitian
Bidang Kesejahtraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya.
Bandung: Remaja Rosdakarya
McMillan, J.H. & Schumacher, Sally. (2001). Research in Education. New York:
Longman.
Moleong, J. Lexy (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Nana Syaodih Sukmadinata (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Program
Pascasarjana UPI dengan Remaja Rosdakarya
Natawidjaya, Rochman (l997). Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Bandung:
IKIP Bandung
Rochiati, Wiriaatmadja (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas: Untuk
Meningkatkan Kinerja Guru. Bandung: Kerjasama
Program Pascasarja UPI dengan Remaja Rosdakarya.
Tim Pelatih Proyek PGSM (l999). Penelitian Tindakan Kelas (Classrom Action
Research). Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah
Menengah.
Sumarno (l997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jogyakarta:
Dirjend Pendidikan Tinggi.
BAHAN BELAJAR MANDIRI 6
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA HASIL PENELITIAN TINDAKAN
KELAS
PENDAHULUAN
Pada Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini akan mengemukakan tentang:
pembahasan pengolahan dan analisis data hasil penelitian tindakan kelas dan
beberapa prinsip umum dalam rangka analisis data. Anda akan diajak untuk
membaca dan dianjurkan agar sebelum mempelajari BBM ini hendaknya sekali
lagi mempelajari bagian pengumpulan data pada BBM sebelumnya agar
memperoleh gambaran umum tentang konsep dan prinsipnya. Ada baiknya jika
pada pendahuluan ini Anda mempelajari lebih dahulu tentang gambaran singkat
mengenai proses pengolahan dan analisis data secara umum.
Setelah peneliti berpadu dengan situasi yang diteliti, pengumpulan data
lebih diintensifkan melalui mendengar, melihat, membaca dan merasakan apa
yang ada penuh perhatian, maka pengolahan data mulai dilakukan sehingga
keduanya berjalan berdampingan sampai tidak ditemukan data baru lagi. Peneliti
mengakhiri pengumpulan data ketika semua informasi yang dibutuhkan terpenuhi.
Proses pengolahan data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan, dan dokumentasi serta
teknik lainnya yang sudah dituliskan dalam catatan dilapangan baik dokumen
pribadi maupun dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya.
Dalam Penelitian Tindakan Kelas, metode pengolahan data ini berbagai
ragam yaitu melalui analisis deskriptif, analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
Anda sebagai peneliti sebaiknya melakukan hal-hal berikut: memahami beberapa
definisi mengenai pengolahan data, melakukan langkah-langkah seperti
menyusun kode dan kegiatan koding, dan melakukan analisis bentuk catatan
reflektif. Setelah dipelajari dan ditelaah, langkah berikutnya ialah mengadakan
reduksi data yang dilakukan dengan jalan melakukan abstraksi. Abstraksi
merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataanpernyataan
yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah
selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu
kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dibuat
sambil melakukan koding. Tahap akhir dari pengolahan data ini ialah
mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai tahap ini, mulailah kini
tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantive
dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
Sehubungan dengan uraian tentang proses pengolahan dan analisis serta
penafsiran data, selanjutnya diharapkan Anda dapat:
1. Menjelaskan hakikat dan proses pengolahan dan analisis data
2. Menjelaskan konsep dan implementasi pengolahan dan analisis data PTK
3. Menjelaskan langkah-langkah analisis data melalui Deskriptif
4. Menjelaskan langkah-langkah analisis data melalui Kualitatif
5. Menjelaskan langkah-langkah analisis data melalui Kuantitatif
Kemampuan tersebut harus dimiliki oleh peneliti PTK terutama guru SD
dalam menjalankan tugas mengajar sambil melakukan penelitian tindakan kelas.
Untuk itu, dalam memahami dan menerapkan BBM ini disajikan dalam uraian dan
latihan yang mencakup beberapa kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
1. Kegiatan Pembelajaran I: Konsep dan Prosedur Analisis Data secara Deskriptif
2. Kegiatan Pembelajaran 2: Konsep dan Prosedur Analisis Data secara Kualitatif
3. Kegiatan Pembelajaran 3: Konsep dan Prosedur Analisis Data secara
Kuanitatif atau melalui statistik
Untuk membantu anda dalam mempelajari BBM ini, ada baiknya
diperhatikan petunjuk belajar berikut ini:
1. Bacalah dengan cermat bagian Pendahuluan ini sampai Anda memahami
secara tuntas tentang: apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari bahan ajar
ini.
2. Baca spintas bagian demi bagian dan temukan kata –kata yang dianggap baru,
carilah dan baca pengertian kata-kata kunci tersebut dalam kamus yang Anda
miliki.
3. Tangkaplah pengertian-pengertian melalui pemahaman sendiri dan bertukar
pikiran dengan sesame teman atau dengan tutor Anda.
4. Untuk memperluas wawasan, baca dan pelajari sumber-sumber lain yang
relevan.Anda dapat menemukan bahan bacaan dari berbagai sumber termasuk
sumber dari internet
5. Mantapkan pemahaman Anda dengan mengerjakan latihan dan melalui
kegiatan diskusi dalam kegiatan tutorial dengan mahasiswa sebagai teman
sejawat
6. Jangan dilewatkan untuk mencoba menjawab soal- soal yang dituliskan pada
setiap akhir kegiatan belajar. Hal ini terutama untuk mengetahui apakah Anda
sudah memahami dengan benar kandungan bahan belajar ini.
KEGIATAN PEMBELAJARAN I
ANALISIS DATA SECARA DESKRIPTIF
Data adalah unsur penting dalam penelitian tindakan kelas. Tanpa data
penelitian akan mati dan tidak dapat disebut sebagai penelitian. Begitu juga
kualitas penelitian, sangat bergantung oleh data yang berhasil peneliti kumpulkan.
Andaikan kualitas data buruk, tidak valid dan tidak reliabel, maka sudah hampir
dipastikan hasil penelitianpun tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Pada hakikatnya data adalah segala sesuatu yang sudah dicatat, segala
sesuatu itu bisa dokumen, batu-batuan, air, pohon, manusia. Segala sesuatu itu
adalah fakta, dan fakta ini selalu ada, tidak peduli anda sadar atau tidak terhadap
keberadaannya. Fakta juga selalu ada tanpa bergantung pada penamaan anda
terhadapnya. Fakta merupakan bahan baku yang selalu ada tanpa tergantung pada
penamaan kita terhadapnya. Karena itu fakta merupakan bahan baku suatu
penelitian ilmiah. Namun fakta saja tidak punya arti apa-apa jika tidak tercatat,
dikelola dan dianalisis dengan baik.
Data digolongkan menjadi beberapa jenis, dilihat dari sifatnya ada data
kuantitatif dan data kualitatif. Dilihat dari sumbernya ada data primer dan ada data
skunder. Di lihat dari sifatnya ada data kontinyus dan katagorical, dilihat
sumbernya ada data primer dan data skunder.
Agar diperoleh data yang benar dalam arti sesuai dengan kenyataan, maka
ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses pengumpulan data.
Persyaratan tersebut meliputi: validitas, reliabilitas, kebergunaan dan etika.
A. Persyaratan Pengumpulan Data
1. Validitas Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang benar, peneliti perlu menyusun instrument
yang memiliki tingkat validitas yang sesuai. Validitas menunjukkan ketepatan
pengumpulan data atau data yang dikumpulkan memang benar-benar yang ingin
diperoleh peneliti. Validitas pengumpulan data kualitatif meliputi kepercayaan dan
keterpahaman. Keterpercayaan berhubungan dengan proses pengumpulan data
yang kredibel, transperabilitas, keabsahan dan konfirmabilitas. Keterpahaman
berkenaan dengan kejelasan dan kemudahan data dengan criteria: validitas
deskriptif, interpretif, teoritis, kebergunaan dan evaluatif.
Validitas merupakan salah satu syarat penting dalam pelaksanaan seluruh
jenis penelitian termasuk dalam PTK. Banyak hasil penelitian yang terlanjur
dipercaya oleh publik, akan tetapi hasil itu kurang akurat sebagai akibat
pengambilan data yang kurang tepat. Reliabilitas menyangkut keajegan hasil
pengumpulan data dengan menggunakan alat yang sama. Jika instrument tidak
konsisten (berubah-ubah), maka instrumen tersebut tidak dapat dipercaya (tidak
reliable).
Dalam PTK dikenal dengan practical validity, yaitu validitas praktis yang
bersyaratkan seluruh anggota kelompok penelitian tindakan mengakui dan
meyakini bahwa alat yang digunakan dalam PTK itu layak digunakan. Jika
demikian, maka instrument tersebut dapat dikatakan sebagai instrumen yang valid
dan reliable. Dengan demikian, kepercayaan suatu hasil action benar-benar
dibangun oleh kualitas proses kolaborasi oleh masing-masing anggota kelompok.
Strategi yang bisa digunakan dalam meningkatkan validitas menurut
Lather (dalam Sukidin, 2002) meliputi empat langkah, yaitu:
a. Face validity (validitas muka). Validitas ini diperoleh apabila setiap anggota
kelompok action research saling mengecek, menilai, dan memutuskan validitas
suatu instrument dan data dalam proses kolaborasi dan action research.
b. Triangulation (triangulasi). Langkah ini dapat ditempuh dengan menggunakan
berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian.
c. Critical reflection (refleksi kritis). Langkah ini bias dilakukan apabila setiap
siklus action dirancang untuk meningkatkan kualitas pemahaman. Apabila
setiap tahap siklus mutu refleksi dipertahankan, maka mutu pengambilan
keputusan akan dapat dijamin
d. Catalic validity. Validitas ini dapat dihasilkan oleh action research sendiri
dalam mendorong perubahan.
2. Reliabilitas, Kebergunaan dan Etika Pengumpulan Data
Reliabilitas menyangkut keajegan hasil pengumpulan data dengan
menggunakan alat yang sama. Jika instrument tidak konsisten (berubah-ubah),
maka instrumen tersebut tidak dapat dipercaya (tidak reliable). Reliabilitas selain
keajegan juga ketetapan data yang diperoleh secara jujur, sungguh-sungguh dan
teliti. Sebaliknya data yang diproses secara ceroboh dan tidak sungguh-sungguh
akan menghasilkan data yang berubah-ubah.
Kebergunaan dalam PTK, menunjukkan hasil penelitian yang terbatas atau
terhadap sampel dapat berlaku untuk populasi. Kebergunaan menunjukkan
kesesuaian atau relevansi antara temuan atau hasil penelitian dengan penggunaan
penelitian. Etika PTK seperti halnya penelitian-penelitian lain harus
memperhatikan segi-segi etika. Ada beberapa yang perlu diperhatikan sehubungan
etika penelitian tindakan seperti: kembangkan pandangan etika pribadi peneliti,
upayakan agar partisipan menyetujui penelitian anda, dan tentukan prinsip-prinsip
sosial yang lebih luas terkait dengan sikapo penelitian anda.
B. Pengolahan Data Secara Deskriptif melalui Teknik Triangulasi
Lebih jauh dijelaskan bahwa triangulasi merupakan proses memastikan
sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dalam konteks penelitian, triangulasi dapat
diartikan suatu cara untuk mendapatkan keakuratan data dengan menggunakan
berbagai cara/prosedur/metode, agar data yang diperoleh dapat dipercaya
kebenarannya.
Sekurang-kurangnya ada tujuh macam triangulasi. Pertama, memperlama waktu
penelitian di lapangan. Dengan memperlama waktu di lapangan, diharapkan akan
diperoleh data yang akurat. Data yangdiperoleh dapat dicocokan dari waktu ke
waktu. Kedua, theoretical triangulation (triangulasi teoritis), yaitu menggunakan
berbagai teori dalam menelaah sesuatu. Peneliti tidak boleh percaya dengan satu
teori saja. Peneliti harus menggali berbagai teori yang bisa diaplikasikan dalam
penelitian yang sedang dikerjakannya. Teori itu dibandingkan satu dengan yang
lain agar diperoleh suatu keyakinan bahwa teori yang dipilih merupakan teori
terbaik untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh peneliti.
Ketiga, data triangulation (triangulasi data), yaitu mengambil data dari
berbagai suasana ,waktu dan tempat. Peneliti dapat melkukan pengecekan ulang,
dan pengecekan silang. Pengecekan dilakukan pada orang yang sama pada waktu
yang tidak berbeda. Pengecekan silang, dilakukan pada orang yang berbeda pada
waktu yang berbeda. Dengan melakukan ketiga langkah pengecekan ini, maka
apabila ada kesimpangsiuran data akan segera dapat diketahui data mana yang
benardan salah.
Keempat, situational triangulation, yaitu mengamati objek yang sama
dalam berbagai suasana. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan data yang
sama pada suasana yang berbeda menghasilkan informasi yang berbeda. Apabila
keadaan ini terjadi, maka peneliti harus melakukan pengulangan penggalian data
hingga diperoleh data yang “ajeg”. Selama belum dipeoleh data yang stabil, maka
peneliti tidak boleh berhenti. Bila peneliti berhenti dalam melakukan penggalian
data, padahal data yang terjadi belum ada keajegan, maka kesimpulan yang akan
dihasilkan tidak dapat dipercaya sepenuhnya.
Kelima, source triangulation, yaitu mengambil data dari berbagai nara
sumber. Langkah ini untuk memperkaya data yang diperoleh. Apabila data yang
dicari adalah data yang sama, maka langkah ini sama dengan pengecakan silang.
Keenam, instrumental triangulation, yaitu menggunakan berbagai alat atau
instrument agar data yang terkumpul lebih akurat. Langkah ini bisa ditempuh
dengan menggunakan pedoman pengamatan, pedoman wawancara, atau angket.
Ketujuh, analytic triangulation, yaitu menggunakan berbagai metode atau cara
analisis agar hasil pengolahan data yang terkumpul lebih bisa dipercaya. Langkah
ini bisa ditempuh dengan menggunakan pengamatan, wawancara, data sekunder,
dan pengambilan gambar dalam bentuk foto atau film.
Contoh triangulasi dalam kelas sebagai beikut: Seorang guru Sekolah
Dasar sebut saja Bapak Agus Bekamenga (AB) ingin melihat urut-urutan kegiatan
Cooperative learning di kelas. Kemudian AB mengajak teman guru
(kolaborator/observers) untuk mengadakan pengamatan urutan kegiatan tersebut.
AB menggunakan rekaman video untuk melihat urutan kegiatan tersebut pada
siswa. Selain itu, AB juga meminta bantuan kepada teman guru untuk
mengadakan wawancara dengan siswa mengenai urut-urutan kegiatan tersebut di
kelas. Jika tiga “jendela pengamatan” tersebut ternyata menceritakan hal yang
sama tentang urutan (structure) kegiatan cooperative learning, maka informasi
tersebut dinyatakan valid.
C. Sumber data dalam PTK
Ada dua sumber data dalam penelitian tindakan, yaitu sumber primer dan
sekunder. Sumber primer dalam PTK antara lain: siswa, guru-guru, BP, orang tua,
dan kepala sekolah. Sumber data sekunder adalah sumber data yang berasal dari
pihak yang masih ada kaitannya dengan data primer tetapi tidak secara langsung.
Sumber data sekunder dalam PTK antara lain: pengawas sekolah, pejabat dinas
pendidikan, pengurus komite sekolah, dll.
Data primer yang dihasilkan dalam PTK, antara lain: 1) data hasil
wawancara dengan guru, siswa, kepala sekolah, dan orang tua, dan 2) data nilai
prestasi belajar siswa sesudah dilaksanakan PTK. Adapun data sekunder dalam
PTK dapat berupa arsip nilai sebelum PTK dilaksanakan (dokumen hasil belajar
siswa), data pribadi siswa dalam buku induk sekolah, foto-foto, dan laporan
pengamatan hasil wawancara dengan subjek yang tidak secara langsung
berhubungan dengan siswa dalam PBM.
Peneliti dapat memperoleh data sekunder dengan menggunakan angket,
pedoman pengamatan, pedoman wawancara dan tes yang dikembangkan sendiri
oleh peneliti sesuai dengan landasan teori yang digunakan. Pertama, angket
(kuesioner), digunakan dalam PTK untuk mengungkap aspek-aspek pengetahuan
(kognitif) dan sikap (afektif). Kedua, wawancara digunakan untuk mengungkap
data secara kualitatif. Di dalam PTK, data kualitatif dapat digunakan untuk
melengkapi data kuantitatif.
D. Analisis Data Secara Deskriptif
Langkah yang harus ditempuh setelah pengumpulan data, adalah analisis
data. Pengumpulan data merupakan jantung PTK, maka analisis data merupakan
jiwa PTK. Teknik analisis data secara deskriptif dalam penelitian tindakan kelas
berbeda dengan teknik penelitian lainnya seperti korelasional, kausatif, dan
eksperimen yang menggunakan pendekatan statistik, menghitung korelasi, regresi,
uji perbedaan, analisis jalur dan uji rata-rata. Penelitian Tindakan Kelas dengan
pendekatan deskriptif menggunakan analisis yang bersifat menggambarkan,
menjelaskan, menghubungkan, menggolongkan, membedakan dan menafsirkan
tentang sesuatu gejala atau peristiwa perilaku. Penentuan model analisis yang
dipilih harus benar-benar sesuai dengan jenis data yang diperoleh. Data kuantitatif
dapat dianalisis secara deskriptif seperti prosentase, mean, median, mode,
simpangan baku, frekuensi, table, grafik, chart, dsb. Data kualitatif yang berupa
kalimat, siswa yang menggambarkan ekspresi tingkah laku siswa, pandangan
siswa, dan kemampuan kognitif siswa dapat dianalisis dengan menggunakan
metode analisis naratif kualitatif.
Geoffrey E. Mills (2000) dalam Syaodih (2005), mengemukakan beberapa
teknik analisis data: 1) Mengidentifikasi tema-tema, (2) Membuat kode pada hasil
survai, interviu dan angket, 3) Ajukan pertanyaan-pertanyaan kunci: siapa, apa, di
mana, kapan, mengapa, dan bagaimana, 4) Buatlah reviu keorganisasian dari unit
yang diteliti, 5) Buatlah peta konsep, 6) Analisis faktor yang mendahului dan
mengikuti, 7) Buatlah bentuk-bentuk penyajian dan temuan, dan 8) Kemukakan
apa yang belum dan tidak ditemukan.
Analisis data secara deskriptif juga bisa dilakukan melalui langkahlangkah
sebagai berikut: 1) membuat matriks data, 2) memberi kode untuk
masing-masing kelompok data, 3) membaca data secara menyeluruh berupa
kalimat per kalimat, paragraf per paragraph, frase per frase dan menentukan yang
sesuai dengan tema permasalahan, 4) kelompokkan masing-masing pernyataan
tersebut kedalam kotak sel yang sesuai dengan pokok permasalahan, 5) ringkaskan
data sebaik mungkin.
Jadi, analisis data merupakan usaha (proses) memilih, memilah,
membuang, dan menggolongkan data untuk menjawab permasalahan pokok, yaitu
(1) tema apa yang dapat ditemukan pada data-data ini dan (2) seberapa jauh datadata
ini dapat menyokong tema tersebut. Tripp (dalam Sukidin, 2002) menyatakan
analisis data secara lebih jelas, di mana data merupakan proses mengurai
(memecah) sesuatu ke dalam bagian-bagiannya. Menurutnya terdapat tiga langkah
penting dalam analisis data, yaitu: pertama, identifikasi: apa yang ada dalam data,
kedua melihat pola-pola, dan ketiga, membuat interpretasi.
Menganalisi data yang bentuknya berbagai ragam analisis merupakan
tugas yang besar pagi peneliti tindakan kelas. Sebab ketika membuat suatu
keputusan mengenai bagaimana menampilkan data dalam table atau metrik atau
bentuk narasi merupakan tugas yang penuh tantangan. Sebenarnya tidak ada
konsesus mengenai cara menganalisis data dalam penelitian tindakan kelas, akan
tetapi ada cara membandingkan strategi analisis dari para peneliti pakar yang
dapat digunakan sebagai rujukan seperti strategi analisis kualitatif dari Bogdan &
Biklen (l992), Huberman & Miles (l994), dan Walcott (l994) (dalam Creswell,
l998).
1. Langkah-langkah Deskriptif Analisis
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sebenarnya langkah pertama
yang mesti dilakukan adalah mengumpulkan data. Melalui catatan lapangan,
rekaman atau video atau bentuk-bentuk lain, peneliti berusaha mengumpulkan
data mengenai setting pembelajaran yang sedang ditampilkan. Bersamaan dengan
pengumpulan informasi ini muncul kepermukaan hipotesis-hipotesis yang dapat
menjadi bahan untuk dikaji, karena gagasan-gagasan baru selalu timbul pada
waktu menjelaskan atau menganalisis setiap peristiwa di kelas. Bahkan sejak
langkah awalpun, peneliti sudah melakukan analisis data terhadap setiap kejadian,
mengapa ini terjadi, atau kejadian ini terjadi disebabkan dalam PTK peneliti itu
selain guru juga sebagai peneliti.
Dengan cara demikianlah, persoalan pengumpulan dan analisis data
dijelaskan, muncul hipotesis, konstruk atau kategori dari apa yang dialami di
kelas. Dalam penelitian tindakan kelas, hal ini disebut kemunculan atau timbul
kepermukaan (emergent hypothesis) yang selanjutnya akan menghasilkan
emergency theory. Dalam PTK, semakin banyak timbulnya gagasan, hipotesis,
konstruk, malahan semakin kuat karena semakin kaya timbulnya pemikiranpemikiran
yang kreatif, maka semakin besar kemungkinannya bahwa penelitian
yang anda lakukan menghasilkan penafsiran dan pemecahan permasalahan yang
tuntas dan jelas.
Langkah berikutnya, memahami atau berfikir perseptif mengenai data,
seorang peneliti dalam memproses data memerlukannya sebagai bimbingan dalam
membagi data atas unit-unit analisis, di samping mengarahkan peneliti dalam
mereduksi data sehingga praktis untuk memanipulasi. Peneliti akan melakukan
kegiatan mulai dari memahami, membandingkan, membedakan,
mengintegrasikan, menyusunnya dalam urutan yang beraturan, mencari
keterkaitan dan keterhubungan diantara data-data, selanjutnya berdasarkan data
empirik tersebut menyusunnya prediksi dalam bentuk pernyataan atau naratif.
Kegiatan membandingkan, membedakan dan seterusnya adalah merupakan
langkah mengklasifikasikan data. Seluruh koleksi data dianalisis menurut isinya
(content analysis), kemudian dipilah-pilah menjadi unit-unit data berdasarkan
dimensi-dimensi spasial (ruang), temporal (waktu), fisik, filosofis, bahasa, atau
sosial. Adakalanya dimensi baru tampil ketika dalam proses analisis dimunculkan,
apabila ini konsisten untuk disepakati bersama malahan menjadi kriteria pembeda.
Demikian juga analisis yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas
biasanya dilakukan sejak awal, ini berarti peneliti akan melakukannya sejak tahap
orientasi lapangan. Ini sesuai dengan pernyataan Huberman & Miles (l984) bahwa
model ideal dari pengumpulan data dan analisis adalah yang secara bergantian
berlangsung sejak awal. Selanjutnya Huberman (l984) mengemukakan bahwa
salah satu permasalahan dalam penelitian kualitatif adalah bahwa cara kerjanya
terutama bertalian dengan kata-kata, bukan dengan angka. Kata-kata lebih gemuk
dibandingkan dengan angka dan bersifat multi guna dan multi makna. Malahan
adakalanya sebuah kata tidak mempunyai arti sama sekali, kecuali apabila
dihubungkan dengan kata lain. Angka tidak begitu ambigu, dan bisa diproses
dengan lebih ekonomis. Namun jangan lupa kata-kata juga memungkinkan
peneliti membuat deskrifsi tebal. Malahan Rochiati (2006), mengemukakan
bahwa kata-kata dapat menyampaikan lebih banyak makna daripada angka.
Memfokuskan pada angka akan menggeser perhatian penelitian dari subtansi ke
soal perhitungan belaka, dan menghilangkan makna kualitatifnya.
Langkah selanjutnya adalah memberi kode atau mengkoding data, untuk
menyederhanakan sejumlah besar data yang terkandung dalam catatan lapangan,
hasil observasi, dan materi dokumen adalah dengan membuat kode. Kode
merupakan singkatan kata atau symbol yang dipakai untuk mengklarifikasikan
serangkaian kata, sebuah kalimat atau alinea dari catatan lapangan yang sudah
diperbaiki. Kode dan koding adalah kegiatan memberi lebel dan mencari data
sangat efisien, dan mempercepat serta memberdayakan analiais data. Karenanya,
menyusun kode sebelum ke lapangan dan membuat catatan lapangan akan sangat
membantu serta akan mendorong peneliti untuk mengkaitkan pertanyaan
penelitian atau konsep-konsep penting langsung dengan data. Kode adalah
kategori, yang biasanya diambil dari pertanyaan atau pernyataan penelitian,
hipotesis, konsep kunci, atau tema yang penting. Terdapat tiga tipe kode, yaitu
kode deskriptif yaitu memberi kode pada suatu alinea yang misalnya isinya
membahas kajian perbaikan sekolah, dengan menaruh di pinggir sebelah kiri
catatan berbunyi “MOT” singkatan dari motivasi. Kedua, kode interpresif, yaitu
memuat analisis lebih kompleks dengan melihat misalnya aspek dinamika lokal
yang menumbuhkan motivasi tersebut, dengan kode seperti “OFF MOT” yang
menunjukkan official motivation. Ketiga, kode yang lebih inferensial dan
menjelaskan. Alinea tersebut ternyata menunjukkan timbulnya leitmotive atau
pola pada waktu peneliti memeriksa aspek-aspek kejadian local dan relasi-relasi
local yang dihubungkan dengan motivasi tersebut. Maka kodenya menjadi
berbunyi LM yaitu leitmotive atau PATT yakni pattern.
Analisis data langkah berikutnya mengatur dengan kode melalui langkah
sebagai berikut:
1. Tindakan yaitu berlangsung dalam situasi yang singkat, hanya memakan
waktu beberapa detik menit atau jam.
2. Kegiatan yaitu berlangsung dalam latar yang lebih besar, hari, minggu, bulan
yang melibatkan unsur-unsur penting dalam keterlibatan manusia.
3. Makna yaitu ungkapan verbal dari para partisipan penelitian yang menentukan
dan mengarahkan tindakan.
4. Partisipasi yaitu keterlibatan manusia secara keseluruhan atau adaptasi mereka
terhadap situasi atau latar yang sedang ditelaah.
5. Relasi yaitu hubungan antar personal diantara beberapa orang yang ditelaah
secara simultan
6. Latar atau setting yaitu keseluruhan latar yang sedang diteliti dipelajari sebagai
satu unit analisis.
Sedangkan menurut Bogdan dan Biklen (l982) mengkoding data dilakukan
terhadap:
1. Setting/ konteks: informasi umum mengenai lingkungan sekitar
2. Definisi situasi: bagaimana mendefinisikan latar situasi
3. Perspektif: cara menuangkan ide/gagasan, berfikir dan orientasi
4. Cara berfikir mengenai orang dan objek secara lebioh mendetail
5. Proses: sekuens, alur peristiwa dan perubahan
6. Kegiatan: perilaku yang secara teratur ditampilkan
7. Kejadian: peristiwa atau kejadian tertentu
8. Strategi: cara untuk menyelesaikan sesuatu
9. Relasi dan struktur social
10. Metode issue yang berkaitan dengan penelitian yang berlangsung.
2. Membuat Catatan pinggir dan catatan reflektif
Membuat catatan pinggir dan catatan reflektif, peneliti yang berperan
sebagai pengamat akan sibuk dengan membuat catatan lapangan, sehingga
seringkali catatan yang dibuat dengan segera itu tidak dapat dibaca dengan jelas,
karena banyak singkatan yang tidak lazim hanya dapat dimaknai oleh saorang
peneliti sendiri. Itulah sebabnya, segera setelah peneliti sebagai pengamat
memiliki waktu cukup, catatan lapangan itu harus cepat ditranskrip dan diperbaiki,
agar dapat dibaca oleh siapapun. Pada waktu itulah sang peneliti mengalami
kembali apa yang telah terjadi di kelas tadi, dan refleksi terjadi pada situasi yang
berkembang pada waktu itu. Seperti dicontohkan berikut ini:
* Hubungan yang terjalin dengan siswa atau responden
* Memikirkan kembali terhadap apa yang dikatakan oleh siswa dan maknanya
* Keraguan akan kualitas data yang sedang dicatat
* Terfikirnya hipotesis baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi
* Sebuah catatan untuk melacak lebih jauh sebuah issue pada kontaks berikutnya
* Implikasi silang terhadap sesuatu terhadap data berikutnya
* Perasaan sendiri mengenai apa yang dibicarakan atau dikerjakan
* Penjelasan atau elaborasi mengenai apa yang dibicarakan atau dikerjakan
(Huberman, l984).
Catatan reflektif dapat segera dibuat pada waktu catatan lapangan sedang
dikerjakan, dengan cara menyimpannya di anatara tanda kurung Bogdan dan
Biklen (l982) memakainya untuk dijadikan analisis, metode, dilemma etik,
pemikiran sendiri, dan sebagai alat kalibrasi. Berikut contoh penggunaan catatan
reflektif pada catatan lapangan
CATATAN LAPANGAN
Ahmad bergurau, “mungkin aku dapat berlaku sebagai seorang senior”. Ia
menyeringai seperti kera waktu mengatakan itu. (Guru-guru ini bukan bermaksud
merendahkan siswa, akan tetapi sepertinya tidak bisa menahan diri untuk selalu
bergurau seperti itu dan mengenai hal ini akan dijelaskan nanti).
Basri menyatakan bahwa secara tidak resmi mereka sudah melakukan analisis
tentang data kehadiran dan berkata, “Aku yakin telah melakukannya dengan
efektif”, (yaitu memakai Cared untuk kecenderungan peningkatan kehadiran).
Bagiku kedengarannya sangat kabur dan terkesan gampang.
Chairudin menjelaskan, bahwa selama semester kedua ia akan melakukan hal-hal
yang sama atau tidak banyak. (Penolakan kegiatan ini aku dengar secara informasi
dalam pembicaraan dengan Basri. Sesungguhnya, hal itu mengicilkan
meminimalisir atau penghalusan dari fakta bahwa ia sering keluar, padahal ia
dapat banyak membantu menyelesaikan program)
Catatan pinggir, pada waktu kegiatan koding berlangsung dan peneliti
sebagai pengamat melihat dan menyaksikan penampilan pembelajaran di kelas,
maka gagasan atau reaksi terhadap yang dilihat timbul dengan makna yang baru
secara berkelanjutan. Gagasan dan pikiran baru ini penting artinya, karena
mendorong penafsiran baru, mengarahkan kepada keterhubungan dengan data
lain, dan menuntut pekerjaan untuk menganalisisnya.
Karena konversi membiasakan peneliti untuk memberikan tanda atau
symbol kode pada catatan lapangan di garis pinggir sebelah kiri atau pada margin
kiri, maka catatan pinggir dilakukan pada margin sebelah kanan. Bagi anda
sebagai peneliti penerapan catatan reflektif dan catatan pinggir berfungsi untuk
menambah kebermaknaan dan kejelasan kepada catatan lapangan atau field notes,
di samping menggaris bawahi hal-hal yang penting yang terlewat atau terkaburkan
dalam kegiatan koding. Berikut ini adalah sebuah contoh tentang pelaksanaan
catatan pinggir
CATATAN PINGGIR
Rizki melihat kepada Iqbal, seorang guru magang KONTROL
Dan meminta melihat anak-anak di ruang pertemuan KELAS
Saya bertanya apa yang terjadi, dan ia menjawab
Bahwa anak-anak terdengar sudah keluar dari ruang
Padahal bel belum berbunyi,……………………
Rapat membicarakan berbagai topic, bermacam
Macam tema, termasuk kecenderungan Mariam KONPLIK
Yang suka meyakinkan yang lain bahwa pekerja- PERAN
An Humas itu mudah untuk dikerjakan, dan nasi-
Hatnya untuk tidak memberikan tugas itu kepada MAGANG
Bukan professional. Banyak yang bertanya kepada
Mariam, pada akhir rapat.
Tidak banyak dilakukan perencanaan atau pengambilan
Keputusan mengenai prosedur tertentu atau apa KEBIJAK
Yang akan kerjakan secara mendetail. AN
LEMAH
Pada saat inilah, Mariam sekali lkagi mengatakan
JAMINAN
Bahwa ia dapat dikontak setiap waktu, ia ada di KONTAK
Tempat.
Pembuatan matriks, sebenarnya penyusunan matrik ini tidaklah sukar,
barangkali hanya dalam proses pengembangan perlu waktu yang cukup agar bisa
disusun secara rapih. Tidak ada aturan tertentu yang harus diikuti, melainkan suatu
kegiatan kreatif yang sistematis, yang fungsional, yang akan memberikan makna
subtantif kepada basis data anda. Berikut ini merupakan pilihan membuat matriks.
Huberman dalam Rochiati(2006) menjelaskan:
1. Deskriptif, dalam pemahamannya apakah tujuan untuk memaparkan data yang
ada atau menjelaskan mengapa hal ini terjadi.
2. Mono-situs, apabila penelitian mengkaji suatu latar atau setting saja, seperti
sekelompok, sebuah keluarga, sebuah organisasi, atau multi situs, yaitu
meliputi beberapa settings yang dapat menampilkan perbandingan data.
3. Teratur, dengan pengertian data disusun dalam kolom dan baris dengan
menggunakan kategori atau dengan memakai variabel waktu, peran partisipan,
atau situs yang mempunyai perbedaan.
4. Berdasarkan waktu, yang memungkinkan analisis menurut alur, sekuens, siklus,
dan kronologi.
5. Berbagai variabel kategori, yang membuka banyak kemungkinan, sebagai
contoh Bogdan dan Biklen(l982): Tindakan/perilaku, kejadian, kegiatan,
strategi, kebermaknaan, perspektif, kondisi umum dan proses.
3. Membuat matrik
Membuat metrik bertujuan membantu anda mengerti dan memahami
seberapa besar sahih dan validnya pemahaman itu. Sehingga dapat ditafsirkan
apakah rangkaian data yang terkumpul dapat dijelaskan secara lebih bermakna.
Analisis data dalam matriks yang disarankan oleh Miles dan Hubermen (l984)
sebagai berikut:
1. Mulailah dengan melayangkan pandangan yang cepat atau melakukan analisis
sekilas, kemudian setelah direvisi, diverifikasi, atau dinyatakan tidak berlaku.
2. Apabila matriks itu mencakup beberapa situs, mulailah dengan menganalisis
salah satu situs dengan tegar sebelum melakukan analisis silang dari beberapa
situs.
3. Untuk matriks deskriptif, mulailah dengan tabulasi rangkuman untuk mencapai
pemahaman dari data yang besar itu. Hati-hati, jangan melakukan simplikasi
berlebihan atau mengacaukan kesimpulan akibat dari begitu besarnya jumlah
data.
4. Pada waktu kesimpulan mulai terbentuk dalam pikiran peneliti, seharusnya
mulai untuk menjelaskan paparan itu. Dengan demikian memungkinkan
reformulasi gagasan-gagasan timbul untuk memperjelas analisis lebih tajam
dan terpercaya.
5. Kesimpulan yang muncul harus selalu dicek dengan data dalam catatan
lapangan. Apabila tidak didukung oleh data akar rumput maka perlu direvisi
ulang.
6. Untuk mendukung kesimpulan, tampilkan ilustrasi yang terdapat dalam catatan
lapangan, bukan untuk meramaikan deskripsi, melainkan untuk
menggambarkan contoh-contoh murni.
7. Setelah mengeceknya dengan catatan lapangan, kesimpulan tadi perlu dikaitkan
dengan konsep-konsep penting atau teori yang dianut dalam penelitian itu.
8. Mintalah bantuan mitra peneliti untuk mengaudit metriks dan analisisnya
terakhir.
9. Pada penyajian laporan penelitian, matriks termasuk yang harus ditampilkan,
dan biasanya penguji laporan akan memverifikasi kesimpuln –kesimpulan
yang dibuat.
Sekedar ilustrasinya tentang matriks deskriptif, berikut contohnya:
Deskripsi Empirik Performance Guru Refleksi dan Analisis
Pelajaran dimulai dengan menertibkan
kelas, guru mengecek kehadiran siswa.
Setelah itu langsung masuk ke topik
bahasan mengenai kerajaan-kerajaan di
Indonesia. Ia merangkum dengan
singkat mengenai kondisi politik,
ekonomi, sosial dari kerajaan-kerajaan.
Sebuah pertanyaan diajukan kepada
kelas, untuk mengemukakan perbedaanperbedaan
diatara kerajaan-kerajaan
tersebut. “Coba kalian munculkan
perbedaan-perbedaan tersebut, boleh
dengan contoh! Kelas sebentar rebut,
karena ada siswa yang dating terlambat.
Siswa: “Perbedaan mata pencaharian,
Pa” (kelas masih saja rebut dan tidak
memperhatikan temannya yang
berbicara).
Guru, “Coba perhatikan semua, kalau
ada yang berbicara tolong dihormati,
didengar. Ini sebuah contoh, ya jangan
jauh-jauh, kalau ada yang sedang berdiri
di depan dan berbicara, dan kelas rebut
bagaimana, kalian bisa mendengar?
Nah, inikan contoh perbedaan juga,
perbedaan bisa timbul dalam hal apa
saja dan di mana saja.
Guru melakukan entry behaviour
dengan baik, yaitu dengan
mengkondisikan siswa untuk siap
belajar mengenai kerajaan. Ia juga
melakukan eksplorasi konsep siswa,
dan demikian sekalian melakukan
apersepsi
Guru mampu mengangkat kondisi
kelas yang rebut sebagai media
pembelajaran, baik dalam memaknai
perbedaan, namun terutama dalam
menanamkan nilai dan sikap
menghormati orang lain
LATIHAN
Setelah Anda mempelajari Kegiatan Pembelajaran 4 dalam BBM ini, Anda
harus melakukan tugas latihan yang dirancang dari materi Kegiatan yang sama,
supaya Anda lebih memperdalam pemahaman materi yang diuraikan dalam BBM
ini. Latihan yang harus Anda lakukan dengan cara mendiskusikan dengan teman
sejawat Anda, yaitu:
1. Jelaskan mengapa data hasil penelitian harus memenuhi tingkat validitas
dan reliabilitas, kemukakan alasannya?
2. Bagaimana caranya meningkatkan agar data yang diperoleh benar-benar
valid?
3. Berikan langkah-langkah prosedural ketepatan data melalui teknik
triangulasi?
4. Berikan pula penjelasan cara analisis data menurut Bogdan dan Biklen?
5. Bagaimana cara melakukan analisis data secara kualitatif itu?
Petunjuk Jawaban Latihan
1. Validitas merupakan ketepatan alat ukur dimana melakukan pengambilan
data dengan alat ukur, proses pengolahan dan analisis dengan cara yang
tepat. Reliabilitas adalah keajegan atau konsistensi dari proses
pengumpulan data, dimana hasil yang diperoleh melalui pengolahan data
sesuai dengan yang diharapkan.
2. Ada beberapa cara strategi meningkatkan tingkat validitas yaitu validitas
isi, triangulasi, refleksi yang kritis, dan catalic validity.
3. Teknik dan procedural triangulasi yaitu memperlama waktu penelitian di
lapangan, triangulasi teoritis, triangulasi data, situasional triangulasi,
source triangulasi, instrumental triangulasi, anality triangulasi
4. Bogdan dan Biklen (l982) mengkoding data dilakukan terhadap:
Setting/ konteks: informasi umum mengenai lingkungan sekitar, definisi
situasi: bagaimana mendefinisikan latar situasi, perspektif: cara menuangkan
ide/gagasan, berfikir dan orientasi, cara berfikir mengenai orang dan objek
secara lebioh mendetail, proses: sekuens, alur peristiwa dan perubahan,
kegiatan: perilaku yang secara teratur ditampilkan, kejadian: peristiwa atau
kejadian tertentu,strategi: cara untuk menyelesaikan sesuatu, relasi dan
struktur social, metode issue yang berkaitan dengan penelitian yang
berlangsung.
5. Menganalisis data secara kualitati, yaitu: identifikasi apa yang ada dalam
data, melihat pola-pola, membuat interpretasi.
TES FORMATIF
Berikan tanda (V) pada alternative Jawaban yang Anda anggap benar
1. Menurut Lather, untuk dapat meningkatkan derajat validitas data melalui,
kecuali:
A. Triangulasi data
B. Refleksi kritis
C. Catalic validity
D. Relibilitas
2. Begitu pula meningkatkan kualitas data melalui teknik triangulasi dapat
dilakukan melalui cara, kecuali:
A. Memperpanjang waktu penelitian
B. Triangulasi data
C. Vace validity
D. Instrumental triangulasi
3. Di bawah ini berupa data yang bersifat primer yaitu:
A. Wawancara dengan siswa
B. Arsip nilai
C. Melakukan pengamatan
D. Dokumen foto kegiatan belajar siswa
4. Data-data yang diperoleh secara kualitatif, kecuali:
A. Kemampuan kognitif siswa
B. Tingkah laku guru
C. Prosentase kehadiran siswa
D. Pandangan siswa
5. Practical validity merupakan salah satu teknik analisis data yang paling tepat
melalui:
A. Keajegan dari hasil belajar yang diperoleh siswa
B. Kekonsistenan prilaku siswa
C. Kelayakan alat ukur menurut anggota peneliti
D. Ketajaman data yang dapat diinterpretasikan
6. Membuat kode membantu peneliti melakukan:
A. Menyederhanakan data
B. Membandingkan data dengan yang lain
C. Melakukan pencatatan silang
D. Menata tulis catatan lapangan
7. Membuat kode deskriptif pada alinea catatan lapangan dilakukan dengan
memberikan:
A. Catatan di pinggir sebelah kiri
B. Tanda atau symbol dari yang dikehendaki
C. Bisa memakai dua tanda untuk penajaman
D. Membuat singkatan kata
8. Analisis data dilakukan melalui tahapan berikut:
A. Awal, orientasi dan observasi
B. Identifikasi, melihat pola, interpretasi
C. Orientasi, observasi dan refleksi
D. Membuat matrik, memberi kode dan meringkas data
9. Menafsirkan data penelitian mencakup kegiatan:
A. Menyusun resume data factual
B. Membuat narasi dari data factual
C. Membuka diri untuk pemikiran
D. Menentukan signifikansi baru
10. Huberman menyarankan mekanisme membuat matrik, kecuali:
A. Menyusun deskriptif
B. Melakukan monositus
C. Menyusun secara teratur
D. Mengklarifikasi antar sumber data
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
TEKNIK ANALISIS DATA MELALUI KUALITATIF
A. Pengolahan Data Secara Kualitatif
Pada dasarnya, langkah-langkah dalam penelitian kualitatif yaitu adanya
fokus masalah, melakukan kajian literature (mendapatkan berbagai informasi/data
dari hasil penelitian sebelumnya), penentuan sampel, penyusunan instrument,
penyusunan desain dan pengumpulan data, kemudian analisis dan interpretasai
terhadap data yang telah dikumpulkan, menyimpulkan, selanjutnya
merekomendasikan temuan penelitian tersebut. Terlihat bahwa langkah-langkah
tersebut hampir sama dengan penelitian jenis lain. Tetapi tentu saja dalam
penelitian ini memiliki karakter, prinsip yang khusus, yang membedakannya
dengan penelitian lain. Seperti dalam fokus masalah, isi/komponen rancangan
penelitian, penentuan sampel, proses pengumpulan data dan cara melakukan
analisis-interpretasi data berbeda.
Analisis secara logis dan empiris diperlukan untuk data dari catatan
lapangan dalam upaya menyusun satu deskripsi naratif. Deskripsi naratif ini
berisikan setidaknya empat elemen, yaitu orang, peristiwa/kejadian, bahasa
partisan dan “makna” menurut partisan, bukan pada bahasa si peneliti atau ilmu
sosial. Bahasa mengacu pada bentuk komunikasi non verbal, gambar, kartun,
simbol dan sejenisnya. Makna menurut partisan dipahami pada saat orang
mengatakan “mengapa” atau “karena apa” peristiwa itu terjadi.
Selanjutnya diperlukan penalaran logis dalam upaya untuk merumuskan
abstrak (concept). Abstraksi yang tersintesis adalah ringkasan kesimpulan dan
penjelasan mengenai temuan-temuan penelitian. Abstraksi yang tersintesis ini
dapat berwujud, tema-tema naratif, sebuah peta konsep, penegasan-penegasan atau
proposisi-proposisi. Akhirnya penelti membangun sebuah gambaran tentang data
yang dikumpulkannya, dan memberikan makna-makna mendalam dari fenomena
yang dikaji agar juga dapat dipahami pembacanya.
Miles dan Huberman dalam Rochiati (2006), memberikan tiga langkah
utama dalam analisis data penelitian kualitatif ini, yaitu reduksi data, sajian data
dan vertifikasi/penyimpulan data. Dengan reduksi data peneliti memilih,
menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksi dan mengubah data kasar ke
dalam catatan lapangan. Kemudian dalam melalui sajian data, yaitu merangkaikan
data dalam suatu organisasi yang memudahkan untuk pembuatan kesimpulan dan
atau tindakan yang diusulkan. Setelah itu memberikan penjelasan makna data
dalam suatu konfigurasi yang jelas menunjukkan alur kausalnya, sehingga dapat
diajukan proposisi-proposisi yang terkait dengannya. Ketiga langkah utama
analisis data ini sangat penting, mengingat jenis data yang dikumpulkan,
dihasilkan adalah data dan agar data tersebut sesuai dengan permasalahan
penelitiannya.
Setelah mendapatkan gambaran hasil penelitian, atau jawaban atas
pertanyaan penelitian, maka dapat disusun kesimpulan dari penelitian tersebut.
Temuan yang didapat dari penemuan itupun, dijadikan rekomendasi bagi semua
elemen yang terkait dengan perbaikan dan pengembangan dari suatu bidang
permasalahan penelitian tersebut. Misalkan bidang pendidikan, maka rekomendasi
dapat diberikan kepada elemen-elemen yang terkait pada bidang pendidikan, serta
keberlanjutan penelitian berikutnya.
Analisis data kualitatif (Bogdan & Biklen, 1992), adalah upaya yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahmilahnya
menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan
menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Di pihak lain, analisis data kualitatif (Seiddel, 1998), prosesnya berjalan
sebagai berikut:
· Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar
sumber datanya tetap dapat ditelusuri
· Mengumpulkan,memilah-milah,mengklasifikasikan,mensintesiskan, membuat
ikhtisar, dan membuat indeksnya
· Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna,
mancari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuantemuan
umum..
Selanjutnya menurut Janice Mc Drury (Collaborative Group Analysis of
Data, 1999) dalam Rochiati (2006), tahapan analisis data kualitatif adalah sebagai
berikut:
1) Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada
dalam data
2) Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang
berasal dari data
3) Menuliskan model yang ditemukan
4) Koding yang telah dilakukan
Dari definisi-definisi tersebut dapatlah anda pahami bahwa ada yang
mengemukakan proses, ada pula yang menjelaskan tentang langkah-langkah
procedural analisis kualitatif, sehingga seharusnya komponen-komponen yang
perlu ada dalam sesuatu analisis datan kualitatif, yaitu:
1.. Pemrosesan Satuan
Uraian tentang pemprosesan satuan ini terdiri atas tipologi satuan dan
penyusunan satuan adalah seperti berikut.
Satuan atau unit adalah satuan suatu luar suatu latar sosial. Pada dasarnya
satuan itu merupakan alat untuk menghaluskan pencatatan data. Menurut Lofland
and Lofland (1984:93), satuan kehidupan sosial; merupakan kebulatan dimana
seseorang mengajukan pertanyaan. Lincoln dan Guba (1985:344) menamakan
satuan itu sebagai satuan informasi yang berfungsi untuk menentukan atau
mendefinisikan kategori.
Sehubungan dengan hal itu, Patton (1987:306-310) membedakan dua jenis
tipe asli inilah yang menggunakan perspektif emik dalam antropologi. Hal ini
didasarkan atas asumsi bahwa perilaku sosial dan kebudayaan hendaknya
dipelajari dari segi pandangan dari dalam dan definisi perilaku manusia. Jadi,
konseptualisasi satuan hendaknya ditemukan dengan menganalisis proses kognitif
dan struktur kognitif orang-orang yang diteliti, bukan dari segi etnosentrisme
peneliti.
Pendekatan ini menuntut adanya analisis kategori verbal yang digunakan
oleh subjek untuk merinci kompleksitas kenyataan ke dalam bagian-bagian.
Patton (hal. 307) menyatakan bahwa secara fundamental maksud penggunaan
bahasa itu penting untuk memberikan nama yang lain pula sehingga
membedakannya dengan yang lain dengan nama yang lain pula. Setelah label
tersebut ditemukan dari apa yang dikatakan oleh subjek, tahap berikutnya ialah
berusaha menemukan ciri atau atribut atau karakteristik yang membedakan
sesuatu dengan sesuatu yang lain.
Sebagai contoh dikemukakan pengalaman penelitian yang dilakuan oleh
Patton (hal. 307-398). Penelitiannya berkisar pada upaya mengurangi drop out.
Setelah mengadakan wawancara dan pengamatan di sekolah tertentu, ia berusaha
memahami apa yang dipikirkan oleh guru-guru, temasuk juga bagaimana cara
guru membedakan siswa. Sehubungan dengan masalah membolos, absensi,
kebersihan, dan naik kelas, guru membedakan siswa atas yang kronis dan berada
pada batas, menurut guru, ialah mereka yang selalu menghindari masuk kelas
untuk beberapa pelajaran, menunggu jika ada reaksi, dan jika hal itu hal datang,
mereka akan siap juga. Guru lain menyatakan bahwa yang berada pada batas ialah
mereka yang terlihat, baik yang sekali maupun dua kali sehari, dalam keadaan
tidak konstan jika dibandingkan dengan yang kronis.
Pada setiap penelitian ada kemungkinan akan ada kosakata khusus yang
digunakan para subjek untuk membedakan setiap jenis kegiatan, membedakan
para peserta, gaya berperanserta yang berbeda, dan lain-lain. Tipologi asli ini
merupakan kunci bagi para peneliti untuk memberikan nama sesuai dengan apa
yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dihayati oleh para subjek dan dikehendaki
oleh latar penelitian. Penting bagi seorang peneliti alamiah untuk memahami
berbagai peristilahan dengan implikasinya karena hal itu memberikan arti
mendalam tentang cara berpikir, bertindak, dan gaya hidup seseorang pada suatu
latar tertentu.
2. Penyusunan Satuan
Satuan itu tidak lain adalah bagian terkecil yang mengandung makna yang
bulat dan dapat berdiri sendiri terlepas dari bagian yang lain. Menurut Lincoln dan
Guba (1985:345) karakteristikya ada dua, yaitu: pertama, satuan itu harus heuristic
artinya mengarah pada satu pengertian atau satu tindakan yang diperlukan oleh
peneliti atau akan dilakukannya, dan satuan itu hendaknya juga menarik. Kedua,
satuan itu hendaknya merupakan sepotong informasi terkecil yang dapat berdiri
sendiri, artinya satuan itu harus dapat ditafsirkan tanpa informasi tambahan selain
pengertian umum dalam konteks latar penelitian.
Satuan itu dapat berwujud kalimat factual sederhana misalnya:
“Responden menunjukkan bahwa ia menghabiskan sekitar sepuluh jam seminggu
untuk melakukan perjalanan keliling dari satu sekolah ke sekolah lain sebagai
pelaksanaan peranannya selaku guru pengajar lepas di beberapa sekolah”. Selain
itu satuan dapat pula berupa paragraph penuh. Satuan ditentukan dalan catatan
pengamatan, catatan wawancara, catatan lapangan, dokumen, laporan, atau sumber
lainnya.
Langkah pertama dalam pemprosesan satuan ialah analisis hendaknya
membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah terkumpul.
Setelah itu usahakan agar satuan-satuan itu diidentifikasi. Peneliti
memasukkannya ke dalam kartu indeks. Penyusunan satuan dan pemasukannya ke
dalam kartu indeks hendaknya dapat dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini
analisis hendaknya jangan dulu membuang satauan yang ada walaupun mungkin
dianggap tidak relevan.
Setiap kartu indeks harus diberi kode. Kode-kode itu dapat berupa:
1) Penandaan sumber saat satuan seperti catatan lapangan, dokumen, laporan, dan
sejenisnya. Halaman pada sumber itu harus dicantumkan pila agar
memudahkan analisis dalam menelusurinya apabila dipelukan. Misalnya:
12:09 B berarti responden nomor 12, halaman 9, alinea B.
2) Penandaan jenis responden, misalnya GSD = Guru SD, PSMP = Pengawasan
SMP, dan sebagainya.
3) Penandaan jenis responden, misalnya LR = Lokasi Rumah, LS = Lokasi
Sekolah, LP = Lokasi Pasar,dsb.
4) Penandaan cara pengumpilan data, misalnya W = Wawancara, P =
Pengamatan, DR Dokumen Resmi, DP = Dokumen Pribadi, dan sebagainya.
5) Jika tugas penyusunan satuan itu telah dapat diselesaikan, berarti langkah
kategorisasi sudah dapat dimulai.
3. Kategorisasi
Kategorisasi dalam uraian ini terdiri atas: (1) fungsi dan prinsip
kategorisasi dan (2) langkah-langkah kategorisasi yang diuraikan berikut ini.
(1) Fungsi dan Prinsip Kategorisasi
Kategorisasi berarti penyusunan kategori. Kategori tidak lain adalah salah
satu tumpukan dari seperangkat tumpukan yang disusun atas dasar pikiran, intuisi,
pendapat, atau criteria tertentu. Selanjutnya Lincoln dan Guba (1985: 347-351)
menguraikan kategorisasi sebagai berikut. Tugas pokok kategorisasi adalah: (1)
mengelompokkan kartu-kartu yang telah dibuat ke dalam bagian-bagian isi yang
secara jelas berkaitan; (2) merumuskan aturan yang menetapkan inklusi setiap
kartu pada kategori dan juga sebagai dasar untuk pemeriksaan keabsahan data; dan
(3) menjaga agar setiap kategori yang telah disusun satu dengan yang lainnya
mengikuti prinsip taat asas. Sebagai catatan dapat dikemukakan bahwa sejumlah
kategori yang muncul tidak dapat dikatakan seperangkat kategori. Yang dihasilkan
seorang analisis ialah seperangkat yang menyediakan konstruksi data yang
beralasan.
(2) Langkah-langkah kategorisasi
Metode yang digunakan dalam kategorisasi didasarkan atas metode
analisis komparatif yang langkah-langkahnya dijabarkan lebih lanjut berikut ini.
1) Pilihlah kartu pertama di antara yang telah disusun pada penyusunan satuan,
bacalah kartu itu dan catatlah isinya. Kartu pertama ini mewakili entri pertama
dari kategori yang akan diberi nama kemudian. Tempatkanlah kartu itu pada
satu sisi tertentu.
2) Pilihlah kartu kedua, baca dan catat pula isinya. Buatlah keputusan atas dasar
pengetahuan anda atau atas dasar intuisi, apakah kartu kedua ini tampak sama
atau dirasakan sama dengan kartu pertama. Tampak sama berarti isinya itu
benar-benar sama. Jika demikian, tempatkanlah kartu itu ke tempat yang sama
dengan kartu pertama. Jika ternyata tidak sama dengan kartu kedua, kartu itu
merupakan entri pertama untuk kategori kedua yang akan diberi nama
kemudian pula.
3) Lanjutkanlah dengan kartu-kartu berikutnya. Untuk setiap kartu tetapkanlah
apakah kartu itu tampak atau dirasakan sama dengan kartu-kartu yang telah
ditempatkan didalam kategori yang mantap ataukah kartu itu mewakili
kategori baru. Lanjutkanlah pula kegiatan ini seperti langkah-langkah
sebelumnya.
4) Sesudah beberapa kartu diproses, analisis akan merasakan bahwa ada satu kartu
baru yang tidak cocok untuk ditempatkan pada kartu-kartu yang telah
ditempatkan pada kategori sebelumnya ataupun tidak cocok untuk menyusun
kategori baru. Ternyata menyusul kartu-kartu lainnya yang semacam itu yang
tidak bisa ditempatkan pada salah satu kategori atau membentuk kategori baru.
Tempatkanlah kartu-kartu itu pada tumpukan lain-lain. Kartu-kartu itu jangan
sampai dibuang karena masih akan digunakan untuk keperluan penelaahan
kembali. Pada tahap ini, kategori-kategori baru akan secepatnya muncul, dan
kecepatan itu akan setelah sekitar lima puluh sampai delapan puluh kartu
setelah selesai diproses. Pada saat ini setiap kategori telah mempumyai sekitar
enam sampai delapan buah kartu. Waktu itu analisis sudah muali merasakan
bahwa sudah waktunya mulai melaksanakan tugas menulis memo yang
mengarah pada penulisan kawasan kategori dan merancang aturannya.
Kegiatan itu perlu dilanjutkan.
5) Ambil kartu-kartu yang telah terkumpul di dalam kategori dengan ukuran yang
kritis. Buat dan susunlah sekarang pernyataan-pernyataan dalam bentuk
propesional tentang kawasan-kawasan yang merupakan ciri kartu yang sisa.
Gabunglah ciri-ciri itu ke dalam aturan inklusi. Tulislah aturan tetap tentang
kartu indeks yang lain, dan tempatkan segera di samping kategori itu. Berilah
kategori itu nama atau judul yang di dalamnya berisi esensi aturan itu untuk
memudahkan pengelompokan berikutnya dan untuk mencatat secepatnya isi
setiap kategori. Apabila aturan itu telah ditentukan secara tetap, lakukanlah
penelaahan pada setiap kartu dalam kategori untuk memastikannya bahwa
pemasukannya dapat ditentukan atas dasar aturan itu. Kartu-kartu lain
barangkali akan dibuang ke tumpikan lain-lain atau barangkali mulai
membentuk inti kategori baru. Dalam hal-hal tertentu penelaahan yang
dilakukan ini mengarah kepada revisi secepatnya atas aturan itu sendiri dan
untuk memantapkan kartu-kartu pada tempatnya yang telah sesuai. Pada tahap
ini analisis hendaknya awas terhadap adanya penyimpangan, konflik, atau halhal
lain yang tidak mencukupi dan yang sangat memerlukan perhatian.
6) Lanjutkan dengan mengikuti langkah ketiga dan keempat, dan langkah kelima
jika ada kategori yang mendekati ukuran kritis sampai seluruh kartu telah
dapat diselesaikan. Apabila ada kartu yang telah ditumpukkan dalam satu
kategori tertentu dengan mengikuti aturan tetap yang telah ditentukan, kartu itu
hendaknya dimasukkan atau dikeluarkan bukan atas dasar kualitas tampak atau
dirasakan sama, melainkan atas dasar kesesuainnya dengan aturan itu.
Penyimpangan, konflik, atau ketidakcukupan akan semakin menonjol apabila
proses ini berjalan terus, dan hal demikian harus diselesaikan seeprti pada
langkah kelima. Jika hal itu telah ditangani dengan aturan yang direvisi, kartukartu
yang ditumpukkan ke dalam kategori atas dasar pembentukan aturan
sebelumnya hendaknya ditelaah kembali untuk memastikan bahwa kartu-kartu
itu masih layak dipertahankan pada kategori itu.
7) Apabila tumpukan kartu satuan sudah selesai diproses, keseluruhan perangkat
kategori harus ditelaah lagi.
a.Perhatian hendaknya diberikan pada kartu-kartu yang ditumpukkan ke dalam
tumpukan lain-lain, kalau-kalau ada diantara kartu-kartu itu yang dapat
ditumpukan kedalam kategori lainnya.pada tahap sekarang akan jelas bahwa
ada beberapa kartu yang sama sekali tidak relevan dengan semua kategori, dan
kartu demikian perlu dibuang. Namun, ada juga kartu-kartu yang belum dapat
dipastikan masuk kemana. Biasanya kartu-kartu itu berkisar 5 - 7% dari jumlah
keseluruhan. Jika jauh melebihi jumlah itu, barangkali sistem dan aturan
kategorisasi tersebut ada kelemahan-kelemahannya.
b. Kategori-kategori itu harus ditelaah untuk memeriksa adanya tumpang tindih.
Satu tumpukan kartu yang membentuk kategori dipandang tidak memenuhi jika
ada ambiguitas atau keraguan tentang bagaimana suatu kartu itu dapat
dikategorisasikan. Suatu kartu satuan barangkali sejak awal dipersiapkan secara
tidak tepat atau mungkin karena memuat dua isi. Jika terjadi demikian, kartu itu
hendaknya ditulis kembali ke dalam dua buah kartu sehingga keraguan
demikian hilang. Sebagai catatan penting perlu dikemukakan bahwa suatu
kategori yang bersih dapat dicapai apabila kategori itu didefinisikan sedemikian
rupa sehingga tercapai kategori yang secara internal sehomogen mungkin dan
secara eksternal seheterogen mungkin. Analisis harus mengeceknya atas dasar
kriteria tersebut.
c. Perangkat kategori itu harus di uji untuk menemukan hubungan di antara
sesamanya. Ada kemungkinan bahwa kategori tertentu merupakan bagian dari
suatu kategori lainnya. Ada pula kategori yang masih perlu dipisah menjadi
kategori lain dan atau beberapa kategori hilang sebagai konsekuensi logis dari
sistem kategori secara keseluruhan. Kategori, seperti hilang, tidak lengkap, atau
kategori lainnya yang tidak memuaskan menuntut peneliti mengadakan tindak
lanjut pengumpulan data lagi.
8) Kategori yang masih memerlukan data lainnya dapat dilakukan dengan
mengikuti strategi berikut:
a. Perluasan: peneliti memulai dengan butir atau butir-butir yang diketahui tentang
informasi. Data dibangun atas dasar hal itu. Butir-butir informasi demikian
oleh peneliti dijadikan dasar untuk mengajukan pertanyaan atau sebagi
petunjuk bagi pengujian dokumen. Jadi, pengumpulan informasi itu dilakukan
dari yang diketahui kemudian bergerak ke arah yang tidak diketahui.
b. Pengaitan: peneliti memulai dengan beberapa hal yang diketahui, tetapi jelasjelas
terputus sebagai butir-butir informasi. Terputus di sini berarti bahwa
hubungan itu tidak dipahami. Yang ketahui dan tidak dipahami oleh peneliti
dikaitkan agar menjadi sesuatu yang dipahami.
c. Pengapungan: Setelah peneliti makin mengenal latar penelitian, ia dapat
mengumpulkan informasi baru yang dapat ditemukan di lapangan dan
kemudian memverifikasi keberadaannya. Proses pengapungan ini sama dengan
proses pembentukan hipotesis atau sama dengan proses menyarankan kategori
yang dikenal ditemukan karena tuntutan logis situasi yang menghendakinya.
9) Akhirnya, peneliti akan memerlukan jalan lain bagi aturan yang telah
ditetapkan yang membimbingnya untuk “menghentikan pengumpulan dan
pemprosesan” keputusan. Ada 4 kriteria yang dapat digunakan untuk
memberikan informasi guna menghentikan pembuatan keputusan demikian
yaitu:
a. kehabisan sumber walaupun sumber dapat dimanfaatkan berulang;
b. kejenuhan kategori, pengumpulan data berikutnya hanya menghasilkan
sedikit tambahan informasi baru dibandingkan dengan usaha yang
dilakukan;
c. munculnya keteraturan, rasa integrasi walaupun harus hati-hati jangan
sampai menarik kesimpulan yang keliru karena adanya keteraturan dengan
cara yang amat sederhana;
d. terlalu diperluas, perasaan peneliti terhadap banyaknya informasi yang
digali yang ternyata terlalu banyak dipindahkan dari inti kategori cocok
dan pantas yang telah muncul. Hal ini dilakukan pada yang ternyata tidak
membantu secara bermanfaat dalam memunculkan kategori tambahan
dengan layak.
10) Terakhir, analisis harus menelaah sekali lagi seluruh kategori agar jangan
sampai ada yang terlupakan. Selain selesai dianalisis, sebelum menafsirkan
penulis wajib mengadakan pemeriksaan terhadap keabsahan datanya.
Pemeriksaan itu dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pemeriksaan
keabsahan data yang telah diuraikan pada Bab 5 sehingga tidak
dikemukakan lagi di sini.
B. Analisis dan Interpretasi Data
Stringer dalam Syaodih (2005), mengemukakan ada beberapa teknik
menginterpretasikan hasil analisis data secara naratif kualitatif, yaitu:
1. Memperluas analisis dengan mengajukan pertanyaan. Hasil analisis mungkin
masih miskin dengan makna, dengan pengajuan beberapa pertanyaan hasil
tersebut bisa dilihat dari segi maknanya. Pertanyaan dapat berupa seberapa besar
hubungan atau perbedaan antara hasil analisis, pentyebab, aplikasi dan implikasi
dari hasil analisis.
2. Hubungkan temuan dengan pengalaman pribadi. Penelitian tindakan sangat erat
kaitannya dengan pribadi peneliti. Temuan hasil analisis bisa dihubungkan dengan
pengalaman-pengalaman pribadi peneliti yang cukup kaya.
3. Minta nasehat dari teman yang kritis. Bila mengalami kesulitan dalam
menginterpretasikan hasil analisis, mintalah pandangan kepada teman yang
sprofesi dan memiliki pandangan yang kritis.
4. Hubungkan hasil-hasil analisis dengan literature. Faktor eksternal yang
memiliki kekuatan dalam memberikan interpretasi selain teman atau kalau
mungkin ahli adalah literature. Apakah makna dari temuan penelitian menurut
pandangan para ahli, para peneliti dalam berbagai literature.
5. Kembalikan pada teori. Cara lain untuk menginterpretasikan hasil dari analisis
data adalah hubungkan atau tinjaulah dari teori yang relevan dengan permasalahan
yang dihadapi.
a. Analisis dan Interpretasi Sambil Jalan
Penelitian tindakan membantu peneliti pelaksana (guru, dosen,
administrator) dengan data yang dapat digunakan secara formatif ataupun sumatif.
Pengumpulan data seringkali harus dihentikan sesaat karena diperlukan untuk
melakukan umpan balik mengadakan perbaikan. Untuk memberikan masukan bagi
perbaikan, data yang sudah dikumpulkan perlu dianalisis dan
interpretasikan.dengan demikian, analisis dan interpretasi data dapat dilakukan
sepanjang proses penelitian. Proses penelitian tindakan bersifat spiral dialektik:
diawali dengan pengumpulan data, dilanjutkan dengan analisis dan interpretasi,
pembuatan rencana, pelaksanaan, pengumpulan data lagi, analisis dan interpretasi
data lagi, dst.
Meskipun analisis dan interpretasi data dilakukan sambil berjalan, tetapi
harus dihindari analisis dan interpretasi yang terlalu dini.para peneliti yang belum
berpengalaman seringkali tergesa-gesa untuk melakukan analisis, interpretasi dan
menarik kesimpulan. Penghentian sementara penelitian harus didasarkan atas
kematangan atau kelengkapan data yang telah diperoleh. Untuk itu diperlukan
kesabaran, kejelian dan pemahaman apakah memang data yang diperlukan telah
lengkap ditemukan.
Analisis dan interpretasi data diperlukan untuk merangkum apa yang telah
diperoleh, menilai apakah data tersebut berbasis kenyataan, teliti, ajeg dan benar.
Analisis dan interpretasi data juga diperlukan untuk memberikan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hasil analisis dan interpretasi data akhirnya
digunakan untuk memberikan masukan bagi perbaikan kegiatan baik bagi kegiatan
peneliti sendiri maupun teman satu tim. Pada akhir kegiatan penelitian tindakan,
hasil analisis dan interpretasi data digunakan untuk menarik kesimpulan dalam
laporan.
b. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian kualitatif berbeda dengan kuantitatif.
Analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan statistic,
menghitung korelasi, regresi, uji perbedaan, analisis jalur, dsb. Penelitian tindakan
dengan pendekatan kualitatifnya menggunakan analisis yang bersifat naratifkualitatif.
Geoffrey E. Mills (2000), mengemukakan beberapa teknik analisis data.
1) Mengidentifikasi tema-tema. Dari data yang dikumpulkan secara induktif dapat
diidentifikasi tema-tema tertentu. Dari tema-tema kecil dapat disimpulkan
tema yang lebih besar.
2) Membuat kode pada hasil survai, interview dan angket. Untuk setiap tema
ataupun kelompok data dapat dibuat kode, umpamanya kode untuk
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hasil,dsb.
3) Ajukan pertanyaan-pertanyaan kunci: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan
bagaimana? Pertanyaan kunci dapat membantu mensistematisasikan data,
sehingga membentuk satu kesatuan yang bermakna.
4) Buatlah reviu keorganisasian dari unit yang diteliti (sekolah). Stringer (1996)
menyarankan keorganisasian sebagai berikut: visi dan misi, tujuan umum dan
khusus, struktur organisasi, pelaksanaan, dan masalah-masalah, isu-isu dan
kepedulian dari para pelaku.
5) Buatlah peta konsep. Memetakan secara visual faktor-faktor ang terkait, atau
melatarbelakangi dan diakibatkan oleh sesuatu hal, seperti faktor-faktor yang
melatarbelakangi dan diakibatkan oleh proses pembelajaran, hasil belajar,
kegagalan siswa, dll.
6) Analisis faktor yang mendahului dan mengikuti. Menganalisis faktor-faktor
yang mendahului mungkin juga menjadi penyebab dan yang mengikuti atau
diakibatkan oleh sesuatu hal, kegiatan, masalah, dsb.
7) Buatlah bentuk-bentuk penyajian dari temuan. Temuan hasil penelitian dapat
disajikan dalam berbagai bentuk seperti table, grafik, peta, bagan, dll.
8) Kemukakan apa yang belum/tidak ditemukan. Bertolak dari data yang telah
ditemukan, dapat diidentifikasi hal-hal yang belum ditemukan.
c. Teknik Interpretasi Data
Stringer dalam Syaodih (2005) mengemukakan beberapa teknik
menginterpretasikan hasil analisis data kualitatif.
1) Memperluas analisis dengan mengajukan pertanyaan. Hasil analisis mungkin
masih miskin dengan makna, dengan pengajuan beberapa pertanyaan hasil
tersebut bisa dilihat maknanya. Pertanyaan dapat berkenaan dengan hubungan
atau perbedaan antara hasil analisis, penyebab, aplikasi dan implikasi dari hasil
analisis.
2) Hubungkan temuan dengan pengalaman pribadi. Penelitian tindakan sangat erat
kaitannya dengan pribadi peneliti. Temuan hasil analisis bisa dihubungkan
dengan pengalaman-pengalaman pribadi peneliti yang cukup kaya.
3) Minta nasihat dari teman yang kritis. Bila mengalami kesulitan dalam
menginterpretasikan hasil analisis, mintalah pandangan kepada teman yang
seprofesi dan memiliki pandangan kritis.
4) Hubungan hasil-hasil analisis dengan literatur. Faktor eksternal yang memiliki
kekuatan dalam memberikan interpretasi selain teman, atau kalau mungkin
ahli adalah literature. Apakah makna dari temuan penelitian menurut
pandangan para ahli, para peneliti dalam berbagai literatur.
5) Kembalikan pada teori. Cara lain untuk menginterpretasikan hasil dari analisis
data adalah hubungkan atau tinjaulah dari teori yang relevan dengan
permasalahan yang dihadapi.
Setelah pengumpulan analisis data dilakukan dan interpretasikan maknamakna
yang terkandung di dalamnya, ajukanlah pertanyaan apa yang harus
dilakukan selanjutnya. Rencana kegiatan dalam pendidikan dan kurikulum
pengajaran dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan, yaitu tingkatan secara
individual oleh perorangan, guru, dosen, administrator, tim, sekolah, atau unit-unit
pendidikan lainnya. Ada beberapa langkah dalam pengembangan rencana kegiatan
pelaksanaan penelitian tindakan.
1) Rangkuman temuan dari pertanyaan-pertanyaan penelitian
2) Saran-saran target yang akan dicapai
3) Penentuan orang yang akan melakukan kegiatan
4) Nara sumber yang sebaiknya dihubungi
5) Penentuan orang yang akan memonitor pengumpulan data
6) Jadwal waktu
7) Sumber-sumber
Penelitian tindakan berbeda dengan penelitian biasa. Penelitian ini
dilakukan oleh pelaksana pendidikan seperti guru, dosen, dan administrator untuk
kepentingan pelaksana sendiri dan subjek yang dilayani seperti siswa dan
mahasiswa. Metode untuk melaksanakan dan bekerjasama dalam pelaksanaan
penelitian tindakan disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Evaluasi
terhadap hasil dari penelitian tindakan berbeda dengan penelitian biasa.
Geoffrey E. Mills memberikan beberapa kriteria untuk mengevaluasi hasil
dari penelitian tindakan.
1) Apakah penelitian tindakan anda dapat dilaksanakan
2) Pengguna, siapa pengguna dari hasil/laporan penelitian anda?
3) Format, apakah laporan disajikan dalam format yang dapat diterima pengguna?
4) Prasangka, adakah kemungkinan prasangka-prasangka yang muncul terhadap
laporan penelitian anda?
5) Posisi professional, apakah hasil penelitian membantu dalam posisi professional
anda?
6) Sikap reflektif, apakah kegiatan penelitian meningkatkan sikap reflektif anda,
terutama terhadap kurikulum dan pembelajaran?
7) Peningkatan kehidupan, apakah kegiatan dalam penelitian anda meningkatkan
kehidupan subjek penelitian (siswa, mahasiswa, dll).
8) Tindakan, tindakan-tindakan apa yang telah anda lakukan?
9) Hubungan data dengan tindakan, apakah tindakan yang disarankan
berhubungan dengan data yang ditemukan?
10) Dampak, apakah tindakan yang anda lakukan memberikan dampak terhadap
proses dan hasil kegiatan?
11) Perubahan, perubahan apa yang akan anda lakukan di masa yang akan datang?
12) Reaksi kawan-kawan, bagaimana reaksi dari kawan-kawan seprofesi terhadap
temuan anda tindakan yang disarankan dalam penelitian anda?
LATIHAN
Setelah Anda mempelajari Kegiatan Pembelajaran 5 dalam BBM ini, Anda
harus melakukan tugas latihan yang dirancang dari materi Kegiatan yang sama,
supaya Anda lebih memperdalam pemahaman materi yang diuraikan dalam BBM
ini. Latihan yang harus Anda lakukan dengan cara mendiskusikan dengan teman
sejawat Anda, yaitu:
1. Jelaskan tiga langkah analisis data dalam metode analisis data naratif
kualitatif?
2. Anda bandingkan analisis data kualitatif menurut Seiddel dengan Jenice Mc
Drury, tunjukan kelebihan dan kekurangan masing-masing?
3. Bagaimana langkah-langkah interpretasi hasil analisis data menurut Stringer?
4. Bagaimana langkah-langkah kategorisasi menurut Geoffrey E. Mill?
5. Jelaskan procedural penghentian dan pemerosesan data sehingga peneliti
memutuskan untuk menghentikannya dan kemukakan kriterianya?
PETUNJUK JAWABAN LATIHAN
1. Tiga langkah utama analisis data secara kualitatif, yaitu: reduksi data, sajian
data, dan verifikasi data.
2. Analisis data kualitatif menurut Seiddel, (1998), prosesnya berjalan sebagai
berikut: mencatat pada catatan lapangan dan diberi kode, mengumpulkan,
mengklasifikasi, mensintesis dan membuatihtisar, memberikan makna dan
mencari hubungan dan membuat temuan-temuan.
Selanjutnya menurut Janice Mc Drury (1999) tahapan analisis data kualitatif
adalah sebagai berikut: mempelajari data, mempelajari kata-kata kunci,
menuliskan model yang ditemukan, dan mengkoding data.
3. Stringer (2005), mengemukakan ada beberapa teknik menginterpretasikan
hasil analisis data secara kualitatif, yaitu: memperluas analisis dengan
mengajukan pertanyaan, hubungkan temuan dengan pengalaman pribadi,
minta nasehat dari teman yang kritis, hubungkan hasil-hasil analisis dengan
literature., kembalikan pada teori. Cara lain untuk menginterpretasikan hasil
dari analisis data adalah hubungkan atau tinjaulah dari teori yang relevan
dengan permasalahan yang dihadapi.
4. Geoffrey E. Mills (2000), mengemukakan beberapa teknik analisis data, yaitu:
Mengidentifikasi tema-tema, membuat kode pada hasil survai, interview dan
angket. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci: siapa, apa, di mana, kapan,
mengapa, dan bagaimana, buatlah reviu keorganisasian dari unit yang diteliti
(sekolah), buatlah peta konsep, analisis faktor yang mendahului dan
mengikuti, buatlah bentuk-bentuk penyajian dari temuan, dan kemukakan apa
yang belum/tidak ditemukan.
5. Peneliti akan menghentikan pengumpulan dan pemprosesan dengan mengacu
pada empat kriteria yang dapat digunakan yaitu: kehabisan sumber walaupun
sumber dapat dimanfaatkan berulang; kejenuhan kategori, pengumpulan data
berikutnya hanya menghasilkan sedikit tambahan informasi baru dibandingkan
dengan usaha yang dilakukan; munculnya keteraturan, rasa integrasi walaupun
harus hati-hati jangan sampai menarik kesimpulan yang keliru; terlalu diperluas,
perasaan peneliti terhadap banyaknya informasi yang digali
RANGKUMAN
Dalam pengolahan data hal yang cukup penting menyangkut sejauhmana
keabsahan data sebelum dilakukan langkah analisis data berikutnya. Persyaratan
yang harus ditempuh antara lain meliputi: pengujian validitas, reliabilitas,
kebergunaan dan ketelitian berkenaan dengan etika penelitian terhadap hasil
informasi yang diperoleh baik melalui alat pengumpul data berupa observasi,
angket, dokumen, wawancara maupun alat pengumpul data lainnya.
Analisis dan interpretasi meliputi: analisis data dan interpretasi hasil
dilakukan sambil jalan, teknik analisis dan interpretasi yang bersifat kualitatif.
Analisis dan interpretasi dalam penelitian tindakan kelas yang lebih cocok adalah
naratif-kualitatif. Teknik analisis dan interpretasi yang lebih banyak digunakan
adalah mereduksi data, sajian data dan verifikasi data di samping teknik analisis
data lainnya seperti yang dikemukakan para ahli antara lain: Lincoln dan Guba
(l985), Bogdan dan Biklen (l992), Seiddle (l998), dan Geoffrey E. Mill (2000).
TES FORMATIF
Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat!
1.Pengujian validitas data dimaksudkan:
A. Memperoleh hasil yang dapat dipercaya
B. Melaksanakan keabsahan penelitian
C. Prasarat analisis data
D. Memudahkan menganalisis data
2. Tingkat reliabilitas data penelitian dapat diperoleh melalui:
A. Melaksanakan tes berulang
B. Membandingkan dengan tes yang baku
C. Perkiraan ahli
D. Membandingkan dengan tes yang setara
3. Seluruh data dipilah-pilah menjadi unit data berdasarkan dimensi:
A. Ruang (spasial) dan kependudukan
B. Waktu (temporal) dan kejadian
C. Filosofis dan etika
D. Sosial
4. Membuat kode membantu peneliti untuk melaksanakan
A. Menyederhanakan data dalam jumlah besar
B. Membandingkan dengan data yang lainnya
C. Melakukan pencatatan silang
D. Menata tulis catatan lapangan
5. Lincoln dan Guba menempatkan katagorisasi sebagai analisis yang tepat,
kecuali melalui:
A. Menyusun katagorisasi berdasarkan intuisi dan pikiran
B. Mengelompokan kartu-kartu yang tepat
C. Menetapkan aturan pada katagorisasi
D. Menjaga agar katagorisasi taat azas
6. Ada beberapa cara memperluas analisis penelitian tindakan, salah satunya
adalah:
A. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
B. Meminta nasehat teman seprofesi
C. Analisis temuan dibandingkan dengan pengalaman pribadi
D. Membandingkan hasil temuan dengan teori
7. Menurut Geoffrey E. Mill teknik analisis data memerlukan beberapa tahap,
untuk tahapan yang kedua adalah:
A. Mengidentifikasi tema
B. Membuat kode
C. Mengajukan pertanyaan
D. Mereviu kegiatan
8. Berdasarkan pendapat Seidel bahwa Analisis naratif kualitatif sangat diperlukan
adanya:
A. Catatan lapangan yang diberikan kode
B. Reduksi data
C. Menyajikan data
D. Memverifikasi data
9. Ada tiga langkah utama dalam analisis data kualitatif, kecuali:
A. Mereduksi data
B. Menyajikan Data
C. Memverifikasi data
D. Mengevaluasi data
10. Penyusunan satuan data tindakan bersifat heuristic, artinya….
A. Satuan ditunjukkan dalam catatan lapangan
B. Analisis data pada seluruh jenis data yang terkumpul
C. Satu pengertian dan tindakan yang selaras dengan peneliti
D. Pendapat mitra yang selalu dipertimbangkan oleh peneliti
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3
TEKNIK ANALISIS DATA MELALUI KUANTITATIF ATAU STATISTIK
A. Konsep Dasar Statistik dalam Penelitian
Dalam proses penelitian, statistik merupakan suatu bagian yang tak
terpisahkan dalam kegiatan evaluasi. Statistika merupakan suatu cara untuk
mengatur data yang belum teratur menjadi teratur, mengolah dan menganalisis
data serta memberikan makna dari data yang diperoleh dari hasil penelitian. Hasil
pengolahan dan analisis ini dapat dijadikan bahan pertimbangan pengambilan
kesimpulan dalam melakukan penelitian pendidikan.
Dalam teori statistik dikenal dengan istilah mengumpulkan, mengolah,
menyajikan, meringkas dan mengambil kesimpulan. Artinya sekelompok data
hasil tes disusun, dikelompokan, dianalisis baru disimpulkan. Sehingga tugas
statistik tidak hanya mengumpulkan data, mengolah data, menyajikan data, dan
meringkas data supaya memberi arti, akan tetapi harus bisa meramalkan dan
mengambil kesimpulan atas data tersebut. Kesemuanya itu tercakup dalam teknikteknik
pengolahan data statistika yang pada intinya terbagi menjadi statistika
deskriptif dan statistika inferensial.
Dalam statistika deskriptif, data yang telah diolah disajikan kembali
menurut karakteristik data tersebut seadanya tanpa menarik kesimpulan yang
bersifat pengujian terhadap dugaan-dugaan mengenai data tersebut. Sedangkan
statistika inferensial biasanya digunakan dalam pengujian mengenai sifat populasi
dari mana data itu diambil sehingga pengolahan data akan diakhiri dengan
penarikan kesimpulan yang berlaku bagi populasi. Menarik kesimpulan
berhubungan erat dengan pekerjaan menaksirkan dan pengujian hipotesis.
Sehubungan dengan hasil penelitian, statistika mempunyai dua kegunaan:
1. Penggunaan secara deskriptif yaitu cara yang dilakukan mengenai pengaturan
sekumpulan data yang belum teratur menjadi beberapa bilangan yang dapat
dipahami dengan mudah dan memberikan gambaran mengenai data sehingga
mempunyai arti.
2. Penggunaan secara inferensial ialah untuk mengetahui sampai dimana hasilhasil
penelitian terhadap suatu sampel dapat dipercaya sebagai dasar untuk
menarik kesimpulan mengenai populasi dari mana sampel itu telah diambil.
B. Penyajian Data
Penyajian data hasil penelitian merupakan penyusunan dan penyajian data
secara terorganisir dalam bentuk gambar, grafik batang, grafik garis yang
diperoleh dari perhitungan distribusi frekuensi. Istilah distribusi frekuensi
menyatakan adanya penyebaran skor-skor dengan jumlah orang yang mendapat
skor itu. Dalam distribusi frekuensi, penyajian data dalam bentuk tabel atau daftar
yang merupakan frekuensi munculnya suatu gejala. Penyajian distribusi frekuensi,
melalui skor yang dikumpulkan langsung dikelompokkan (frekuensi bergolong),
ada juga yang tidak dikelompokkan (frekuensi tunggal), bergantung dari tujuan
peneliti. Biasanya skor mentah yang diperoleh dari hasil suatu pengetesan sebelum
memperoleh kesimpulan terlebih dahulu diatur dan disusun dalam suatu bentuk
tabel atau grafik.
Apabila data skor mentah yang diperoleh dari hasil suatu pengetesan tidak
dibuatkan pengelompokan maka dapat disusun dalam sebuah tabel distribusi
frekuensi sederhana sebelum memperoleh kesimpulan. Cara membuat tabel adalah
sebagai berikut:
SKOR FREKUENSI
4
5
6
7
8
4
23
28
16
1
JUMLAH 72
Dengan melihat tabel di atas, dapat diambil kesimpulan sederhana bahwa
dari 72 orang siswa SD yang memiliki skor Pendidikan jasmani: skor 6 mendapat
frekuensi tertinggi, menyusul skor 5, skor 7, dan skor 4. Sedangkan skor 8
mendapat frekuensi terendah. Tabel ini biasa dikatagorikan sebagai tabel distribusi
frekuensi data tunggal, karena data-data yang terkumpul masing-masing tunggal.
Ada cara lain tabel distribusi frekuensi yang dapat dikelompokan karena
data-data yang diperoleh banyak yang sama, misalkan skor Penjas dari 80 orang
siswa SD, skor terendah 35, skor tertinggi 99. Rentangan dari 35 sampai 99
disebut range. Jika disusun distribusi frekuensi dengan berkelompok menjadi 7
baris, mulai skor 35 sebagai pertama sampai dengan skor 99 baris ke 7.
Cara membuat tabel distribusi frekuensi dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Menentukan rentang dengan cara skor terbesar dikurangi skor terkecil.
Misalkan dari 80 data, skor terkecil 35 dan skor terbesar 99 maka rentang = 99-
35 = 64.
2. Menentukan banyak kelas interval yang diperlukan. Banyaknya kelas interval
biasanya sering diambil yaitu paling sedikit 5 kelas dan paling banyak 15 kelas.
Untuk menentukan banyak kelas interval dengan menggunakan rumus Sturgess:
Banyak kelas = 1 + (3,3) Log n. Misalkan besarnya n = 80 maka banyak
kelasnya adalah: 1 + (3.3) Log 80 (1,9031) jadi 7,2802 = 7 atau 8.
3. Menentukan panjang kelas interval (p), dengan cara besarnya rentang dibagi
dengan banyak kelas yaitu: Rentang: Banyak kelas. Apabila rentangnya 64,
sedangkan banyak kelas 7, maka panjang kelas 64 : 7 = 9,14 = 9 atau 10.
4. Menentukan ujung kelas interval pertama, untuk itu biasanya diambil dari skor
(data) yang terkecil atau skor awal pada kelas interval peretama dengan rentang
sesuai dengan besarnya panjang kelas interval (P).
5. Menyusun kelas interval, berdasarkan data misalnya 80 data, dibuat panjang
kelas (p) menjadi 10, sedangkan banyak kelas interval = 7, maka kelas interval
dapat disusun sebagai berikut:
35 – 44
45 - 54
55 - 64
65 - 74
75 - 84
85 - 94
95 – 104
6. Mentabulasi data (skor) tersebut dengan memasukan skor-skor ke dalam kelas
interval di mana skor tersebut berada.
Kelas Interval Tabulasi Frekuensi
35 – 44
45 – 54
55 - 64
65 - 74
75 - 84
85 - 94
95 – 104
11
111
11111
11111 11111 1111
1llll lllll lllll lllll llll
Lllll lllll lllll lllll
Lllll lllll ll
2
3
5
14
24
20
12
7. Buatkan grafik sebagai bentuk penyajian data dalam gambar untuk lebih
menjelaskan persoalan secara visual. Data yang dilukiskan dalam bentuk gambar
terdiri dari grafik batang (Histogram) dan grafik garis (Polygon).
Grafik bentuk batang, sangat cocok untuk data yang variabelnya berbentuk
kategori atau atribut. Untuk menggambarkan grafik batang diperlukan sumbu
datar dan sumbu tegak lurus. Sumbu datar dibagi menjadi beberapa bagian yang
sama demikian pula sumbu tegaknya. Skala sumbu datar tidak perlu sama dengan
skla pada sumbu tegaknya. Jika grafik dibuat tegak, maka sumbu datar digunakan
menyatakan besaran skor dan sumbu tegak menyatakan frekuensi siswa. Sebuah
contoh menggambarkan grafik bentuk batang mengenai skor yang dicapai siswa
pada suatu pengetasan sebagai berikut:
0
20
40
60
80
100
120
140
160
SD SMP SMA
Laki-laki
Perempuan
Dalam bentuk garis hampir sama dengan grafik batang yaitu mempunyai
dua sumbu datar dan sumbu tegak yang saling tegak lurus. Sumbu datar
menyatakan data hasil belajar siswa, sedangkan sumbu tegaknya melukiskan
frekuensi siswa. Berikut contoh grafik polygon.
0
50
100
150
200
250
2003 2004 2005 2006 2007
Berdasarkan tabel tersebut terdapat beberapa istilah antara lain:
a. Interval kelas, yaitu kelas-kelas ketika data-data dikelompokan
b. Batas kelas atau kelas limit adalah bilangan batas setiap kelas
c. Tepi kelas adalah nilai yang diperoleh dengan membagi jumlah batas kelas
dari 2 kelas yang berdekatan.
d. Lebar kelas adalah nilai selisih tepi kelas atas dan tepi kelas bawah dari suatu
kls.
e. Nilai tengah atau kelas marks diperoleh dengan membagi dua jumlah tepi atau
batas kelas dari suatu kelas. Untuk perhitungan selanjutnya, nilai tengah
inilah yang mewakili setiap kelas. Jika rentangan sekumpulan data diketahui,
dan jumlah kelas sudah ditentukan, maka lebar kelas dapat dihitung dengan
rumus :
i =
jumlah
jarak
Misalkan nilai tertinggi dari sekumpulan data adalah 180 dan nilai terendah adalah
145, dengan jumlah kelas 9, maka panjang kelas (i) adalah 180-145= 35:9= 4.
Dengan demikian penyajian sekumpulan data tersebut di atas memiliki banyak
kelas 9, panjang kelas 4.
C. Statistik Ukuran Sentral dan Penyebaran Skor
1. Ukuran sentral
Salah satu tugas statistika adalah mencari satu nilai, disekitar mana nilainilai
data memusat, atau yang dapat dianggap sebagai nilai yang mewakili semua
data. Nilai ini disebut nilai pusat atau central tendency. Nilai pusat yang sering
digunakan dalam penelitian pendidikan adalah : (1) rata-rata atau mean, (2)
median, dan (3) modus, yang sering dan paling banyak digunakan adalah rata-rata
atau mean.
(1) Rata-rata.
Nilai rata-rata diperoleh dari jumlah data dibagi dengan jumlah peserta,
misalkan ada 3 nilai yaitu 10, 15, dan 20. akan ditentukan rata-rata dari ke-
3 nilai ini. Caranya adalah sebagai berikut : 10+15+20 = 45/3 =Rata-rata
ke-3 nilai adalah 15. Secara umum menghitung nilai rata-rata
menggunakan rumus sbb.:
X =
N
Σ x
Artinya unsur-unsur tersebut, yaitu:
X = Nilai rata-rata yang dicari
X = Skor yang diperoleh
N = Jumlah siswa
Σ = Jumlah
Mencari nilai rata-rata, apabila ada dua atau lebih skor yang sama,
maka menentukannya dengan cara skor yang dikelompokkan. Ini berarti
harus ditentukan titik tengah dari kelas interval yang memuat rata-rata
dugaan, panjang kelas interval, frekuensi kali deviasi dan jumlah frekuensi
pada kelas interval yang memuat skor rata-rata dugaan. Adapun rumus
yang digunakan adalah:
 


 


= + Σ
Σ
f
fd
X X P 0
Artinya unsur-unsur tersebut adalah:
X = Nilai rata-rata yang dicari
0 X = Titik tengah dari kelas interval yang memuat rata-rata duga
p = panjang kelas interval
fd = frekuensi kali deviasi (f x d)
f = Jumlah frekuensi kelas interval yang memuat nilai rata-rata duga
(2) Median.
Median adalah nilai yang membagi data menjadi dua bagian sama banyak,
setelah data disusun menurut besarnya. Misalnya data 15, 3, 2, 3, 20, 19,
11, 18, 4. Untuk mencari mediannya data disusun dulu menurut besarnya
yaitu : 2,3,4,11,15,18,19,20. Nilai yang membagi data menjadi dua bagian
yang sama adalah 11. Jadi median adalah 11. Jika banyak data genap,
misalnya : 20, 19, 18, 15, 11, 4, 4, 3, 3, 2. 11+ 4 / 2 = 7,5. Untuk data
berkelompok, ada rumus untuk mencari mediannya.
 


 

 -
= +
f
N f
Median Me L p 2
1
( )
L : Batas limit yang terendah dari kelas interval yang memuat
median.
p : Panjang kelas Interval.
F : Jumlah kumulatif frekuensi sebelum kelas interval yang memuat
median (Me).
f : Banyak frekuensi dari kelas interval yang memuat Median (Me).
N : Jumlah orang keseluruhan dalam kelompok.
(3) Modus
Modus adalah nilai dari data yang paling sering terjadi. Misalnya : 19, 18,
17, 14, 13, 13, 13, 10, 11, 13. Nilai yang paling sering terjadi adalah 13.
Jadi modus data ini adalah 13. Ada kalanya data mempunyai dua nilai yang
sering terjadi. Dalam hal ini data disebut mempunyai 2 modus atau data
bimodal. Untuk data berkelompok ada rumus mencari modus.
 


 


= +
1+ 2
( ) 1
b b
b
Modus Mo b p
B = batas bawah dari kelas interval yang memuat Modus dengan
frekuensi terbanyak
P = panjang kelas interval yang memuat modus
b1 = frekuensi kelas interval Modus dikurangi frekuensi kelas interval
terdekat sebelumnya
b2 = frekuensi kelas Modus dikurangi frekuensi kelas interval
berikutnya
2. Ukuran Penyebaran
Pada umumnya ukuran simpangan yang paling banyak digunakan adalah
simpangan baku sampel diberi symbol (s), sedangkan untuk populasi diberi simbol
(@). Untuk mencari simpangan baku, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
perhitungan simpangan baku dari skor yang tidak dikelompokan dan perhitungan
simpangan baku dari skor yang dikelompokan.
Untuk mencari simpangan baku dengan skor yang tidak dikelompokkan,
digunakan pendekatan statistik dengan rumus:
S =
1
( )2
1
-
Σ -
n
X x
Arti unsur-unsur tersebut adalah:
S = Simpangan baku
Xi = Skor yang dicapai seseorang
X = Nilai rata-rata
N = Banyak jumlah orang
Langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Menentukan nilai rata-rata dari skor-skor tersebut
2. Mencari nilai (Xi-X), dengan cara skor yang bersangkutan (Xi) dikurangi
dengan nilai rata-rata (X).
3. Mengkuadratkan nilai (Xi-X), dari masing-masing skor, menjadi nilai (Xi-X)2,
selanjutnya dijumlahkan diperoleh jumlah nilai (Xi-X)2.
4. Mensubtitusikan nilai-nilai tersebut kedalam rumus berikut ini untuk
memperoleh simpangan bakunya yaitu:
S =
1
( )2
1
-
Σ -
n
X x
D. Distribusi Normal
Hampir semua gejala atau variabel dalam pendidikan merupakan gejala
normal. Kecakapan, inteligensi, ukuran badan, tinggi badan, berat badan, minat
motivasi, sikap dan lain-lainnya, semuanya berdistribusi normal. Gambar dari
distribusi normal disebut kurva normal. Kurva normal serupa dengan penampang
lonceng.
-3 -2 -1 0 1 2 3
Gambar 1: Kurva Normal
Beberapa sifat kurva normal antara lain : (1) kurva licin dan simetri
sempurna. (2) karena kurva simetri, maka rata-rata, median, dan modus berimpit
menjadi satu. (3) ujung atau ekor kurva, makin lama makin mendekati sumbu
datar, walaupun tidak akan pernah menyentuh sumbu tersebut. (4) data yang
berada 1s disekitar x adalah 68,26 % dari seluruh data. Data yang berada 2 s
disekitar x adalah 95,44% dari seluruh data. Dapat juga dikatakan : probabilitas
data berada 1s disekitar x adalah 0,9544.
Oleh karena setiap jenis data mempunyai kurva normal, tergantung dari
rata-rata x dan simpangan baku s, maka sangatlah merepotkan menghitung luas
kurva atau probabilitas untuk setiap kurva normal. Untuk mengatasi hal ini, semua
kurva normal dibakukan atau distandarkan. Sehingga diperoleh kurva normal baku
dengan rata-rata = 0 dan simpangan baku = 1. untuk menghitung luas kurva atau
probabilitas, tersedia tabel z. Misalnya untuk menghitung luas kurva antara 0 dan
1 atau menghitung probabilitas data berada antara 0 dan 1, dilihat tabel z seperti
terlihat pada gambar kurva normal nampak jelas daerah O-Z ini, ke arah kanan
harga positif dan ke arah kiri harga negatif. Pada tabel Z arah ke kanan
menunjukkan angka luas daerah, misalkan kanan 1,0 di bawah 0, tertulis 3413,
singkatan dari 0,3413. jadi probabilitas data berada 1 disekitar 0 adalah 0,3413.
probabilitas data berada kurang lebih disekitar 0 adalah 2 x 0,3413 = 0, 6826.
Uji normalitas distribusi dilakukan dua cara, yaitu uji Liliefors (Lo) dan uji
chiquadrat (X2). Uji ini dinamakan uji normalitas distribusi dengan pendekatan
non-parametrik, hal ini dilakukan andaikata kelompok sampel yang digunakan
dalam sebuah penelitian diasumsikan sebagai kelompok kecil. Dalam uji ini tidak
diperlukan parameter tertentu misalnya x dan s oleh karena itu dikenal dengan
pendekatan uji normalitas distribusi non parametrik. Dalam pengujian statistik non
parametrik, andaikata kelompok sampel yang digunakan dalam sebuah penelitian
diasumsikan sebagai kelompok kecil, maka dalam uji ini tidak diperlukan
parameter tertentu misalkan x, s, akan tetapi bergantung sepenuhnya pada data
yang masuk.
E. Pengujian Hipotesis
Cara kedua mengambil kesimpulan adalah dengan pengujian hipotesis.
Kadang-kadang disebut juga pengujian signifikansi atau test of significance,
karena pengujian hipotesis itu menghasilkan penolakan atau penerimaan hipotesis.
Penolakan berarti perbedaan data sampel dan hipotesis signifikan, menerima
berarti perbedaan tidak signifikan.
Hipotesis berasal dari kata Greek, terdiri dari dua kata yaitu hipo dan tesis.
Hipo artinya di bawah atau kurang atau lemah, sedangkan tesis artinya teori atau
proposisi. Jadi hipotesis adalah pernyataan sementara sebagai jawaban sesuatu
masalah yang sedang diteliti. Jika pernyataan atau proposisi atau hipotesis itu
dirumuskan secara matematika dalam parameter populasi maka hipotesis itu
disebut hipotesis statistika. Contoh-contoh hipotesis penelitian antara lain: (1) pria
lebih cerdas dari wanita. (2) metode pengajaran inkuiri lebih baik dari metode
ekspositori. (3) metode pengajaran bervariasi lebih baik dari metode modul.
Karena hipotesis merupakan pernyataan atau jawaban sementara,
mengenai sesuatu masalah yang sedang diteliti, maka perlu diuji kebenarannya.
Menguji artinya menolak atau menerima hipotesis. Jika hipotesis diterima maka
hipotesis menjadi tesis atau teori.
Pengujian hipotesis statistika akan membawa kepada kesimpulan untuk
menerima atau menolak hipotesis. Dengan demikian peneliti dihadapkan kepada
dua pilihan. Agar pemilihan lebih dihadapkan pada kemudahan dan ketelitian,
maka diperlukan hipotesis alternatif yang selanjutnya dinyatakan dengan Ha dan
Hipotesis nol yang dinyatakan dengan Ho. Ha disebut juga sebagai hipotesis kerja
atau penelitian dan merupakan lawan dari Ho yang cenderung dinyatakan dalam
kalimat positif sedangkan Ho dalam kalimat negative.
Ho : Tidak terdapat hubungan fungsional yang positif antara variabel X dengan Y.
Ha : Terdapat hubungan fungsional yang positif antara variabel X dengan Y. atau
Ho : Tidak terdapat perbedaan motivasi kerja antara pria dan wanita
Ha : Terdapat perbedaan motivasi kerja antara pria dan wanita.
E. Analisis Hasil Pengujian Hipotesis
1) Kesalahan Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis penelitian, maka dilakukan perhitungan proporsi
jumlah sampel yang diambil sebelum menentukan pendekatan statistik yang
digunakan. Kemudian dibandingkan dengan hipotesis statistic yang digunakan
peneliti. Dengan menggunakan kriteria tertentu, hipotesis ditolak atau diterima.
Artinya jika statistik jauh berbeda dari hipotesis, ditolak, jika tidak berbeda,
diterima. Hasil pengujian adalah menolak atau menerima hipotesis.
Oleh karena itu, dalam pengujian hipotesis ada dua jenis kesalahan yang
mungkin dilakukan, yaitu kesalahan jenis kesatu dan kesalahan jenis kedua. Besar
kesalahan ini dinyatakan dalam probabilitas.
Kesalahan jenis pertama terjadi karena menolak hipotesis yang seharusnya
diterima, hipotesis benar. Kesalahan ini dinotasikan dengan m , taraf signifikansi.
Kesalahan jenis kedua terjadi karena menerima hipotesis yang seharusnya ditolak,
hipotesis salah. Kesalahan ini dinotasikan dengan β. Hubungan antara hipotesis,
kesimpulan dan jenis kesalahan dapat diperlihatkan pada tabel berikut :
Pengujian hipotesis dikatakan teliti jika kedua jenis kesalahan terjadi
probabilitas sekecil mungkin. Akan tetapi hal ini tidak mungkin dapat dilakukan,
karena kedua jenis kesalahan itu saling berkaitan. Oleh karena itu, setiap
pengujian hipotesis, harga x ditentukan terlebih dahulu, biasanya harga a diambil
0,05 atau 0,01.
2) Perumusan Hipotesis
Pengujian hipotesis menghasilkan kesimpulan, yaitu menolak atau
menerima hipotesis, jadi terdapat dua pilihan. Agar penentuan pilihan lebih mudah
dilakukan, hipotesis perlu dirumuskan secara matematika, hipotesis statistika,
tepat, singkat dan jelas. Dalam rumusan hipotesis, harus terlihat adanya dua
pilihan.
Misalnya, jika hipotesis penelitian berbunyi : tidak ada perbedaan antara
metode mengajar inkuiri dan metode mengajar ekspositori terhadap keberhasilan
belajar matematika, maka perumusan hipotesisnya atau hipotesis statistikanya
adalah
H : μ1 = μ2
A : μ 1 ≠ μ2
Pengujian dua skor. Dari μi dan μ2 dua parameter dari dua populasi, yaitu
populasi dari metode mengajar inkuiri dan populasi metode mengajar ekspositori.
H disebut hipotesis nol dan A disebut hipotesis alternative atau hipotesis
tandingan. Hipotesis alternatif, disamping sebagai hipotesis pilihan kedua
berfungsi sebagai penentu daerah penolakan atau daerah kritis, critical region.
Luasnya = “x. oleh karena itu daerah penerimaan atau acceptance region, luasnya
adalah 1-“x.
Sesudah hipotesis dirumuskan, lalu memilih statistik yang digunakan
dalam pengujian. Apakah statistik z, t, x2, dan F tergantung dari masalah yang
dihadapi. Harga-harga statistik dihitung dari sampel random yang diambil dari
populasi yang sedang diteliti. Kemudian berdasarkan pilihan “x, ukuran daerah
kritis, criteria pengujian ditentukan.
Jika hipotesis alternatif A mempunyai perumusan tidak sama, maka dapat
distribusi statistik yang digunakan, terdapat dua daerah kritis, masing-masing
terletak diujung kiri dan ujung kanan distribusi. Luas daerah kritis disetiap ujung
adalah ½ x, jika x taraf signifikansi pengujian. Karena ada dua daerah kritis, maka
pengujian hipotesis ini disebut pengujian dua ekor. Harga d1, d2 diperoleh dari
tabel statistic yang digunakan.
Kriteria pengujian adalah:
Tolak H jika harga statistik yang dihitung dari sampel jatuh di derah kritis. Terima
H, jika harga statistik yang dihitung dari sampel, jatuh di daerah penerimaan.
Jika hipotesis alternatif A mempunyai perumusan lebih besar, maka pada
distribusi statistik yang digunakan terdapat hanya satu daerah kritis, letaknya
diujung kanan. Harga diperoleh dari tabel distribusi yang digunakan.
Kriteria pengujian adalah:
Tolak H jika harga statistik yang dihitung dari sampel, tidak kurang dari d (TH ≤
d)
Terima H jika harga statistik yang dihitung dari sampel lebih kecil dari d.
Pengujian hipotesis ini disebut pengujian satu ekor.
Jika hipotesis alternatif A mempunyai perumusan lebih kecil, maka daerah
kritis m ada di kiri. Harga diperoleh dari tabel distribusi statistik yang digunakan.
Kriteria pengujian adalah :
Tolak H jika harga statistik yang dihitung dari sampel, tidak lebih dari d.
Terima H jika statistik yang dihitung dari sampel lebih besar dari d. pengujian
hipotesis ini disebut pengujian hipotesis satu ekor, ekor kiri.
3) Menguji
Hipotesis nol (Ho) merupakan hipotesis yang dihadapkan pada pengujian
(Hipotesis yang akan diputuskan ditolak/diterima). Hipotesis alternative (Ha)
merupakan lawan dari hipotesis nol (Ho). Misalkan Ho ditolak, berarti mean
sampel-sampel sangat menyimpang sehingga peluang mean sampel acak sama
dengan mean populasi akan kurang dari atau sama dengan 0,05. Kriteria seperti itu
disebut tingkat signifikansi dan dilambangkan dengan x, sehingga x = 0,05.
Daerah penolakan adalah bagian dari distribusi penyampelan yang meliputi
nilai-nilai X yang mengarah kepada penolakan Ho. Sedangkan daerah penerimaan
(pemertahanan) merupakan bagian dari distribusi penyampelan yang meliputi
nilai-nilai X yang mengarah pada penerimaan Ho. Nilai kritis merupakan nilai z
atau t yang diperoleh dari daftar z atau daftar t sesuai dengan tingkat
sifnifikansinya. Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut ini:
Langkah-langkah Uji Hipotesis:
1. Rumuskan pasangan hipotesis yang akan diuji
2. Tentukan pendekatan statistiknya
3. Tentukan kriteria penerimaan dan penolakan hipotesisnya
4. Tentukan batas kritis penerimaan dan penolakan hipotesisnya
5. Bandingkan hasil analisis statistic dengan kriterianya (titik kritis)
6. Rumuskan pernyataan kesimpulannya.
Contoh kesatu: Uji Hipotesis dengan uji rata-rata dengan parameter
populasinya:
Seorang instruktur fitness bermaksud menyusun program menurunkan
berat badan X = 2,0 kg per minggu. Hasil program mempunyai varians = 0,9 kg.
Program baru dibuat dan diusulkan untuk mengganti program yang lama. Jika
rata-rata menurunkan berat badan paling sedikit 2,4 kg perminggu tanpa efek
samping. Untuk menentukan apakah program-program baru diganti atau tidak
program baru diujicobakan pada 20 orang ibu-ibu dan ternyata turun berat badan
per minggu menjadi 2,7 kg.
Peneliti bermaksud mengambil resiko 5 % untuk menggunakan metode
baru apabila mampu menurunkan berat badan 2,4 kg per minggu tanpa ada efek
samping terhadap kesehatan. Bagaimana keputusan peneliti?
Jawab:
Jika distribusi penurunan berat badan normal maka peneliti menguji
pasangan A : X = 2,4 kg
Harga-harga yang diperlukan: X = 2,7 kg, n = 20, S = 0,9, dan X= 2,4 maka:
Rumus Z =
B S
X - X
Dari daftar distribusi normal baku x = 0,05 dengan dk (n-1)= 19 diperoleh Z =
1,64.
Kriteria hipotesis: Tolak hipotesis H jika Z hitung lebih besar atau sama dengan
1,64, jika Z hitung lebih kecil dari 1,64 maka hipotesis H diterima. Dari hasil
perhitungan diperolkeh Z = 1,42 yang berarti jatuh pada daerah penerimaan. Ini
berarti bahwa program penurunan berat badan baru belum dapat menggantikan
program yang lama pada resiko 5 %.
Contoh Uji Hipotesis Perbedaan Dua Rata-rata dalam Penelitian Pendidikan
Penerapan uji statistik penelitian melalui sebuah contoh dalam penelitian
pendidikan dengan prosedur sbb:
1. Rumusan Masalah
Apakah ada perbedaan penguasaan pemrograman komputer antara kelompok
yang diberikan perlakuan pembelajaran tradisional dan pendekatan kooperatif?
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bermaksud memperoleh gambaran empiris tentang perbedaan
prestasi belajar mahasiswa yang memperoleh pembelajaran pola tradisional
dengan mahasiswa yang memper oleh pembelajaran pola kooperatif pada mata
kuliah teknologi computer.
Hasil penelitian diharapkan bisa dijadikan sebagai sumbangn yng berarti
dalam mengembangkan teori-teori pembelajaran, dan pemilihan pendekatan
pengjaran yang sesuai, khususnya dalam pembelajaran Komputer.
3. Anggapan Dasar
1. Mahasiswa yang dijadikan subyek penelitian ini memiliki kemampuan awal
yang relative sama.
2. Metode pengajaran mempunyai pengaruh terhadap tingkat penguasaan
didik.
4.Hipotesis
Tidak terhadap perbedaan perubahan prestasi belajar pemrograman
computer antara mahasiswa yang memperoleh pembelajaran pola tradisional
dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran pola kooperatif pada mata
kuliah teknologi computer.
5.Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah karakteristik tentang pembelajaran
pemrograman computer dengan pola trdisional dan kooperatif, yang diberikan
kepada seluruh mahasiswa jurusan pendidikan Tiknik mesin baik S1 maupun D3.
Pada tahun 2003 ini telah dilakukan proses pembeljaran pemrograman computer
kepada pera mahasiswa pada kedua program tersebut yang berjumlah 171 orang.
Penarik sampel secara acak dilakukan kepada masing-masing program tersebut,
yaitu untuk S1 berjumlah 30 dan D3 berjumlah 26.
6.Metode Penelitian
Metode deskriptif dengan pendektan komparatif dalam penelitian ini
digunakan dengan maksud untuk memperoleh gambaran tentang pembedaan
antarapenguasaan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran dengan pola
tradisional dengn pola koopertif, yang terjadi pada saat ini.
7.Teknik Analisis Data
Data lapangan yang diperoleh dianalisis dengan cara membandingkan
perubahan prestasi pemrograman komputer pada dua kelompok yang berbeda.
Adapun teknik analisisnya dengn menggunakan statistik parameterik, dengn uji t
untuk menguji hipotesis.
Hipotesis statistik yang dilakukan adalah=
H : m -m = 0
H : m -m = 0
Maka secara berturut-turut data yang ada akan diolah dengan menggunakan
rumus-rumus sebagai berikut
1)
X y N
y
Y
N
x
X
Σ Σ
= : =
2) ( ) Σ
Σ
= -
X
x N
X
SS X
2
2
1
2
-
=
x
X n
SS
S
3) ( ) Σ
Σ
= -
y
y N
y
SS y
2
2
1
2
-
=
y
y n
SS
S
4)
( )( )
( ) ( ) 



 


+ 



 


- + -
+
- -
=
x y x y
x y
x y hyp
n n n n
SS SS
X Y
f
1 1
1 1
m m
5) df = (n – 1)+(n-1)
6) Bandingkan t dengan t
7) Kesimpulan
A.Data skor Hasil Belajar pemrograman komputer
No Pola
Tradisional
Pola
Kooperatif
X2 Y2
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
38
30
33
31
29
37
33
31
31
20
30
31
31
29
33
33
34
26
27
32
30
25
20
24
23
17
16
35
30
29
30
21
33
21
25
24
1444
900
1089
961
841
1469
1089
961
961
400
900
961
961
841
1089
1089
1156
676
729
1024
900
625
400
576
529
289
256
1225
900
841
900
441
1089
441
625
576
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
30
28
27
24
25
26
22
26
22
19
22
20
15
35
22
24
29
18
23
23
900
784
729
576
625
676
484
676
484
361
484
400
225
1225
484
576
841
324
529
529
Jumlah 768 734 23188 18828
Maka t > t atau 5,45> 2,004; sehingga H ditolak atau H diterima, yaitu
Terhadap perbedaan perubahan prestasi belajar pemrograman komputer antara
mahasiswa yang memperoleh pembelajaran pola tradisaonal dengan mahasiswa
yang memperoleh pembelajaran pola kooperatif pada mata kuliah Teknologi
kooperatif.
Kesimpulan: Pola pembelajaran tradisional memberikan penguasaan
pemrgramankomputer yang berbeda disbanding dengan pola pembelajaran
kooperatif.
LATIHAN
Setelah Anda membaca Kegiatan Pembelajaran 3 dalam BBM ini, agar
mendiskusikan dengan teman Anda beberapa kegiatan latihan di bawah ini untuk
memperdalam pemahaman materi yang telah dicari.
1. Diskusikan dengan teman Anda, pengertian dan perbedaan statistik
deskriptif dengan statistik inferensial?
2. Bagaimana menyusun langkah-langkah pembuatan distribusi frekuensi
dalam membuat grafik atau tabel?
3. Kemukakan menurut pendapat Anda, perhitungan rata-rata, median, dan
modus dalam ukuran sentral?
4. Bagaimana langkah-langkah pengujian hipotesis statistik?
5. Bagaimana anda membedakan antara hipotesis nol dengan hipotesis
alternative?
Petunjuk Jawaban Soal
1. Statistik deskriptif merupakan cara pengambilan, pengumpulan, pengolahan
dan penafsiran data untuk keperluan penjelasan dan menggambarkan hasil
penelitian tanpa menarik sebuah kesimpulan. Sedangkan statistik inferensial
selain memaparkan data yang berasal dari sampel atau populasi untuk
keperluan pengambilan kesimpulan juga diuji dan diperhitungkan hipotesis
penelitian yang diajukan untuk ditafsirkan apakah data tersebut memenuhi
syarat atau tidak.
2. Langkah-langkah penyusunan distribusi frekuensi meliputi: menentukan
rentang, banyak kelas interval, panjang kelas interval, ujung kelas interval
pertama, menysun kelas interval, mentabulasi data, menghitung frekuensi dan
menggambarkan dalam bentuk tabel atau grafik.
3. Untuk menentukan skor rata-rata maka jumlah skor dibagi dengan banyak
peserta. Median ditentukan berdasarkan skor tengah yang membagi kelompok
tersebut menjadi dua bagian yang sama. Perhitungan modus dengan cara skor
mana yang paling banyak dicapai siswa atau paling banyak memuat
frekuensinya.
4. Langkah-langkah Uji Hipotesis sebagai berikut: Rumuskan pasangan hipotesis
yang akan diuji, tentukan pendekatan statistiknya, tentukan kriteria
penerimaan dan penolakan hipotesisnya, tentukan batas kritis penerimaan dan
penolakan hipotesisnya, bandingkan hasil analisis statistik dengan kriterianya
(titik kritis), rumuskan pernyataan kesimpulannya.
5. Hipotesis statistik merupakan pernyataan yang harus dilakukan pengujian
apakah terbukti atau sebaliknya. Pernyataan itu meliputi pernyataan positif
disebut hipotesis penelitian atau alternative (Ha) dan pernyataan negative
disebut hipotesis nol (Ho).
RANGKUMAN
Analisis statistik terhadap hasil penelitian merupakan langkah pengolahan
data sebelum menarik sebuah kesimpulan. Statistik yang digunakan meliputi
statistic deskriptif dan statistic inferensial, karena keduanya digunakan selain
pemaparan data juga dapat menaksirkan data untuk diambil kesimpulan dalam
melakukan penelitian. Penyajian data merupakan gambaran data yang dijelaskan
melalui tabel, gambar, garafik batang atau grafik garis, dimana menyusunya
dengan melihat distribusi frekuensi yang ditentukan berdasarkan rang, banyak
kelas, panjang kelas dan frekuensi yang tersebar masing-masing kelas interval.
Pengolahan data dimulai dari menentukan ukuran sentral seperti skor ratarata,
median, dan modus, kemudian dihitung pula penyebaran skor dengan
simpangan baku. Data-data mentah yang diperoleh dari subjek penelitian diuji
normalitasnya melalui uni Liliefors (Lo) atau Chiquadrat (X2) sebagai uji pra
analisis. Pengujian hipotesis dilakukan terhadap hipotesis statistik yaitu Ho dan Ha
yang meliputi uji satu pihak atau dua pihak dimana penentuannya berdasarkan
pada masalah yang diteliti.
TES FORMATIF
Petunjuk: Pilih salah satu jawaban yang dianggap paling tepat!
A. Jika (1), (2) dan (3) benar
B. Jika (1) dan (3) benar
C. Jika (2) dan (4) benar
D. Jika (4) benar
1. Cara menyusun tabel distribusi frekuensi harus dihitung:
(1). Selisih skor tertinggi dan terendah
(2). Banyak kelas interval
(3). Panjang kelas interval
(4). Skor rata-rata dari banyaknya peserta
2. Yang termasuk pada ukuran sentral atau memusat dalam statistik penelitian
adalah:
(1) Mean
(2) Standar deviasi
(3) Median
(4) Vareansi
3. Cara menghitung skor rata-rata dari 30 orang siswa melakukan tes matematika
adalah:
(1) Tentukan range kemudian dibagi banyak 30 orang siswa
(2) Jumlahkan seluruh skor kemudian bagi 30 siswa setelah standar skor
(3) Jumlahkan skor-skor yang diperoleh kalikan dengan 30 orang siswa
(4) Jumlah skor yang diperoleh dibagi dengan jumlah peserta
4. Uji statistik pada hakekatnya menguji hipotesis nol yang pada intinya memiliki
makna sebagai berikut:
(1) Memiliki arti yang berlawanan dengan hipotesis penelitian
(2) Untuk pembuktian pernyataan hipotesis diterima atau ditolak
(3) Jenis uji hipotesis berupa uji satu pihak atau dua pihak
(4) Melakukan uji hipotesis setelah analisis statistik prasarat
5. Persyaratan uji normalitas data dengan statistik non parametrik adalah:
(1) Tidak memerlukan parameter rata-rata dan simpangan baku
(2) Tidak diharuskan menguji pra analisis data
(3) Dapat dilakukan dalam kelompok kecil
(4) Tentukan batas kritis penolakan atau penerimaan
6. Kesalahan yang sering ditemukan dalam pengujian hipotesis adalah:
(1) Menolak hipotesis yang seharusnya diterima
(2) Menolak hipotesis karena di luar angka batas kritis
(3) Menerima hipotesis yang seharusnya ditolak
(4) Tolak hipotesis karena statistik yang dihitung jatuh di daewrah kritis
7. Yang termasuk pada pengujian normalitas data atau pra analisis adalah:
(1) Uji dua rata-rata satu pihak
(2) Uji chiquadrat (X2)
(3) Uji perbedaan dua rata-rata
(4) Uji Liliefors
8. Apabila hasil statistik hitung dari sampel jatuh di daerah sebelum titik kritis,
maka kesimpulan pengujian hipotesis adalah:
(1) Hipotesis penelitian ditolak
(2) Hipotesis diterima
(3) Hipotesis nol diterima karena berada di daerah penerimaan
(4) Hipotesis alternatif diterima karena berada di daerah penerimaannya
9. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil Z hitung sebesar 1,24 sedangkan
Z tabel sebesar 1, 42, maka penapsiran yang tepat adalah:
(1) Hipotesis diterima karena Z hitung lebih kecil
(2) Hipotesis diterima karena Z tabel lebih besar
(3) Hipotesis diterima karena Z hitung berada di daerah penerimaan
(4) Hipotesis ditolak karena Z tabel berada di daerah penerimaan
10. Apabila sebuah kesimpulan penelitian menyatakan bahwa pendekatan
kooperatif hasilnya berbeda dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran
tradisional terhadap prestasi belajar IPS, maka pengujian hipotesis yang tepat
adalah:
(1) Uji rata-rata satu pihak
(2) Uji perbedaan dua pihak
(3) Uji perbedaan satu rata-rata
(4) Uji perbedaan dua rata-rata
BALIKAN DAN TINDAK LANJUT
Cocokanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif pada bagian Bahan
Belajar Mandiri ini. Hitunglah jawaban anda yang benar itu kemudian untuk
mengetahui tingkatan penguasaan terhadap Bahan Belajar 1:
Rumus: Tingkat Penguasaan = Jumlah jawaban Anda yang benar
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 % - 100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
70 % = kurang
Bila anda telah mencapai tingkat kemampuan 80% atau lebih, maka anda bisa
mempelajari bahan belajar mandiri berikutnya. Namun bila anda masih berada
pada tingkat penguasaan dibawah 80%, maka anda harus mengulangi kegiatan
pembelajaran terutama yang anda sama sekali belum dipahami.
KUNCI JAWABAN TES FORMATIF BBM 6
Tes Formatif I
1. D
2. C
3. A
4. A
5. C
6. A
7. A
8. D
9. B
10. D
Tes Formatif 2
1. B
2. A
3. C
4. A
5. A
6. A
7. B
8. A
9. D
10. C
Tes Formatif 3
1. A
2. B
3. D
4. A
5. B
6. B
7. C
8. B
9. B
10. D
GLOSARIUM
Menganalisis data merupakan pengambilan keputusan mengenai bagaimana
menampilkan data baik dalam bentuk table, matriks, maupun
bentuk narasi lainnya yang merupakan tugas yang penuh
tantangan. Sebenarnya tidak ada pedoman khusus mengenai
cara menganalisis data dalam penelitian tindakan, namun
umumnya peneliti melakukan cara membandingkan strategi
analisis dari para ahli peneliti sebagai rujukan.
Kerangka kerja analisis dimulai dari validasi, interpretasi dengan acuan teori dan
tindakan untuk perbaikan pembelajaran.
Validitas instrument merupakan tingkat ketepatan instrument mengukur aspek
yang diukur.
Validitas internal adalah validitas penelitian yang menunjukkan sejauhmana
variabel-variabel ekstranus dapat dikontrol.
Validitas eksternal adalah validitas penelitian yang menunjukkan sejauhmana
hasil penelitian dapat berlaku atau diterapkan dalam
lingkungan yang lebih luas.
Validitas isi adalah berkenaan dengan isi atau format dari instrument.
Validitas konstruk adalah berkenaan dengan konstruk atau struktur dan
karakteristik psikjologis aspek yang akan diukur dengan
instrument.
Validitas criteria adalah berkenaan dengan tingkat ketepatan instrument
mengukur segi yang akan diukur dibandingkan dengan hasil
pengukuran dengan instrument yang lain yang menjadi
criteria.
Reliabilitas instrument merupakan tingkat keajegan atau ketetapan hasil
pengukuran. Suatu instrument memiliki tingkat reliabilitas
apabila instrument tersebut digunakan mengukur aspek yang
diukur dari beberapa kali pengukuran hasilnya relative sama.
Instrumen tes adalah alat pengumpul data yang bersifat mengukur dan
menghasilkan data hasil ukur.
Instrumen non-tes adalah alat pengumpul data yang hanya bersifat menghimpun
dan memberikan deskripsi.
Verifikasi data adalah upaya memeriksa kebenaran data sampai diyakini bahwa
data yang terkumpul bersifat apa adanya, tidak menyesatkan,
data yang memang dicari dan paling terandalkan.
Teknik verifikasi data merupakan cara yang dapat dilakukan melalui pencocokan
dan penyilangan kebenaran data dengan data lainnya
Partisipatoris dalam penelitian tindakan adalah peranan guru bukan sekedar
pelaksana akan tetapi berperan aktif dalam setiap perencanaan
tindakan, pelaksanaan, sampai dengan pemantauan serta
evaluasi dan refleksi hasil tindakan.
Evaluasi dalam PTK adalah upaya mengenali dan memaknai hasil-hasil yang
dapat dicapai dari pelaksanaan tindakan kelas, baik hasil yang
berupa proses pembelajaran maupun hasil belajar para murid.
Kolaboratif dalam PTK adalah bagaimana memposisikan guru sebagai mitra
kerja peneliti, masing-masing memusatkan perhatiannya pada
aspek-aspek penelitian tindakan yang sesuai dengan
keahliannya, guru sebagai praktisi pembelajaran, peneliti
sebagai perancang dan pengamat yang kritis. Dalam penelitian
tinbdakan yanfg mandiri, guru berperan sebagai praktisi
pembelajaran dan sekaligus sebagai peneliti.
Skala pengukuran interval adalah bentuk instrument pengukuran yang
menghasilkan data yang bersifat interval atau angka yang
berjarak sama dengan nilai absolute di bawah nol.
Skala pengukuran nominal adalah bentuk instrument pengukuran yang
menghasilkan data bersifat kategori atau klasifikasi.
Skala pengukuran ordinal adalah bentuk instrument pengukuran yang
menghasilkan data yang bersifat ordinal, urutan atau ranking.
Skala pengukuran rasio adalah bentuk instrument yang menghasilkan data yang
bersifat interval atau angka yang berjarak sama dengan nilai
absolute nol.
Statistik adalah kumpulan angkja-angka yang disusun dan disajikan dalam bentuk
daftar atau tabel yang sering disertai gambar-gambar yang
dilukiskan dalam grafik yang lebih menbjelaskan mengenai
kumpulan angka-angka yang sering dipelajari.
Statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan
fakta, pengolahan dan penganalisisannya serta penarikan
kesimpulan dan pembuatan keputusan berdasarkan pengolahan
dan analisis data yang diperoleh dari hasil pengukuran.
Statistika deskriptif yaitu cara yang dilakukan mengenai pengaturan sekumpulan
data atau fakta yang belum teratur menjadi beberapa bilangan
yang dapat dipahami dengan mudah dan memberikan
gambaran mengenai data atau fakta itu sehingga mempunyai
arti atau makna.
Statistika inferensial adalah untuk mengetahui sampai dimana hasil-hasil yang
diperoleh dari pengukuran atau pengetesan terhadap suatu
sampel dapat dipercaya sebagai dasar untuk menarik
kesimpulan mengenai populasi dari mana sampel telah
diambil.
KEPUSTAKAAN
Bogdan, R. C. & Biklen S.K. (l992). Qualitative Research for Education.
Boston: Allyn and Bacon.
Gall, M.D; Gall, J. P. & Borg, W.R. (2003). Educational Research. Boston:
Pearson Education, Inc.
Irawan Soehartono (l999). Metode Penelitian Sosial: Suatu Teknik Penelitian
Bidang Kesejahtraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Minium W. Edward (l993). (l993). Statistical Rasioning in Psychology and
Education. Canada: Jhon Willey & Sons, Inc.
McMillan, J.H. & Schumacher, Sally. (2001). Research in Education. New York:
Longman.
Moleong, J. Lexy (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Nana Syaodih Sukmadinata (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Program
Pascasarjana UPI dengan Remaja Rosdakarya
Natawidjaya, Rochman (l997). Konsep Dasar Penelitian Tindakan. Bandung:
IKIP Bandung
Rochiati, Wiriaatmadja (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas: Untuk
Meningkatkan Kinerja Guru. Bandung: Kerjasama
Program Pascasarja UPI dengan Remaja Rosdakarya.
Sumarno (l997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jogyakarta:
Dirjend Pendidikan Tinggi.
Sudjana (l988). Metoda Statistika. Tarsito Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar