Senin, 06 Februari 2012

PEMBELAJARAN ORANG DEWASA (KEMAMPUAN KOGNITIF DAN KESIAPAN BELAJAR)

Makalah Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Teori Pembelajaran Orang Dewasa

Dosen Pengampu : Prof. Dr. C Asri Budiningsih, M.Pd





Oleh :
Rasidi (11703254005)
Titik Handayani (11703254015)









MANAJEMEN PENDIDIKAN
PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia, karena dengan pendidikanlah manusia bisa tercerahkan untuk mengambil keputusan dan melaksanakan apa yang diputuskan sehingga bermakna bagi dirinya dan orang disekitarnya. Dengan manfaat pendidikan yang tidak bisa digantikan maka perlu kajian yang lebih mendalam tentang pendidikan supaya pendidikan ini menjadi peran yang maksimal mencerahkan manusianya. Pendidikan terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya pedagogi dan andragogi. Pedagogi adalah seni untuk mengajar anak, dan andragogi adalah seni untuk mengajar orang dewasa. Masing – masing mempunyai kajian dan caranya masing – masing dalam memperlakukan peserta belajar. Dari masing masing mempunyai persamaan dan perbedaan yang saling membangun sebuah kesempurnaan perlakuan terhadap subjek belajar dan objek belajar begitu juga dengan metodenya. Dalam mengajar anak - anak mayoritas perlakuan lebih mendampingi, mengarahkan, dari satu langkah ke langkah berikutnya, berbeda dengan orang dewasa, orang dewasa ketika belajar cenderung lebih mandiri, sebagai fasilitator, pengajar mengantarkan materi.
Dalam kenyataan banyak praktek pembelajaran yang kurang pas, ada yang mengajar orang dewasa dengan metode yang seperti anak-anak, ada yang dominan kurang menghargai peserta belajar sebagai manusia yang sudah mempunyai bekal pngetahuan bawaan dan praktik-praktik metode yang keliru. Padahal orang dewasa mempunyai perbedaan ketika berada dalam ruang belajar. Orang dewasa mempunyai bekal pengalaman, konsep diri, orientasi, kesiapan belajar dan juga kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak. Makanya perlu perlakuan yang berbeda. Dari kelima yang cukup menarik adalah kemampuan kognitif dimana setiap orang mempunyai kemampuan kognitif yang berbeda- beda, sehingga satu orang dengan orang lainnya mungkin membutuhkan penanganan yang berbeda. Dilapangan masih sering terjadi pengajar masih belum bisa memberikan perlakuan sesuai kebutuhan yang diajarnya, ada juga yang mengabaikan tentang kemampuan kognitif yang dimiliki oleh peserta belajar. Begitu juga tentang kesiapan belajar yang merupakan syarat dominan dalam pencapaian hasil belajar, kadang kurang diperhatikan oleh pengajar, atau masih menyama-ratakan bahwa kesiapan belajar setiap orang sama, padahal pasti berbeda sesuai dengan persiapan dan kondisinya masing -masing. Oleh karena itu perlu dibahas dan dikaji mendalam tentang kemampuan kognitif dan kesiapan belajar yang dimiliki oleh peserta belajar khususnya orang dewasa.

B. Rumusan permaslahan
Berdasarkan belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana klasifikasi orang dewasa ?
2. Bagaimana kemampuan kognitif orang dewasa ?
3. Bagaimana kesiapan belajar orang dewasa ?

C. Tujuan
Dari latar belakang dan rumusan masalah maka dapat ditetapkan tujuan penulissan makalah yaitu :
1. Untuk mengetahui klasifikasi orang dewasa
2. Untuk mengetahui kemampuan kognitif orang dewasa
3. Untuk mengetahui kesiapan belajar orang dewasa



















BAB II
ISI

A. KLASIFIKASI ORANG DEWASA
Dalam pendidikan orang dewasa (andragogi) terdapat hubungan timbal balik. Dimana hubungan pengajar dan pelajar adalah hubungan yang saling membantu. Pengalaman guru dinilai sebagai sumber utama dalam belajar. Secara fisik usia, rangka tubuh, tinggi dan lebarnya tubuh seseorang dapat menunjukkan sifat kedewasaan pada diri seseorang. Faktor-faktor ini memang biasa digunakan sebagai ukuran kedewasaan. Akan tetapi segi fisik saja belum dapat menjamin ketepatan bagi seseorang untuk dapat dikatakan telah dewasa.
Ketika memasuki masa dewasa muda, biasanya individu telah mencapai penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang matang. Dengan modal itu, seorang individu akan siap untuk menerapkan keahlian tersebut ke dalam dunia pekerjaan. Dengan demikian, individu akan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan mampu mengembangkan daya inisiatif-kreatimya sehingga ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, akan semakin mematangkan kualitas mentalnya. Pada umumnya orang dewasa dikategorikan menjadi 3 macam yaitu: dewasa awal, dewasa madya, dan dewasa akhir karena itu disesuaikan dengan usia dan kemampuan
Perbedaan pendidikan oarang dewasa dengan anak – anak adalah, kalau andragogi pelajar mengelompokkan diri berdasarkan minat, sedangkan pedagogi pengelompokannya berdasarkan tingkatan. Pada andragogi belajar berorientasi pada masalah, dimana pada persoalan sekarang untuk dipergunakan sekarang juga. Sedangkan pada pedagogi orientasi belajarnya adalah pada mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa sekarang untuk bekal hidup dimasa mendatang. Mengenal corak kepribadian seseorang merupakan faktor penentu keberhasilan interaksi kegiatan pembelajaran pendidikan oarang dewasa interaksi antara pelajar adalah inti dari kegiatan pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa. Hal ini dapat terjadi jika ada kontak diantara mereka. Pada umumnya orang dewasa dikatagorikan menjadi 3 oleh Havigurst, yaitu :

1. Dewasa Awal (18 – 35)
Dewasa awal adalah usia yang produktif dan banyak penyesuaian yang harus dilakukan menyebabkan masa ini juga disebut masa bermasalah. Pada ini banyak persoalan – persoalan kehidupan yang baru dan belum pernah ditemui sebelumnya. Masa ini juga ditandai dengan banyaknya permasalahan (emosional tansion) yang terjadi pada masa dewasa awal pada umumnya disebabkan oleh banyaknya persoalan yang dihadapi, dan banyaknya pola yang harus dilakukan, hal ini akan lebih parah bila individu memiliki harapan – harapan terlalu tinggi terhadap perkawinannya dan pekerjaannya ataupun masa depannya. Ketegangan emosional sering muncul dalam bentuk kekhawatiran berkepanjangan yang intensitasnya tergantung pada penyesuaian tehadap persoalan dan pada saat tertentu. Pada dewasa awal ini, penyesuaian diri terhadap masalah pekerjaan, perkawinan, dan keluarga serta perubahan peran sosial dalam masyarakat merupakan hal yang sangat pokok dalam kehidupan masa dewasa ini.

2. Dewasa Madya (35 - 60)
Usia madya merupakan masa peralihan dari masa dewasa yang penuh vitalitas ke masa tua dengan berbagai penurunan fungsi fisik dan psikis, seperti dipahami bahwa masa transisi selalu perlu penyesuaian diri. Penyesuaian yang radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah yang cenderung merusak keseimbangan manusia, baik dalam emosi dan aspek kepribadian yang lain. Tetapi dalam segi emosional pada masa setengah baya ini cenderung fluktuatif (naik turun). Penyesuaian yang menonjol. Pada usia setengah baya atau pada usia madya, berbeda dengan penyesuaian pada awal masa dewasa. Karena masa ini sering dianggap sebagai periode yang ditakuti, pada dasarnya secara manusiawi setiap orang takut kehilangan vitalitas, status dan kemampuan hidup. Sehingga pada masa awal ini sering muncul masa puber kedua, sebagai ekspresi kecemasan terhadap penurunan vitalitas yang dialami. Dan rasa ketakutan dirinya menjadi tua.

3. Dewasa Akhir (61 – keatas)
Dewasa akhir adalah tahap akhir dari perkembangan manusia. Banyak para ahli mengungkapkan pendapat masing – masing seperti halnya Elizabeth B. Hurlock menyatakan bahwa dewasa akhir dibatasi usia 60 tahun.sedangkan di indonesia dewasa akhir ditandai dengan usia 55 tahun ( Utami, 1993 ) WHO memberi batasan yang lebih berani yaitu 65 tahun. Masa ini juga ditandai dengan kemunduran fungsi tubuh. Sedang Pada dewasa akhir perkembangan emosionalnya cenderung lebih stabil.

B. KEMAMPUAN KOGNITIF ORANG DEWASA
1. Kognitif manusia
Kognitif adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Proses yang dilakukan kognitif adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa.
Perkembangan kognitif merupakan kemampuan manusia untuk berpikir, memberi alasan, memahami dan mengingat apa yang ada di sekitar kita. Hal ini melibatkan proses mental untuk membuat informasi yang mencakup mengamati, memperhatikan, memahami dan mengingat informasi.

2. Faktor yang mempengaruhi kognitif
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan kognitif, antara lain:
a. Faktor Bawaan atau Biologis
Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan.
b. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
c. Faktor Pembentukan atau Lingkungan
Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi.
d. Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan seseorang berbeda -beda sesuai dengan keadaan fisik dan sosialnya.
e. Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.

3. Tahapan kognitif manusia
a. Perkembangan kognitif dari blooms
Perkembangan kognitif, meliputi fungsi memproses informasi, pengetahuan dan keahlian mentalitas. Anderson mengklasifikasi proses kognitif menjadi enam kategori, yaitu ingatan (remember), pemahaman (comprhension), aplikasi (application), analisis (analysis), evaluasi (evaluation), dan kreatifitas (create). Dimensi pengetahuan diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu pengetahuan faktual (factual knowledge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge) pengetahuan procedural (procedural knowledge) dan pengetahuan metakognisi (metanognitif knowledge). Dalam revisi teori Taksonomi Bloom terdiri dari sub kategori yang memiliki kata kunci berupa kata yang berasosiasi dengan kategori tersebut diantaranya adalah :
1) mengingat (remember): mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menempatkan, mengulangi, menemukan kembali dan sebagainya;
2) memahami (comprehension): menafsirkan, meringkas, mengklasifikasi dan membandingkan;
3) menerapkan (application): melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekkan dan memilih;
4) menganalisis (analysis): menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang dan mengubah struktur;
5) mengevaluasi (evaluation); menyusun hipotesis, mengkritik, memprediksi, menilai

b. Struktur kognitif
Struktur kognitif terdiri dari :
1) Pengetahuan - untuk mengidentifikasi atau mengingat informasi. Sebagian besar informasi yang ditemukan dalam buku teks yang ditulis pada tingkat pengetahuan - memberikan fakta dan rincian pendukung (termasuk contoh dan beberapa aplikasi). Matching, benar-salah dan pertanyaan pilihan ganda banyak tes tertulis pada tingkat ini.
2) Pemahaman - untuk mengatur dan memilih fakta-fakta dan ide.
Bila Anda meringkas informasi, atau mampu membuat kesimpulan dari apa yang Anda telah membaca atau mendengar, Anda berfungsi pada tingkat pemahaman. Isi-in, jawaban singkat, dan pertanyaan-pertanyaan pilihan yang paling banyak ditulis pada tingkat ini.
3) Aplikasi - untuk menggunakan fakta-fakta, aturan, prinsip-prinsip. Lab dan berorientasi masalah kursus seperti matematika, ilmu pengetahuan, teknik, atau psikologi serta pekerjaan-program terkait seperti ilmu komputer atau membantu medis, sering memanfaatkan tingkat berpikir baik dalam kelas dan selama tes.
4) Analisis - untuk memisahkan keseluruhan menjadi bagian-bagian komponen.
5) Sintesis - untuk menggabungkan ide-ide untuk membentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi - untuk mengembangkan pendapat, penilaian, atau keputusan.

c. Kemampuan kognitif orang dewasa
1) Dewasa Awal
Pada masa dewasa awal individu mulai bisa mengatur pikiran operasional formal mereka. Sehingga mereka mungkin merencanakan atau membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja. Tetapi mereka menjadi lebih sistematis ketika mendekati masalah sebagai seorang dewasa. Sementara dewasa awal lebih bisa menyusun hipotesis dari pada remaja dan menunjukan suatu pemecahan masalah dari suatu masalah.. pada dewasa banyak individu mengkonsolidasikan pemikiran operasional mereka dan banyak orang dewasa lainnya tidak berfikir dengan cara operasional formal sama sekali. “labouvievief” berpendapat bahwa orang dewasa muda memasuki pola pikiran yang pragmatis. “perry” berteori bahwa bersamaan dengan individu memasukli masa dewasa, pemikiran lebih realistic. Sedangkan ”schaie” mengajukan urutan fase-fase kongnitif di antaranya: pengambil alihan, pencapaian, tanggung jawab, eksekutif, reintegratif.
William Perry (1970) mencatat perubahan-perubahan penting tentang cara berfikir orang dewasa muda yang berbeda dengan remaja. Ia percaya bahwa remaja sering memandang dunia dalam dualisme pola polaritas mendasar seperti benar/salah, kita/mereka, atau baik/buruk. Pada waktu kaum muda mulai matang dan memasuki masa dewasa, mereka mulai menyadari perbedaan pendapat dan berbagai perspektif yang dipegang oleh orang lain, yang mengguncangkan dualistik mereka. Pemikiran dualistik mereka diganti oleh pemikiran beragam, saat itu individu mulai memahami bahwa orang semua orang dewasa tidak selalu memiliki semua jawaban. Mereka mulai memperluas wilayah pemikiran individualitik dan mulai percaya bahwa semua orang memiliki pandangan pribadi masing-masing serta setiap pendapat yang ada sebaik pendapat orang lainnya. “Schaie” berpendapat fase mencapai prestasi (achieving stage) adalah fase dimana dewasa awal yang melibatkan intelektualitas pada situasi yang memiliki konsekuensi besar dalam mencapai tujuan jangka panjang, seperti pencapaian karir dan pengetahuan.
2) Dewasa Madya
Kita telah melihat bahwa penurunan pada beberapa ciri fisik dewasa tengah. Orang dewasa tengah mungkin tidak melihat dengan baik, tidak berlari denga cepat. Tapi bagaimana dengan ciri-ciri kognitif dewasa tengah. Kita melihat bahwa kemampuan kognitif semakin meningkat pada dewasa awal. Tetapi kita menemukan penurunan pada dewasa tengah dan kemungkinan terjadi ketika memori jangka panjang terlibat daripada memori jangka pendek. Daya ingatpun juga lebih mungkin turun ketika organisasi dan pembayangan tidak di gunakan. Daya ingat juga cenderung menurun ketika informasi yang di coba untuk di ingat adalah informasi yang di simpan baru-baru ini atau tidak sering digunakan (Riege & Inman, 1980). Dan daya ingat juga cenderung menurun jika diharappkan untuk mengingat (recall) daripada untuk mengenali (recognize) (Mandler, 1980)
.
3) Dewasa Akhir
David Wechsler (1972), yang mengembangkan skala inteligensi, menyimpulkan bahwa masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual, karena adanya proses penuaan yang dialami setiap orang. Sementara, John Horn (1980) berpendapat bahwa beberapa kemampuan memang menurun, sementara kemampuan lainnya tidak. Horn menyatakan bahwa kecerdasan yang mengkristal (crystallized intelligence) yaitu sekumpulan informasi dan kemampuan-kemampuan verbal yang dimiliki individu meningkat, seiring dengan peningkatan usia. Sedangkan kecerdasan yang mengalir (fluid intelligence) yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir abstrak menurun secara pasti sejak masa dewasa madya.
Kecepatan memproses informasi secara pelan-pelan memang akan mengalami penurunan pada masa dewasa akhir, namun faktor individual differences juga berperan dalam hal ini. Nancy Denney (1986) menyatakan bahwa kebanyakan tes kemampuan mengingat dan memecahkan masalah mengukur bagaimana orang-orang dewasa lanjut melakukan aktivitas-aktivitas yang abstrak atau sederhana. Denney menemukan bahwa kecakapan untuk menyelesaikan problem-problem praktis, sebenarnya justru meningkat pada usia 40-an dan 50-an. Pada penelitian lain Denney juga menemukan bahwa individu pada usia 70-an tidak lebih buruk dalam pemecehan masalah-masalah praktis bila dibandingkan mereka yang berusia 20-an. Proses pembelajaran harus kontekstual dan membantu warga belajar melakukan refleksi dan transformasi pengalaman.

C. KESIAPAN BELAJAR
1. Kesiapan Belajar
Kata “siap” dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai sudah sedia atau sudah disediakan. Jadi kesiapan adalah suatu keadaan atau kondisi yang sudah siap. Kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan belajar, yaitu suatu keadaan atau kondisi sebelum kegiatan belajar yang berkaitan dengan informasi yang dimiliki siswa untuk dapat menghasilkan prestasi belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Nasution (1998:179), berpendapat bahwa kondisi sebelum belajar terdiri dari perhatian, motivasi, serta perkembangan kesiapan. Kesiapan pada dasarnya merupakan kemampuan fisik maupun mental untuk belajar disertai harapan keterampilan yang dimiliki dan latar belakang untuk mengerjakan sesuatu. Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban dengan cara tertentu terhadap suatu situasi. Kesiapan belajar erat hubungannya dengan kematangan, kesiapan untuk menerima pelajaran baru tercapai apabila seseorang telah mencapai tingkat kematangan tertentu.
Belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan kepada tingkah laku yang lebih buruk. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut aspek kepribadian baik fisik maupun psikis seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah berfikir, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap. belajar adalah aktivitas pengembangan diri melalui serangkaian proses kegiatan atau pengalaman dalam menuju perubahan dalam diri sesorang dan sebenarnya seseorang dikatakan sudah belajar apabila terjadi perubahan pada diri orang yang belajar akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.
Kesiapan belajar adalah kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban atas pembelajaran atau rangsangan sehingga memperoleh hasil yang mantap baik fisik maupun psikis.

2. ASPEK KESIAPAN BELAJAR
Seseorang akan siap mempelajari sesuatu apabila ia merasakan perlunya melakukan hal tersebut, karena dengan mempelajari sesuatu itu ia dapat memecahkan masalahnya atau dapat menyelesaikan tugasnya sehari-hari dengan baik. Fungsi pendidik di sini adalah menciptakan kondisi, menyiapkan alat serta prosedur untuk membantu mereka menemukan apa yang perlu mereka ketahui. Dengan demikian program belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik.
Berdasarkan pengamatan terhadap proses belajar mengajar ada tiga komponen penting faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar agar dapat melakukan kegiatan belajar yaitu minat, perhatian dan motivasi.

a. Minat
Minat dapat diartikan sebagai keinginan yang kuat untuk memenuhi kepuasan, baik berupa keinginan memiliki atau melakukan sesuatu. Belajar dapat berlangsung dengan baik, jika didorong oleh minat yang kuat. Minat ini besar pengaruhnya terhadap belajar, karena minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan siswa, bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, sebab tidak ada daya tarik baginya. Oleh karena itu, untuk mengatasi siswa yang kurang berminat dalam belajar, guru hendaknya berusaha bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar. Dalam artian menciptakan siswa yang mempunyai minat belajar yang besar, mungkin dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik, salah satunya adalah mengembangkan variasi dalam gaya mengajar. Dengan variasi ini siswa bisa merasa senang dan memperoleh kepuasan terhadap belajar.
Minat mengandung unsur-unsur kognisi (mengenal), emesi (perasaan), dan konasi (kehendak). Oleh sebab itu, minat dapat dianggap sebagai respon yang sadar, sebab kalau tidak demikian, minat tidak akan mempunyai arti apa-apa. Unsur kognisi maksudnya adalah minat itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai obyek yang dituju oleh minat tersebut unsur emosi, karena dalam partisipasi atau pengalaman itu disertai oleh perasaan tertentu, seperti rasa senang, sedangkan unsur konasi merupakan kelanjutan dari unsur kognisi.
Menurut Mahfudz Shalahuddin dalam bukunya pengantar psikologi pendidikan, ada empat aspek yang bisa menumbuhkan minat yaitu :
1) Fungsi/Adanya kebutuhan-kebutuhan
Minat dapat muncul atau digerakkan, jika ada kebutuhan seperti minat terhadap ekonomi, minat ini dapat muncul karena ada kebutuhan sandang, pangan dan papan.
2) Keinginan dan cita-cita
Keinginan dan cita-cita dapat mendorong munculnya minat terhadap sesuatu, seperti keinginan atau cita-cita menjadi dokter. Secara otomatis orang tersebut terdorong dan berminat untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran (kesehatan, penyakit-penyakit). Semakin besar cita-cita atau keinginan, maka semakin besar/tinggi minat yang muncul dalam diri seseorang
3) Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan terdiri dari dua lingkup, yakni lingkup mikro (individual) dan lingkup makro (sosial,adat istiadat) kebudayaan dapat memunculkan minat-minat tertentu seperti tari-tarian, tari remo dari jawa timur, jaipong dari jawa barat, semua itu akan menarik orang untuk memperhatikan dan mempelajari kebudayaan jawa barat dan jawa timur. Begitu juga belajar, minat belajar siswa dapat timbul karena adanya kebiasaan belajar.
4) Pengalaman
Pengalaman merupakan permulaan dari kebudayaan seperti pengalaman seorang guru dapat menimbulkan/menumbuhkan minat guru untuk menekuni bidang-bidang keguruan, dengan adanya pengalaman tersebut minat seseorang bisa tergerak (bertambah), missal ada seseorang siswa, tahun lalu menduduki prestasi rendah, maka siswa tersebut berpikiran jangan sampai itu terulang kembali, sehingga ia lebih meningkatkan belajarnya dari tercapainya prestasi yang lebih baik dari yang kemarin (tahun lalu).
b. Perhatian
adalah proses pemusatan pengerahan aktivitas tenaga psikis (pikiran) dan fisik terutama indra dan gerakan tubuh pada fokus tertentu. Pengerahan aktivitas pikiran dan fisik sangat dipengaruhi oleh kadar kesadaran yang turut serta pada aktivitas tersebut. Semakin tinggi intensitas perhatian pada suatu kegiatan akan semakin sukses kegiatan yang dilakukan tersebut. Sebaliknya jika perhatian lemah, maka akan menimbulkan aktivitas yang kualitasnya rendah dan menimbulkan ketidakseriusan. Ketidakseriusan merupakan awal terbentuknya rasa malas dan bosan.

c. Motivasi
adalah dorongan atau usaha untuk mewujudkan perbuatan dalam bentuk aktivitas untuk mencapai kebutuhan atau tujuan tertentu. Untuk menggerakkan motivasi dari dalam diri, maka harus ada alas an tertentu yang merangsang perbuatan tersebut. Jadi alasan yang kuatlah yang dapat memotivasi untuk giat belajar. Sebaliknya aktivitas yang tidak didasari motivasi yang kuat, akan menimbulkan ketidakseriusan dan perhatian tidak optimal sehingga menimbulkan dorongan untuk mengalihkan aktivitas tersebut ke aktivitas yang lain. Dalam aktivitas belajar ketiga komponen minat, perhatian dan motivasi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kesiapan belajar, jika ketiga komponen tersebut tidak optimal, maka akan mengalami kesulitan melakukan konsentrasi belajar. Motivasi penting dalam menetukan seberapa banyak siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.

3. Teori kesiapan belajar
Ada beberapa pengembangan teori kesiapan belajar yaitu :
a. Maturationalist
Para maturationist berpendapat bahwa : Pertumbuhan, perkembangan, dan pembelajaran merupakan buah dari hukum kematangan internal. Semua anak akan belajar jika diberi cukup waktu untuk berkembang.
b. Behaviorist
Pertumbuhan dan pembelajaran adalah hal yg eksternal bagi anak dan dikendalikan oleh lingkungan. Dengan memengaruhi secara langsung, sederetan stimulus dan respon atau dengan mengaitkan hasil suatu kejadian dengan hasil kejadian lain, akan akan belajar. Semua anak akan bisa belajar jika lingkungan belajar mereka ditata secara serasi.
c. Konstruktivis
Faktor biologis dan fakor lingkungan samasama memengaruhi perkembangan manusia
secara timbal balik. Peran perkebangan alami lewat kematangan merupakan bagian dari teori ini, tapi anak2 tumbuh dan belajar lewat interaksi dengan lingkungan sosial dan alam.

4. Kesiapan belajar orang dewasa
Kesiapan belajar anak ditentukan oleh kemasakan biologis, sementara itu kesiapan belajar orang dewasa ditentukan oleh peran sosialnya. Dari segi kesiapan belajar, orang dewasa memandang bahwa Setiap peserta didik memiliki pola kesiapan yang berbeda dengan warga lainnya terutama dalam hal kekuatan motivasi (inner motivations) seperti: Pada umumnya orang dewasa mereka memiliki kemampuan membaca, menulis dan menghitung dan menguasai kemampuan verbal dan kecakapan mengambil keputusan yang relevan dengan kebutuhan pribadi dan tuntutan sosialnya. Mereka merancang dan menetapkan minat dan kebutuhan belajarnya, mendiagnosis kebutuhannya sesuai tuntutan hidupnya dan lain-lainnya. Pembelajaran dapat bertindak sebagai nara sumber, pengarah, pembimbing, pemberi fasilitas, atau teman belajar.

5. Pendekatan pendidikan orang dewasa
Perkembangan intelektual dapat berupa perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap maupun perilaku, dan perubahan yang berlangsung sepanjang tentang kehidupan manusia. Pendidikan pada umumnya merupakan upaya orang dewasa untuk membimbing anaknya menuju arah kedewasaan, sehingga dalam prosese pembelajaran ada ketergantungan emosional peserta belajar kepada pendidik. Terdapat berbagai hambatan fisik dan psikologis yang menyebabkan pendidikan bagi orang dewasa memerlukan pendekatan khusus, diantaranya (Linandi,1982):

Pembelajaran orang dewasa perlu memperhatikan kondisi psikologis diantaranya:
1) Pembelajaran pada orang dewasa lebih banyak berupa motivasi untuk memperoleh pengetahuan dan sikap baru, bukan berupa pelajaran.
2) Belajar juga melibatkan proses emosional, pengalaman yang banyak dan menyempitnya persepsi dan perhatian orang dewasa menyebabkan mereka sulit memusatkan perhatian dan menata memorinya secara baik.
3) Belajar adalah proses evolusi, kemampuan untuk menerima, mengerti, memahami merupakan proses yang berkembang secara perlahan.
4) Banyaknya pengalaman yang dimiliki perlu ditata kembali tanpa meninggalkan penghargaan terhadap pengalaman yang telah ada.

a. Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan (Zainuddin Arif, 1984):
1) Penciptaan iklim belajar yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan.
2) Peserta diberi kesempatan untuk ikut dalam mendiagnose kebutuhan belajarnya.
3) Keterlibatan peserta dalam pelaksanaan belajar.
4) Kedudukan fasilitator adalah sebagai pembimbing yang berperan sebagai katalist daripada berperan sebagai guru.
5) Evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi diri.

b. Untuk dapat memenuhi prinsip-prinsip diatas, maka suasana belajar berupa:
1) Proses belajar adalah kumpulan dari orang-orang yang aktif berkegiatan.
2) Saling menghormati dan menghargai.
3) Percaya diri dan mempercayai orang lain.
4) Aman.
5) Berprinsip pada penemuan diri dan keterbukaan.
6) Mengakui adanya kekhasan pribadi.
7) Membenarkan adanya perbedaan.
8) Memperbolehkan adanya keraguan dan berbuat kesalahan.
9) Adanya evaluasi secara bersama dan evaluasi diri.
c. Proses Belajar Mengajar Orang Dewasa
1) Memberi kesempatan untuk berinisiatif dan kreatif dalam berperanserta dan mengendalikan proses belajar.
2) Bersifat demokratis.
3) Menghargai dan menempatkan mahasiswa sebagai manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab.

































BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam pendidikan orang dewasa (andragogi) terdapat hubungan timbal balik. Dimana hubungan pengajar dan pelajar adalah hubungan yang saling membantu. Perbedaan pendidikan oarang dewasa dengan anak – anak adalah, kalau andragogi pelajar mengelompokkan diri berdasarkan minat, sedangkan pedagogi pengelompokannya berdasarkan tingkatan. Pada andragogi belajar berorientasi pada masalah, dimana pada persoalan sekarang untuk dipergunakan sekarang juga. Sedangkan pada pedagogi orientasi belajarnya adalah pada mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa sekarang untuk bekal hidup dimasa mendatang. Dimana klasifikasi orang dewasa dibagi menjadi 3 yaitu : Dewasa Awal (20 – 39), Dewasa awal adalah usia yang produktif dan banyak penyesuaian yang harus dilakukan menyebabkan masa ini juga disebut masa bermasalah. Dewasa Madya (40 - 59), Usia madya merupakan masa peralihan dari masa dewasa yang penuh vitalitas ke masa tua dengan berbagai penurunan fungsi fisik dan psikis. Dewasa Akhir (60 – keatas), Dewasa akhir adalah tahap akhir dari perkembangan manusia.
Kognitif adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Faktor yang mempengaruhi kognitif adalah Faktor Bawaan atau Biologis, Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas, Faktor Pembentukan atau Lingkungan, Faktor Kematangan, Faktor Kebebasan. Tahapan kognitif dari blooms yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan juga struktur kognitfnya. Kemampuan kognitif orang dewasa, Dewasa Awal Pada masa dewasa awal individu mulai bisa mengatur pikiran operasional formal mereka. Dewasa Madya Kita telah melihat bahwa penurunan pada beberapa ciri fisik dewasa tengah. Orang dewasa tengah mungkin tidak melihat dengan baik, tidak berlari denga cepat, Dewasa Akhir yang mengembangkan skala inteligensi, menyimpulkan bahwa masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual, karena adanya proses penuaan yang dialami setiap orang.
Kesiapan belajar adalah kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban atas pembelajaran atau rangsangan sehingga memperoleh hasil yang mantap baik fisik maupun psikis. faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar yaitu Minat, Perhatian, dan Motivasi. Ada beberapa pengembangan teori kesiapan belajar yaitu : Maturationalist, Behaviorist, Konstruktivis. kesiapan belajar orang dewasa ditentukan oleh peran sosialnya. Perkembangan intelektual dapat berupa perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap maupun perilaku, dan perubahan yang berlangsung sepanjang tentang kehidupan manusia. Pembelajaran orang dewasa perlu memperhatikan kondisi psikologis, Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan, suasana belajar dan Proses Belajar Mengajar Orang Dewasa.

B. Saran
1. Pembelajaran orang dewasa harus memperhatikan tentang karakteristik tiap orang dewasa yang diajarnya, sehingga belajar orang dewasa akan maksimal.
2. Pempembelajaran orang dewasa hendaknya memperhatikan kemampuan kognitif yang berbeda satu sama lain dan mencari metode yang tepat sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
3. Pembelajaran orang dewasa seharusnya mpertimbangkan kesiapan belajar orang dewasa sehingga sasaran pembelajaran bisa tercapai dengan baik.
4. Pembelajaran orang dewasa perlu memperhatikan kondisi psikologis, dan menggunakan pendekatan orang dewasa sehingga maksimal dalam belajar.





















DAFTAR PUSTAKA

Suprijanto. 2009. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta : Bumi aksara
Asmin. 2009. Jurnal. kosep dan metode pembxelajran untuk orang dewasa. Jakarta: UNJ
http://kadri-blog.blogspot.com/2011/01/kognitif-adalah.html
file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195707041981031-MUHDAR_MAHMUD/Power_Point/KOGNITIF.pdf
http://belajarpsikologi.com/perkembangan-kognitif-masa-dewasa-akhir/#ixzz1fr5LQQYp
http://www.bucks.edu/~specpop/question.htm
http://intanpsikologi.wordpress.com/2010/04/18/kriteria-pemikiran-postformal/
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/01/4/man01.html)
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/196111091987031001-MUSTOFA_KAMIL/Andragogi.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar