Senin, 06 Februari 2012

KONSEP DAN TURUNAN MANAJEMEN KESISWAAN SEBAGAI BAGIAN PENTING DARI MANAJEMEN PENDIDIKAN

KONSEP DAN TURUNAN MANAJEMEN KESISWAAN SEBAGAI BAGIAN PENTING DARI MANAJEMEN PENDIDIKAN







Makalah Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Dasar –Dasar Manajemen Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. Wiwik Wijayanti




Oleh : Rasidi
NIM 11703254005










MANAJEMEN PENDIDIKAN
PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan Makalah
Manajemen pendidikan harus baik dan mampu mencapai tujuan yang ditetapkan, yaitu bagaimanapun caranya pendidikan harus mengacu pada hakikat adanya pendidikan itu sendiri dengan menjadikan manusia lebih dewasa secara positif dan menjadikan peserta dari pendidikan sebagai kader yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Akan tetapi ada banyak kesalahan persepsi mulai dari manajemen pendidikan hanya sebagai pelengkap dalam pendidikan, manajemen banyak mengabaikan tujuan dari pendidikan dari skalanya masing-masing. Dan dengan cara apapun manajemen harus mencapai tujuan dari setiap skala pendidikan dan jangkauannya.
Bagian yang penting dari manajemen pendidikan adalah manajemen kesiswaan. Manajemen kesiswaan harus berorientasi pada tujuan pendidikan, dan berpihak pada kepentingan positif siswa. Manajemen dengan program apapun, dengan kebijakan apapun harus mengacu pada kepentingan positif dari siswa, jangan sampai adanya kebijakan malah mengorbankan hak-hak belajar siswa, dalam skala besar dan kecil diusahakan penerapan aspek-aspek manajemen memenuhi hak-hak siswa baik sebagai subjek atau objek dalam pendidikan.
Manajemen siswa mempunyai peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan pendidikan. Keberhasilan pendidikan sangatlah bergantung pada bagaimana ujung tombak sasaran pendidikan yang tidak lain adalah siswa itu sendiri, makanya perlakuan dan sistem yang mengatur belajar harus dipastikan dengan sebaik-baiknya. Kenyataan yang terjadi dilapangan banyak siswa malah menjadi korban dari manajemen yang salah dan banyak kepentingan siswa yang harusnya menjadi fokus dari penunjang keberhasilan malah diabaikan.
Semua pihak harus peduli terhadap konsep dan penerapan dari manajemen kesiswaan untuk menunjang keberhasilan pendidikan. Konsep yang benar dan baik, serta berafiliasi terhadap kepentingan positif siswa jika diterapkan maka akan condong menguntungkan siswa. Dan keuntungan siswa secara positif juga akan menunjang keberhasilan pendidikan. Konsep yang ada juga harus satu pemahaman di semua lapisan eksekutor manajemen kesiswaan. Konsep yang ada harus memenuhi hak dan kewajiban siswa secara proporsional.
Dari pentingnya manajemen pendidikan khususnya manajemen kesiswaan maka penulis merasa perlu untuk mencari informasi dan menyampaikannya dalam bentuk tulisan yang sederhana untuk menjadi bahan diskusi, dengan judul ‘Konsep dan Turunan Manajemen Kesiswaan Sebagai Bagian Penting Dari Manajemen Pendidikan’.

B. Rumusan permasalalahan
Dari latar belakang yang ada maka dapat diambil ringkasan bahwa yang menjadi jalur pembahasan yaitu: Bagaimana deskripsi tentang Konsep dan Turunan Manajemen Kesiswaan Sebagai Bagian Penting Dari Manajemen Pendidikan?

C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah mengungkapkan deskripsi tentang Konsep dan Turunan Manajemen Kesiswaan Sebagai Bagian Penting Dari Manajemen Pendidikan?





























BAB II
ISI

A. Konsep dasar manajemen kesiswaan
1. Arti manajemen kesiswaan
Menurut Knezevich (1961) manajemen kesiswaan (pupil personnel administration) sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individuan seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah. Manajemen kesiswaan dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap siswa mulai dari siswa tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. manajemen siswa adalah manajemen siswa yang memberikan tekanan pada empat pilar manajemen berbasis sekolah, ialah: mutu, kemandirian, partisipasi masyarakat dan transparansi.
2. Latar belakang dan batasan
a. Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi samanya hak-hak yang mereka punyai. Di antara hak-hak tersebut, yang juga tidak kalah pentingnya adalah hak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu.
b. Kompetisi yang sehat akan memungkinkan jika ada usaha dan kegiatan manajemen, ialah manajemen siswa. Demikian juga siswa yang bermasalah sebagai akibat dari adanya kompetisi akan dapat ditangani dengan baik manakala manajemen siswa-nya baik.
c. Prioritas kebutuhan antar bidang prestasi, setiap siswa mempunyai bakat dan kemampuannya masing –masing, ada yang prestasinya baik tapi sosialnya kurang. Ada yang mempunyai prestasi pada mata pelajaran yang satu dan lemah di pelajaran yang lain.
3. Tujuan dan fungsi
a. Tujuan umum
Tujuan umum manajemen kesiswaan adalah mengatur kegiatan-kegiatan siswa agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
b. Tujuan khusus
1) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor siswa.
2) Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat siswa.
3) Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan siswa.
4) Dengan terpenuhinya 1, 2, dan 3 di atas diharapkan siswa dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.
a. Fungsi secara umum
Fungsi manajemen kesiswaan secara umum adalah: sebagai wahana bagi siswa untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi siswa lainnya.
b. Fungsi khusus
 Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas siswa, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat.
 Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial siswa ialah agar siswa dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya.
 Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan siswa, ialah agar siswa tersalur hobi, kesenangan dan minatnya.
 Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan siswa ialah agar siswa sejahtera dalam hidupnya.
4. Prinsip – prinsip
Adapun prinsip-prinsip manajemen kesiswaan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Manajemen kesiswaan dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan.
b. Segala bentuk kegiatan manajemen kesiswaan haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para siswanya.
c. Kegiatan-kegiatan manajemen kesiswaan haruslah diupayakan untuk mempersatukan siswa yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan.
d. Kegiatan manajemen kesiswaan haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan siswanya.
e. Kegiatan manajemen kesiswaan haruslah mendorong dan memacu kemandirian siswa.
f. Apa yang diberikan kepada siswa dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen kesiswaan haruslah fungsional bagi kehidupan siswa baik di sekolah lebih-lebih di masa depan.
5. Pendekatan Manajemen Kesiswaan
Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen kesiswaan (Yeager, 1994).
a. Pendekatan kuantitatif (the quantitative approach)
Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan demikian, siswa diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat siswa tersebut berada.
b. Pendekatan kualitatif (the qualitative approach)
pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar siswa senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika siswa senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah.

B. Perencanaan Manajemen Kesiswaan
Perencanaan kesiswaan adalah suatu aktivitas memikirkan di muka tentang hal-hal yang harus dilakukan berkenaan dengan siswa di sekolah, baik sejak siswa akan memasuki sekolah, selama di sekolah, maupun mereka akan lulus dari sekolah.
1. Langkah-langkah
langkah yang harus ditempuh dalam perencanaan kesiswaan adalah sebagai berikut :

a. Perkiraan
Yang dimaksud dengan perkiraan (forcasting) adalah menyusun suatu perkiraan kasar dengan mengantisipasi ke depan. Ada tiga dimensi waktu yang perlu diperhatikan yaitu :
1) Dimensi kelampauan
2) Dimensi kekinian
3) Dimensi keakanan
b. Perumusan Tujuan
Tujuan ini dapat dirumuskan secara berbeda-beda sesuai dengan sudut kepentingannya. Ada rumusan tujuan jangka panjang, kemudian dijabarkan ke dalam tujuan jangka menengah dan tujuan jangka pendek. Ada tujuan yang digolongkan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Ada juga rumusan tujuan final atau akhir yang dijabarkan ke dalam tujuan sementara. Di antara penjabaran dan penggolongan yang dipakai, tentu berdasarkan faktor kondisional dan situasional siswa di sekolah tersebut.
c. Kebijakan
Pada policy ini, kegiatan yang dapat dipergunakan untuk mencapai target perlu diidentifikasi sebanyak mungkin; karena semakin banyak, akan semakin representatif dalam rangka mencapai target.
d. Penyusunan Program
Penyusunan program adalah suatu aktivitas yang bermaksud memilih kegiatan-kegiatan yang sudah diidentifiksi dalam langkah kebijakan. Pemilihan demikian harus dilakukan, karena tidak semua kegiatan yang diidentifikasi tersebut nantinya dapat dilaksanakan.
e. Langkah-langkah
Ada tiga aktivitas dalam hal ini, ialah aktivitas pembuatan skala prioritas, aktivitas pengurutan dan aktivitas menyusun langkah-langkah kegiatan.
f. Penjadwalan
Kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan prioritasnya, urut-urutan dan langkah-langkahnya perlu dijadwalkan agar jelas siapa pelaksananya, dan dimana hal tersebut dilaksanakan.
g. Pembiayaan
Ada dua hal yang harus dilakukan dalam pembiayaan, yaitu:
1) Mengalokasikan biaya
Yang dimaksud dengan alokasi di sini adalah perincian mengenai biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan-kegiatan yang sudah dijadwalkan.
2) menentukan sumber biaya
Sumber biaya demikian perlu disebutkan secara jelas, agar mudah menggalinya. Ada sumber-sumber biaya yang bersifat primer dan ada sumber-sumber biaya yang termasuk sekunder.

C. Penerimaan siswa
1. Kebijakan
Bahwa agar seseorang diterima sebagai siswa suatu lembaga pendidikan seperti sekolah, haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan sebagaimana yang telah ditentukan.
1) Memuat aturan mengenai jumlah siswa yang dapat diterima di suatu sekolah. Penentuan mengenai jumlah siswa, tentu juga didasarkan atas kenyataan-kenyataan yang ada di sekolah (faktor kondisional sekolah). Faktor kondisional tersebut meliputi: daya tampung kelas baru, kriteria mengenai siswa yang dapat diterima, anggaran yang tersedia, prasarana dan sarana yang ada, tenaga kependidikan yang tersedia, jumlah siswa yang tinggal di kelas satu, dan sebagainya.
2) Memuat sistem pendaftaran dan seleksi atau penyaringan yang akan diberlakukan untuk siswa. Selain itu, kebijakan penerimaan siswa, juga berisi mengenai waktu pendaftaran, kapan dimulai dan kapan diakhiri. Selanjutnya, kebijakan penerimaan siswa harus juga memuat tentang personalia-personalia yang akan terlibat dalam pendaftaran, seleksi dan penerimaan siswa.
3) Kebijaksanaan penerimaan siswa ini dibuat berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Petunjuk demikian harus dipedomani, karena ia memang dibuat dalam rangka mendapatkan calon siswa sebagaimana yang diinginkan atau diidealkan.
2. Sistem
Ada dua macam sistem penerimaan siswa baru, yaitu :
a) Sistem promosi adalah penerimaan siswa, yang sebelumnya tanpa menggunakan seleksi. Mereka yang mendaftar sebagai siswa di suatu sekolah, diterima semua begitu saja. Sehingga mereka yang mendafar menjadi siswa, tidak ada yang ditolak.
b) Sistem seleksi ini dapat digolongkan menjadi tiga macam. Pertama, seleksi berdasarkan daftar nilai ujian nasional, yang kedua berdasarkan penelusuran minat dan kemampuan (PMDK), sedangkan yang ketiga adalah seleksi berdasarkan hasil tes masuk.

3. Kriteria
Ada tiga macam kriteria penerimaan siswa, yaitu :
1) kriteria acuan patokan (standard criterian referenced)
yaitu suatu penerimaan siswa yang didasarkan atas patokan-patokan yang telah ditentukan sebelumnya.
2) kriteria acuan norma (norm criterian referenced)
yaitu suatu penerimaan calon siswa yang didasarkan atas keseluruhan prestasi calon siswa yang mengikuti seleksi.
3) kriteria yang didasarkan atas daya tampung sekolah
sekolah terlebih dahulu menentukan berapa jumlah daya tampunya, atau berapa calon siswa baru yang akan diterima.
4. Prosedur
Prosedur penerimaan siswa baru adalah pembentukan panitia penerimaan siswa baru, rapat penentuan siswa baru, pembuatan, pemasangan atau pengiriman pengumuman, pendaftaran siswa baru, seleksi, penentuan siswa yang diterima, pengumuman siswa yang diterima dan registrasi siswa yang diterima.


D. Pengaturan orientasi
Orientasi adalah perkenalan. Perkenalan ini meliputi lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Lingkungan fisik sekolah meliputi prasarana dan sarana sekolah seperti jalan menuju sekolah, halaman sekolah, tempat bermain di sekolah, lapangan olah raga, gedung dan perlengkapan sekolah, serta fasilitas-fasilitas lain yang disediakan di sekolah. Sedangkan lingkungan sosial sekolah meliputi: kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan selain guru, teman sebaya seangkatan, dan siswa senior di sekolah. Lingkungan sosial sekolah tersebut adakalanya terorganisir dan adakalanya tidak terorganisir.
1. Tujuan dan fungsi
a. Tujuan
1) Agar siswa mengenal lebih dekat mengenai diri mereka sendiri di tengah-tengah lingkungan barunya.
2) Agar siswa mengenal lingkungan sekolah, baik lingkungan fisiknya maupun lingkungan sosialnya.
3) Pengenalan lingkungan sekolah demikian sangat penting bagi siswa dalam hubungannya dengan: 1) Pemanfaatan semaksimal mungkin terhadap layanan yang dapat diberikan oleh sekolah. 2) Sosialisasi diri dan pengembangan diri secara optimal. 3) Menyiapkan siswa secara fisik, mental dan emosional agar siap menghadapi lingkungan baru sekolah.
b. Fungsi
Adapun fungsi orientasi siswa adalah sebagai berikut:
1) Bagi siswa sendiri, orientasi siswa berfungsi sebagai: 1) Wahana untuk menyatakan dirinya dalam konteks keseluruhan lingkungan sosialnya. Di wahana ini siswa dapat menunjukkan: inilah saya kepada teman sebayanya. 2) Wahana untuk mengenal siapa lingkungan barunya, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan sikap.
1) Bagi personalia sekolah dan atau tenaga kependidikan, dengan mengetahui siapa siswa barunya, akan dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam memberikan layanan-layanan yang mereka butuhkan.
2) Bagi para siswa senior, dengan adanya orientasi ini, akan mengetahui lebih dalam mengenai siswa penerusnya di sekolah tersebut. Hal ini sangat penting terutama berkaitan dengan kepemimpinan estafet organisasi siswa di sekolah tersebut
2. Pekan orientasi
Adapun lingkungan sekolah yang diperkenalkan secara rinci tersebut adalah: peraturan dan tata tertib sekolah, guru dan personalia sekolah, perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah, bengkel sekolah, kafetaria sekolah, bimbingan dan konseling sekolah, layanan kesehatan sekolah, layanan asrama sekolah, orientasi program studi, cara belajar yang efektif dan efisien di sekolah dan organisasi kesiswaan.

E. Pengaturan Kehadiran
Carter V. Good (1981) memberi batasan kehadiran sebagai berikut:
The act of being present, particulary at school (certain court dicisions have defined attendance at school as not merely being bodily presence but incluiding actual participation in the work and activities orientasi the school).
Kehadiran siswa di sekolah (school attandence) adalah kehadiran dan keikutsertaan siswa secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidakhadiran adalah ketiadaan partisipasi secara fisik siswa terhadap kegiatan-kegiatan sekolah.
1. Sebab-Sebab Ketidakhadiran Siswa
Ada banyak sumber penyebab ketidakhadiran siswa di sekolah.
a. Keluarga
1) Kedua orang tuanya baik ayah maupun ibu, bekerja, anak jaga rumah.
2) Ada kegiatan keagamaan di rumah.
3) Ada persoalan di lingkungan keluarga.
4) Ada kegiatan darurat di rumah.
5) Adanya keluarga, famili dan atau handai taulan yang pindah rumah.
6) Ada kematian.
7) Letak rumah yang jauh dari sekolah
8) Ada keluarga yang sakit
9) Baju seragam yang tidak ada lagi.
10) Kekurangan makanan yang sehat.
b. Siswa sendiri
1) Lupa tidak bersekolah.
2) Moralnya tidak baik.
3) Terjadi perkelahian antar siswa.
4) Sakit yang tidak diketahui kapan sembuhnya.
5) Anggota kelompok siswa yang suka membolos.
6) Anak itu sendiri yang memang suka membolos.
7) Prestasinya lemah
c. Sekolah
1) Lokasi sekolah yang tidak menyenangkan.
2) Program sekolah yang tidak efektif.
3) Terlalu sedikit siswa yang masuk.
4) Biaya sekolah yang terlalu mahal.
5) Transportasi sekolah yang tidak memadai.
6) Kurangnya fasilitas sekolah.
7) Kurangnya bimbingan dari guru baik secara individual maupun secara kelompok kepada siswa.
8) Program yang ditawarkan oleh sekolah kepada siswa tidak menarik.
9) Suasana sekolah yang tidak kondusif.
2. Siswa yang Membolos, Datang Terlambat dan Meninggalkan Sekolah
Ada beberapa jenis ketidakhadiran siswa di sekolah. Pertama, ketidakhadiran tanpa memberi ijin, atau yang dikenal dengan membolos (truency). Kedua, ketidakhadiran beberapa jam pelajaran karena terlambat (tardiness). Ketiga, ketidakhadiran dengan ijin (permission).
3. Pendekatan Peningkatan Kehadiran Siswa
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kehadiran siswa di sekolah adalah dengan melihat kasus per kasus. Sebab, antara siswa satu dengan siswa yang lain, mempunyai masalah-masalah yang berbeda. Sungguhpun demikian, upaya secara massal untuk meningkatkan siswa dapat dilakukan dengan memperhatikan sumber-sumber penyebab ketidakhadiran siswa di sekolah seperti: perbaikan lingkungan rumah, perbaikan lingkungan sekolah, perbaikan diri siswa sendiri, dan perbaikan lingkungan masyarakat.

F. Pengaturan disiplin
1. Urgensi dan Makna Kedisiplinan
The Liang Gie (1972) memberikan pengertian disiplin sebagai berikut: “Disiplin adalah suatu keadaan tertib di mana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati”.
Good’s (1959) Dalam Dictionary of Education mengartikan disiplin sebagai berikut:
a.Proses atau hasil pengarahan atau pengendalikan keinginan, dorongan atau kepentingan guna mencapai maksud atau untuk mencapai tindakan yang lebih sangkil.
b. Mencari tindakan terpilih dengan ulet, aktif dan diarahkan sendiri, meskipun menghadapi rintangan.
c. Pengendalian perilaku secara langsung dan otoriter dengan hukuman atau hadiah.
d. Pengekangan dorongan dengan cara yang tak nyaman dan bahkan menyakitkan.

Webster’s New World Dictionary (1959) memberikan batasan disiplin sebagai: Latihan untuk mengendalikan diri, karakter dan keadaan secara tertib dan efisien. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut kiranya jelas, pengertian disiplin siswa adalah suatu keadaan tertib dan teratur yang dimiliki oleh siswa di sekolah, tanpa ada pelanggaran-pelanggaran yang merugikan baik secara lansung maupun tidak langsung terhadap siswa sendiri dan terhadap sekolah secara keseluruhan.
2. Pengelompokan disiplin
Ada tiga macam disiplin, yaitu :
a) Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep otoritarian. siswa diharuskan mengiyakan saja terhadap apa yang dikehendaki guru, dan tidak boleh membantah.
b) Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep permissive. Aturan-aturan di sekolah dilonggarkan dan tidak perlu mengikat kepada siswa. Siswa dibiarkan berbuat apa saja sepanjang itu menurutnya baik.
c) Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali atau kebebasan yang bertanggung jawab.
3. Teknik pembinaan
Berdasarkan tiga konsep disiplin tersebut, kemudian dikemukakan teknik-teknik alternatif pembinaan disiplin siswa.
1) External control.
Teknik ini meyakini kebenaran akan teori X, yang mempunyai asumsi-asumsi tak baik mengenai manusia. Karena tak baik, mereka senantiasa diawasi dan dikontrol terus, agar tidak terjerembab ke dalam kegiatan-kegiatan yang destruktif dan tidak produktif
2) Inner control
Teknik ini mengupayakan agar siswa dapat mendisiplinkan dari mereka sendiri. Siswa disadarkan akan arti pentingnya disiplin. Sesudah sadar, ia akan mawas diri dan berusaha mendisiplinkan diri sendiri.
3) cooperatit control
Pendidik dan siswa harus saling bekerjasama dengan baik dalam menegakkan disiplin. Guru dan siswa lazimnya membuat semacam kontrak perjanjian yang berisi aturan-aturan kedisiplinan yang harus ditaati bersama-sama. Sangsi atas pelanggaran disiplin juga ditaati dan dibuat bersama.

G. Pengaturan Pengelompokan siswa
1. Urgensi Pengelompokan
Kesamaan-kesamaan yang ada pada siswa melahirkan pemikiran penempatan pada kelompok yang sama, sementara perbedaan-perbedaan yang ada pada siswa melahirkan pemikiran pengelompokan mereka pada kelompok yang berbeda. Jika perbedaan antara siswa satu dengan yang lain dicermati lebih mendalam, akan didapati perbedaan antara individu dan perbedaan intra individu. Perbedaan antar siswa dan intra siswa ini mengharuskan layanan pendidikan yang berbeda terhadap mereka. Alasan pengelompokansiswa juga didasarkan atas realitas bahwa siswa secara terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan siswa satu dengan yang lain berbeda.
2. Makna Pengelompokan
Pengelompokan atau grouping adalah pengelompokan siswa berdasarkan karakteristik-karakteristiknya. Dengan adanya pengelompokan siswa juga akan mudah dikenali. Sebab, tidak jarang, siswa di dalam kelas, berada dalam keadaan heterogen dan bukannya homogen. Adapun alat ukur yang lazim dipergunakan untuk membedakan siswa antara lain adalah tes. Dalam hal ini, banyak tes yang dapat dipergunakan untuk membedakan siswa. Tes kemampuan umum seperti tes kemampuan verbal dan numerikal, dapat dipergunakan untuk membedakan kemampuan umum siswa.
3. Jenis-Jenis Pengelompokan Siswa
Mitchun (1960) mengemukakan dua jenis pengelompokan siswa. Yang pertama, ia namai dengan ability grouping, sedangkan yang kedua ia namai dengan sub-grouping with in the class. Yang dimaksud ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan di dalam setting sekolah. Sedangkan sub- grouping with in the class adalah pengelompokan dalam setting kelas.
Adapun kelompok-kelompok kecil pada masing-masing kelas demikian dapat dibentuk berdasarkan karakteristik individu. Ada beberapa macam kelompok kecil di dalam kelas ini, yaitu:
a. Pengelompokan Berdasarkan Minat (Interest Grouping)
Siswa yang berminat pada pokok bahasan tertentu, pada kegiatan tertentu, pada topik tertentu atau tema tertentu, membentuk ke dalam suatu kelompok.
b. Pengelompokan Berdasarkan Kebutuhan Khusus (Special Need Grouping)
special need grouping adalah pengelompokan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan khusus siswa. Siswa yang sebenarnya sudah tergabung dalam kelompok-kelompok, dapat membentuk kelompok baru untuk belajar ketrampilan khusus.
c. Pengelompokan Beregu (Team Grouping)
Team grouping adalah suatu kelompok yang terbentuk karena dua atau lebih siswa ingin bekerja dan belajar secara bersama memecahkan masalah-masalah khusus.
d. Pengelompokan Tutorial (Tutorial Grouping)
Tutorial grouping adalah suatu pengelompokan di mana siswa bersama-sama dengan guru merencanakan kegiatan-kegiatan kelompoknya.
e. Pengelompokan Penelitian (Research Grouping)
research grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih siswa menggarap suatu topik khusus untuk dilaporkan di depan kelas.
f. Pengelompokan Kelas Utuh (Full-Class Grouping)
ful-class grouping adalah suatu pengelompokan di mana siswa secara bersama-sama mempelajari dan mendapatkan pengalaman di bidang seni.
g. Pengelompokan Kombinasi (Combined Class Grouping)
combined class grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih kelas yang dikumpulkan dalam suatu ruangan untuk bersama-sama menyaksikan pemutaran film, slide, TV dan media audio visual lainnya.

H. Pengaturan Sistem Tingkat dan Sistem Tanpa Tingkat
1. Sistem tingkat
a. Alasan dan Batasan Sistem Tingkat
Sistem tingkat lebih mengarah pada pengajaran klasikal. Pemikiran ini berangkat dari pandangan adanya kesamaan-skesamaan siswa dalam banyak hal. Kesamaan-kesamaan yang ada pada siswa tersebut, melahirkan perlunya mereka dikumpulkan pada tingkat yang sama.
b. Beberapa Pertimbangan Kenaikan Tingkat
Persyaratan yang harus dipertimbang-kan:
1) Prestasi yang bersangkutan. Apakah prestasi yang dicapai pada tingkat sebelumnya, memungkinkan kepada yang bersangkutan untuk dapat belajar dengan baik pada tingkat atasnya.
2) Waktu kenaikan tingkat. Meskipun mungkin siswa mempunyai kemampuan untuk dinaikkan, jika masa kenaikan tingkat belum datang, yang bersangkutan tidak mungkin dinaikkan sendiri.
3) Persyaratan administratif sekolah seperti kecukupan hadir siswa dalam pelajaran yang dilaksanakan sekolah.
c. Kelebihan-kelebihan sistem tingkat adalah sebagai berikut:
1) Dapat dijadikan sebagai alat untuk merekayasa belajar siswa.
2) Efisien, karena sistem tingkat menggunakan sistem pembelajaran klasikal.
3) Rasa sosial siswa tetap tinggi, karena mereka sama-sama mendapatkan materi pembelajaran yang sama di tingkatnya.
4) Pengadministrasiannya mudah, karena mereka berada dalam satu tingkat, mengambil program pendidikan yang sama.
d. Kekurangan sistem tingkat ini adalah sebagai berikut:
1) Siswa yang tidak naik tingkat akan menghadapi persoalan-persoalan akademik dan psikologis.
2) Siswa yang pandai tidak sabar menunggu siswa lain yang ke-mampuannya lebih rendah.
3) Kurang adanya kompetisi di antara siswa, sehingga tidak begitu baik dalam rangka menimbulkan semangat kompetisi di antara siswa.
4) Hanya menguntungkan perkembangan siswa yang menengah, karena merekalah yang menjadi ukuran pelaksanaan proses belajar mengajar.
2. Sistem Tanpa Tingkat
Pada sistem tanpa tingkat ini, sekelompok siswa yang memprogram mata pelajaran sama, dikelompokkan ke dalam satu tempat yang sama dan diajar oleh guru yang sama. Jika siswa telah dapat menyelesaikan program yang telah ditawarkan, maka yang bersangkutan dianggap lulus dari program tersebut.
a. Kelebihan Tanpa Tingkat
1) Siswa dapat berkembang seoptimal mungkin menurut irama perkembangan-nya sendiri, tanpa terhambat oleh siswa lainnya.
2) Siswa dapat mengambil paket program sesuai dengan minat dan kesempatan.
3) Siswa yang pandai akan lebih cepat menyelesaikan program sehingga lebih cepat pula melanjutkan studi.
4) Melatih kemandirian siswa
b. Adapun kekurangan-kekurangan sistem tanpa tingkat ini adalah sebagai berikut:
1) Siswa sejak dini banyak memacu prestasi secara individual
2) Oleh karena siswa diharuskan mengambil keputusan secara mandiri mengenai paket program yang akan diambil, maka ia perlu tenaga staf tambahan yang berupa penasihat akademik
3) Sangat sulit pengadministrasiannya, karena segalanya bergantung siswa yang mengambil paket program.

I. Pengaturan Organisasi Siswa
Guna penyaluran siswa pada organisasi siswa, maka pada bagian ini akan dikedepankan tentang:
1. Identifikasi Potensi Siswa
Tes IQ lazimnya dirancang untuk memastikan kemampuan-kemampuan intelektual kandidat. Jenis kemahiran yang dijaring, selain meliputi kemampuan verbal, kemampuan berhitung (numerical), kecepatan perceptual, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruang dan ingatan (memori).
2. Mengelola Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya mengembangkan bakat, minat, kreativitas, dan kemampuan siswa, yakni potensi besar yang harus difasilitasi dengan baik oleh sekolah.
a. Mengembangkan Bakat, Minat, Kreativitas, dan Kemampuan
Potensi dasar yang dibawa sejak lahir oleh siswa tentu saja sangat beragam. Walaupun demikian, dasar setiap siswa mendapat perhatian dan layanan, dalam kondisi yang saling berbeda itu sedapat mungkin semuanya mendapat saluran pengembangan diri..
b. Menyiapkan Perangkat Pemantau Bakat, Minat, Kreativitas, dan Kemampuan Siswa
Perangkat yang paling sederhana adalah lembar-lembar catatan. Selain catatan, bakat, minat dan kreativitas serta kemampuan juga dapat dipantau dengan daftar isian atau angket.
Perangkat lain pemantau bakat, minat, kreativitas, dan kemampuan adalah tes. Testing bisa berupa tulis, lisan, atau bahkan perbuatan.
c. Menyelenggarakan Wahana Penuangan Kreativitas
Mengingat orang tua siswa pada umumnya lebih banyak memintakan bimbingan tersebut kepada pihak sekolah, sekolah harus bersiap diri dalam menyelenggarakan wahana berbagai penuangan bakat, minat, kreativitas, dan kemampuan anak didik. Beberapa wahana yang bisa diselenggarakan oleh sekolah antara lain meliputi bidang-bidang olah raga, kesenian, dan keterampilan.
d. Mewadahi/Menyalurkan Bakat, Minat, dan Kreativitas Siswa
Menyalurkan bakat, minat, dan kreativitas siswa berarti menciptakan daya dukung agar siswa yang memiliki bakat, minat, dan kreativitas.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk itu:
1) Mendata bakat, minat, kreativitas anak.
2) Mengklasifikasi data sesuai bakat, minat, dan kreativitas siswa.
3) Menyusun program atau jadwal
4) Mengalokasikan dana.
5) Menyediakan sarana yang dibutuhkan.
6) Merencanakan penampilan karya/berpentas.
7) Melakukan evaluasi.
e. Melaksanakan Pemantauan Kemampuan Siswa untuk Menyelaraskan Diri dengan Potensi Siswa
Setiap kegiatan dalam bentuk apa pun terbagi dalam tiga kriteria besar, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Langkah awal dari penilaian atau evaluasi adalah pantauan. Pantauan berupa upaya untuk mengetahui, berperan untuk ceking apakah kemampuan seseorang siswa dalam berbagai bidang sebagaimana yang telah dilayani penyalurannya oleh sekolah berjalan lancar. Di sisi lain pemantauan ini mempunyai fungsi untuk menentukan kebijakan penanganan pada tahap berikutnya terlebih-lebih demi sukses program yang telah dilaksanakan.
3. Pengaturan terhadap Kegiatan Ekstra Kelas
Gorton (1991) menyebut kegiatan ekstra kelas dengan istilah spesific student activity program (program kegiatan khusus peserta didik). Menurut Gorton, kegiatan khusus tersebut, terdiri atas: program kegiatan olah raga (the atletic program), dewan siswa (thestudent council), dan Koran peserta didik (the student newspaper).
Kontribusi kegiatan ekstra kelas terhadap siswa adalah:
a. to provide opportunities for the persuit of established interests and the development of new interest).
b. to educate for citizenship through experiences and insight that stress leadership, fellowship, cooperation, and independent action).
c. to develop school spirit and morale.
d. to provide opportunities to satisfying the gragorious urge of childrend and youth.
e. to encourage moral and spiritual development.
f. to strengthen the mental and physical health of student
g. to provide for a well rounded of student
h. to widen student contact
i. to provide opportunities for student to exercize their creative capacities more fully.
Kontribusi kegiatan ekstra kelas terhadap perbaikan kurukulum, menurut Burrup adalah sebagai berikut:
a. to supplement or enrich classroom experiences).
b. to explore new learning experiences which may ultimately be incorporated into curriculum.
c. to provide additional opportunity for individual and group guidance).
d. to motivate classroom instruction.
Kontribusi kegiatan ekstra kelas terhadap keefektifan administrasi sekolah, menurut Burrup adalah sebagai berikut:
a. to foster more effective team work betwen student, faculty, and administrative and supervisory personnel).
b. to integrate more closely the several divisions of the school).
c. to provide less restricted opportunities designed to assist youth in the worth–while utilixation of their spare time
d. to enable teachers to better understand the forces that motivate pupils to react as the to many of the problematic situation with which they are confronted.
Kontrubusi kegiatan ekstra kelas terhadap masyarakat, menurut Burrup, antara lain adalah sebagai berikut:
a. to promote better school and community relation).
b. to encourage greater community interest in an support of the school.
4. Pengaturan terhadap Organisasi Peserta Didik
Beberapa macam organisasi peserta didik antara lain adalah: (1) organisasi siswa intra sekolah, dan (2) organisasi alumni.
a. OSIS
Melalui organisasi, siswa dapat berlatih berorganisasi, kepemimpinan dan menggerakkan orang lain guna mencapai tujuan yang ditetapkan bersama, berlatih merencanakan kegiatan, mengorganisasikan kegiatan, mengkooordinasi kegiatan, menggerakkan SDM dan mengendalikan kegiatan secara bersama-sama dengan peer group-nya.
b. Organisasi Alumni
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang mempunyai akuntabilitas dan responsibilitas terhadap lulusannya, atau yang lazim disebut dengan alumni. Mantan mantan siswa, masih perlu mendapatkan sentuhan secara terus menerus dari sekolah, Sustainabelitas layanan pendidikan kepada para alumni ini harus tetap dipikirkan oleh sekolah.

BAB III
PENUTUP

A. KeSimpulan
Manajemen kesiswaan dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap siswa mulai dari siswa tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Bahasannya antara lain: (1) Konsep dasar manajemen kesiswaan yang memaparkan tentang latar belakang, tujuan, fungsi, prinsip, dan pendekatan. (2) Perencanaan manajemen kesiswaan memikirkan hal-hal yang harus dilakukan berkenaan dengan siswa di sekolah, baik sejak siswa akan memasuki sekolah, selama di sekolah, maupun mereka akan lulus dari sekolah. (3) Penerimaan siswa yang mempunyai Kebijakan, Sistem, Kriteria, Prosedur (4) Pengaturan orientasi yang merupakan pengenalan lingkungan baru bagi siswa yang membahas juga tentang Alasan dan batasan, Tujuan dan fungsi dari orientasi. (5) Pengaturan Kehadiran yang membahas tentang pentingnya kehadiran siswa, Batasan kehadiran dan ketidakhadiran, Sebab-Sebab Ketidakhadiran Siswa yang bisa dating dari Keluarga, Sendiri, Sekolah, Masyarakat. Dibahas juga Siswa yang Membolos, Datang Terlambat dan Meninggalkan Sekolah, Pendekatan Peningkatan Kehadiran Siswa. (6) Pengaturan disiplin, dengan mengemukakan Urgensi dan Makna Kedisiplinan, Pengelompokan disiplin, Teknik pembinaan. (7) Pengaturan Pengelompokan siswa, dimana aktivitas berkelompok sangat penting, yang membahas Urgensi Pengelompokan, Makna Pengelompokan, Jenis-Jenis Pengelompokan Siswa (8) Pengaturan Sistem Tingkat dan Sistem Tanpa Tingkat yang hyang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing – masing. (9)Pengaturan Organisasi Siswa yang meliputi Identifikasi Potensi Siswa, Mengelola Kegiatan Ekstrakurikuler, Pengaturan terhadap Kegiatan Ekstra Kelas, Pengaturan terhadap Organisasi Peserta Didik.
B. Saran
1. Pemerintah harusnya semakin memberikan perhatian terhadap manajemen kesiswaan, sehingga senantiasa ada peningkatan dalam mutu manajemen kesiswaan yang akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan.
2. Praktisi pendidikan diharapkan makin memberikan perhatian dan kajian - kajian tentang pengembangan manajemen kesiswaan untuk memperoleh pengelolaan siswa yang efektif.
3. Para calon manajer pendidikan diharapkan mampu untuk senantiasa mengkaji perkembangan manajemen kesiswaan untuk diambil pelajaran dan kefektifan untuk praktek manajemen pendidikan khususnya tentang kesiswaan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1986. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: Rajawali Pers.

Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. Siagian, Sondang P. 1978. Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.

Knezevich, Stephen J. 1961. Administration of Public Education. New York: Harper and Brothers Publisher.

Good, V. Carter. 1959. Dictionary of Education. New York: McGraw-Hill Book Company.

Indrakusuma, Amir Daien. 1987. Administrasi Kesiswaan. Malang: Jurusan AP FIP

Sahertian, Piet A. 1982. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah. Malang: Jurusan IKIP Malang

Sahertian, Piet A. 1979. Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

The Liang Gie. 1972. Kamus Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.

Yeager, William A. 1994. Administration and The Pupil. New York: Harper and Brothers.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar