Senin, 06 Februari 2012

PENELITIAN DESKRIPTIF

Sesuai dengan nama jenis penelitiannya, penelitian desktiptif ditandai adanya upaya untuk mengetahui kondisi sesuatu, baik itu berupa situasi atau keadaan, mutu atau kualitas kinerja seseorang, atau kaitan antara dua kondisi yang berupa hubungan atau perbandingan. Dengan demikian laporan enelitian deskriptif berupa paparan tentang kondisi sesuatu yang dapat menunjukkan kualitas, sehingga dari kualitas tersebut pembaca laporan dapat memperoleh manfaat, mungkin berupa pancingan untuk memikirkan tindak lanjut demi penyempurnaan kualitas kondisi sesuatu yang dipaparkan.
• JENIS-JENIS PENELITIAN DESKRIPTIF
Ada beberapa bentuk penelitian deskriptif, tetapi dalam pembicaraan ini hanya disebutkan tiga jenis saja yang sering muncul dalam KTI, yaitu (a) penelitian deskriptif biasa, (b) penelitian deskriptif korelasi, dan (c) penelitian deskriptif komparasi.

1. Contoh Penelitian Deskriptif Biasa
Penelitian deskriptif biasa adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memaparkan keadaan yang ingin disampaikan oleh pengawas, berupa gambaran tentang keadaan yang menjadi keprihatinan atau ketidakpuasan. Sampai kapanpun tentu ada saja hal-hal yang masih belum seperti apa yang diharapkan. Sebagai contoh objek yang dapat diteliti dengan penelitian deskriptif biasa adalah (a) keadaan perpustakaan, (b) laboratorium, (c) koperasi sekolah, (4) kebersihan kamar kecil. Objek-objek tersebut masih dapat dirinci, misalnya kalau perpustakaan tentang penataan ruangan dan buku, peminjaman, layanan petugas kepada pemakai, dan lain-lain. Setiap bagian objek ini dapat diteliti secara terpisah, sehingga pengawas dapat meneliti dengan banyak judul. Sebaiknya yang menjadi objek amatan oleh pengawas bukan hanya satu skeolah saja tetapi beberapa sekolah yang menjadi tanggunjawab pembinaannya. Sebagaimana contoh yang sudah diberikan, penelitian deskriptif biasa dilakukan untuk memotret aspek-aspek
yang menjadi bukti kualitas baik. Aspek-aspek tersebut dijadikan butir-butir pertanyaan dalam angket atau pedoman wawancara atau pedoman pengamatan. Data yang diperoleh lalu diolah atau dianalisis, diambil kesimpulannya, kemudian dilaporkan dalam bentuk KTI berupa laporan penelitian deskriptif biasa.
2. Contoh Penelitian Deskriptif Korelasi Pada umumnya penelitian deskriptif korelasi ini dapat dikatakan tidak ada manfaatnya, dan kalau pun ada, nilai kemanfaatannya sangat sedikit karena hanya untuk tahu saja. Hasil penelitian dikatakan ada manfaatnya kalau sesudah hasil diperoleh, peneliti dapat melakukan sesuatu supaya untuk peningkatan keadaan atau kejadian yang diteliti. Sudah banyak di antara KTI dalam bentuk laporan penelitian yang dibuat dan diusulkan oleh pengawas tetapi tidak tepat. Sebagai alasan mengapa penelitian seperti itu tidak dapat dinilai adalah karena dalam penelitian-penelitian tersebut pengawas hanya membuat angket, kemudian hasilnya dikorelasikan dengan nilai guru yang dihasilkan oleh pengawas ketika supervisi. Laporan hasil penelitian yang seperti ini tidak dapat dinilai karena pengawas tidak melakukan pengembangan profesi, artinya tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat meningkatkan kemampuannya, tetapi hanya membuat angket saja. Sebaiknya pengawas juga memberi pembinaan kepada guru-guru yang melakukan penelitian deskriptif korelasi seperti ini. Guru mempunyai asumsi bahwa siswa yang mendapat perhatian besar dari orangtuanya akan mempunyai prestasi belajar yang tinggi. Guru membuat
angket untuk siswa, menanyakan seberapa tinggi perhatian orangtua kepadanya. Hasil angket dikorelasikan dengan nilai rapor. Dalam hal ini guru tersebut juga tidak melakukan apa-apa kecuali hanya membuat angket. Para pengawas disarankan untuk memberi penyuluhan kepada
guru-guru agar tidak lagi melakukan penelitian deskriptif korelasi seperti itu. Contoh lain dari penelitian deskriptif korelasi adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memaparkan adanya
hubungan antara dua keadaan, misalnya antara kerajinan guru membaca pedoman dengan prestasi mengajar. Dari hasil pengamatan terhadap guru, pengawas menyimpulkan bahwa guru yang rajin membaca pedoman, cara mengajarnya baik. Pengawas ini ingin membuktikan
apakah memang ada hubungan atau korelasi antara kerajinan guru membaca pedoman dengan prestasi mengajar. Pengawas tersebut lalu membuat angket, untuk menanyakan kepada guru tentang kerajinan membaca dan tingkat pemahaman mereka terhadap pedoman. Setelah hasil angket diperoleh, lalu dikorelasikan dengan nilai mengajar hasil supervisi. Penelitian seperti ini tidak dapat dinilai karena sebetulnya pengawas tidak melakukan apa-apa kecuali hanya dua hal, yaitu membuat angket untuk mengetahui kerajinan guru dalam membaca dengan nilai prestasi mengajar yang sudah ada. Dalam penelitian ini tidak terlihat adanya upaya pengawas untuk
meningkatkan profesinya. Selain ditolak karena pengawas tidak melakukan apa-apa, penelitian ini juga tidak dapat dinilai karena hasilnya sudah jelas. Dengan cepat dapat ditebak, guru yang rajin membaca meningkatkan kemampuan, pasti prestasi mengajarnya tinggi.
3. Contoh Penelitian Deskriptif Komparasi
Yang dimaksud dengan penelitian deskriptif komparasi
adalah penelitian yang dimaksudkan untuk
membandingkan kondisi dua hal. Banyak KTI pengawas
yang menulis laporan penelitian deskriptif komparasi tetapi
tidak dapat dinilai karena membandingkan kemampuan
kelompok guru yang mempunyai ijasah S1 dengan yang
berijasah Akta Mengajar saja. Apa yang dilakukan oleh
pengawas dalam penelitian ini adalah hanya
mengelompokkan guru-guru yang berijasah S1 dalam
kelompok A dan guru-guru yang berijasah Akta Mengajar
dalam kelompok B. Prestasi mengajar mereka dicari rata-
caratnya, lalu dibandingkan dengan rumus statistik t-test.
Contoh penelitian komparasi yang tidak baik lagi adalah
apabila peneliti ingin memaparkan hasil perbandingan
kemampuan mengajar guru antara dua kelompok yang
memiliki perbedaan status, misalnya antara guru yang
aktif menghadiri KKG atau MGMP dengan yang tidak rajin.
Tidak usah diteliti pun peneliti sudah dapat menerka
hasilnya, pasti yang rajin akan lebih baik mengajarnya
daripada yang tidak pernah datang.
Bukan rahasia lagi bahwa saat ini masih banyak guru yang
diberi tugas mengajar sesuatu mata pelajaran yang tidak
sesuai dengan latar belakang pendidikannya (mismatch).
Seorang pengawas ingin membuktikan apakah kenyataan
yang terjadi di lapangan dapat memang seperti dugaan
tersebut. Pengawas melakukan penelitian dengan
membandingkan guru mismatch dikelompokkan menjadi
satu – sebagai kelompok 1--, demikian juga guru yang
mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya
(match sebagai kelompok 2. Rata-rata nilai mengajar
hasil supervisi kelompok 1 dan 2 dibandingkan dengan
rumus t-test.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar